Akhirnya sampai juga saya ke posting terakhir untuk seri video Dr. Tae ini. Setelah empat posting sebelumnya (1, 2, 3, 4) membahas tentang masalah, di posting ini saya akan rangkum beberapa solusi yang ditawarkan Dr. Tae. Btw, ia tidak menawarkan obat dewa yang sanggup menghapus semua masalah sistem pendidikan yang kacau balau. Permasalahan pendidikan begitu kompleks sehingga membutuhkan kesadaran dan perubahan yang diusahakan oleh seluruh stakeholder dunia pendidikan. Maka dibutuhkan kumpulan solusi yang integral.

Beberapa solusi yang ia tawarkan tentu adalah berupa kebalikan dari penyebab masalah yang sudah ia sebutkan. Yang pertama adalah format persekolah harus menyesuaikan dengan cara alami kita belajar. Lah, ini kan sudah jelas ya, semua juga tahu. Kalau sudah tahu, kenapa sekolah kita belum berubah.

Pada kenyataannya banyak di antara kalangan pendidikan yang tidak mempelajari dan mengetahui cara alami seorang manusia belajar. Ada banyak referensi soal ini, yang paling terkini dan diakui adalah buku Brain Rules karya John Medina. Dalam buku itu disebutkan kenapa sistem persekolahan saat ini adalah yang paling tidak cocok dengan cara kerja alami otak, serta beberapa usulan perbaikan yang bisa dicoba.

Dr. Tae juga mengusulkan agar para pengelola lembaga pendidikan merekruit guru-guru yang baik, yang tidak hanya melakukan “teaching to the test” selama mereka mengajar. Ini bisa jadi masalah di Indonesia, karena profesi guru bukanlah profesi yang menarik. Namun inisiatif-inisiatif untuk mengatasi masalah kurangnya guru berkualitas ini mulai bermunculan di Indonesia. Salah satu yang layak kita apresiasi adalah gerakan Indonesia Mengajar yang “menantang” lulusan-lulusan terbaik perguruan tinggi untuk mengajar di daerah-daerah terpencil di Indonesia selama 1-2 tahun.

Yang menarik juga, Dr. Tae mengusulkan suatu inisiatif yang ia namai Distributed Teaching untuk mengatasi masalah kurangnya guru berkualitas.  Istilah ini ia adopsi dari istilah Distributed Computing, yaitu konsep dalam dunia teknologi informasi yang menyatakan bahwa ribuan komputer biasa yang saling terhubung dan dimanfaatkan untuk melakukan proses tertentu selama masa idle bisa jadi akan lebih kuat daripada satu super-komputer dengan kemampuan ribuan kali komputer biasa yang dialokasikan khusus untuk melakukan proses yang sama.

Jadi dia usulkan ini: bagaimana kalau semua orang melakukan sedikit proses pengajaran part-time di waktu yang bisa mereka luangkan? Hmm… menarik, tapi sepertinya ribet ya? Bagaimana cara menjalankan distributed teaching? Tentu saja jawabannya ada di… internet. Internet yang selama ini telah digunakan untuk distributed computing juga bisa (dan sudah) digunakan untuk distributed teaching. Berbagai situs web 2.0 di mana penggunanya saling menyumbangkan konten selama ini juga telah dimanfaatkan untuk saling berbagi pembelajaran. Misalnya, situs YouTube untuk sharing video. Kita bisa temukan banyak video gratis di mana orang-orang yang ahli di bidang tertentu berbagi ilmu dan informasi tentang hal yang mereka kuasai itu. Atau situs kolaboratif Wikipedia yang memiliki artikel lebih banyak (dan lebih akurat) daripada ensiklopedia tradisional. Atau ada juga situs (saya lupa namanya) di mana semua orang dari seluruh dunia bisa menjadi pengajar bahasa asing bagi anak-anak di seluruh dunia pula. Misalnya, saya bisa melamar untuk menjadi pengajar bahasa Indonesia bagi anak dari seluruh dunia. Mereka tinggal membuat janji dengan saya di situs itu untuk bercakap-cakap dengan menggunakan VOIP (telepon via internet) pada waktu-waktu tertentu. Luar biasa bukan?

Distributed teaching juga tidak harus dilakukan via internet. Sudah ada pula gerakan-gerakan relawan pendidikan di luar negeri di mana para relawan mengadakan sekolah kilat, misalnya selama libur musim panas, di berbagai negara. Contohnya, beberapa ilmuwan dari beberapa negara berkumpul mengadakan Space Camp di Korea Selatan pada pertengahan tahun 2010 yang lalu. Para pakar dan praktisi ini berbagi ilmu langsung kepada murid-murid yang tidak mereka kenal.

Ini benar-benar solusi yang besar dan sulit dilaksanakan ya? Saya setuju bahwa distributed teaching ini memerlukan perubahan mendasar, yaitu perubahan budaya. Makanya Dr. Tae memberi judul presentasinya “Membangun Budaya Mengajar dan Belajar”. Ia berkata bahwa sudah saatnya kita mengubah paradigma mendasar tentang berbagi ilmu. Ilmu itu bila dibagi tidak akan berkurang, justru menambah pemahaman si pemiliknya. Secara sukarela berbagi ilmu kepada generasi muda perlu dijadikan budaya demi kebaikan kolektif.

Apakah ini solusi sulit? Jelas… Tapi ketika saya melihat inisiatif luar biasa seperti Indonesia Mengajar dan Akademi Berbagi, saya menjadi optimis bahwa sulit bukan berarti tidak mungkin dan tidak layak dicoba. Memang perlu ada koordinasi untuk gerakan seperti distributed teaching ini. ***