Oleh: Hendra Gunawan – FMIPA, ITB

[Catatan: Tulisan ini merupakan tulisan versi panjang dari artikel berjudul “Perguran Tinggi Berkualitas” yang dimuat di Kompas, 19 Agustus 2013.]

Pada bulan Juli 2013, Kompas mengetengahkan beberapa artikel tentang perguruan tinggi. Berkenaan dengan melorotnya peringkat perguruan tinggi kita menurut Quacquarelli Survey (QS) baru-baru ini, Eko Nugroho menjelaskan beberapa tolok ukur yang dipakai oleh QS dan urgensi pemeringkatan perguruan tinggi pada skala global (Kompas, 15/7/13). Selanjutnya, terkait dengan upaya Pemerintah meningkatkan kinerja perguruan tinggi kita, Syamsul Rizal mempertanyakan jumlah dana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) dan korelasinya dengan jumlah publikasi internasional yang dihasilkan PTN penerima dana tersebut (Kompas, 16/7/13).

Kedua tulisan di atas membuat saya merenung. Tulisan ini merupakan hasil renungan tersebut, terkait dengan permasalahan yang lebih mendasar di balik berbagai upaya dan kinerja yang ditunjukkan oleh perguruan tinggi kita.

***

Sekitar 10 tahun silam, istri saya menanam tiga pohon palem botol yang ukurannya masih kecil. Ditanam berdekatan di halaman rumah, ketiganya tumbuh membesar secara perlahan. Walau kami tidak membedakan perlakuan terhadap ketiga pohon tersebut, dua di antaranya tumbuh lebih besar daripada yang ketiga. Semakin diamati, semakin tampak perbedaannya. Kami pun memberi perhatian lebih kepada pohon terkecil, namun upaya kami sia-sia. Pohon tersebut tetap kecil, jauh lebih kecil daripada dua pohon lainnya.

Perguruan tinggi kita kebanyakan didirikan beberapa puluh tahun yang lalu, kurang lebih bersamaan waktunya dengan perguruan tinggi di negara tetangga yang juga baru mengecap kemerdekaan pada pertengahan abad yang lalu. Pada tahun 1970-an, sekelompok dosen kita sempat membantu pengembangan sebuah perguruan tinggi di Malaysia. Namun, waktu pun berjalan, dan melalui berbagai pemeringkatan perguruan tinggi yang dilakukan oleh sejumlah lembaga survey internasional belakangan ini, kita disadarkan bahwa perguruan tinggi kita sekarang telah (cukup jauh) tertinggal di belakang perguruan tinggi negeri jiran.

Secara internal, beberapa pengukuran kinerja perguruan tinggi gencar dilakukan, misalnya melalui akreditasi program studi dan akreditasi institusi, serta pemantauan produktivitas penelitian perguruan tinggi dan penerapan sistem penjaminan mutu internal di masing-masing perguruan tinggi. Namun hasilnya hanya mengukuhkan bahwa perguruan tinggi kita pada umumnya memang bermasalah.

Berbagai upaya pun sebetulnya telah dilakukan sejak 1990-an, antara lain berupa program pengembangan institusi (dengan skema hibah kompetitif), internasionalisasi jurnal ilmiah, sertifikasi dosen, beasiswa bidik misi, dan yang terkini adalah BOPTN. Hasilnya tentu tidak bisa kita tagih dalam waktu dekat, namun saya kembali teringat apa yang terjadi dengan ketiga pohon palem kami.

***

Walau ukurannya tidak sama, ketiga pohon palem tersebut membesar. Karena itu, pada suatu saat kami memutuskan untuk memindahkan ketiganya ke tanah di depan rumah, yang terletak di pinggir jalan. Ketika itulah kami menemukan penyebab kenapa salah satu di antaranya terhambat pertumbuhannya. Ternyata, akar pohon kerdil itu digerogoti rayap. Bila tidak ketahuan, tak lama lagi pohon itu mungkin mati!

Apa yang terjadi dengan perguruan tinggi kita selama ini merupakan sesuatu yang tampak di permukaan: peringkat perguruan tinggi kita melorot, jumlah publikasi internasional rendah, plagiarisme semakin marak terjadi. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut di satu sisi dan meningkatkan kinerja perguruan tinggi kita di sisi lain patut diapresiasi. Namun, tanpa mendalami masalah sesungguhnya serta menangani akar permasalahannya, berbagai upaya tersebut akan sia-sia.

Dalam artikel saya sebelumnya, yang dimuat di Kompas edisi 1/7/13, saya mengungkapkan bahwa salah satu permasalahan mendasar dengan perguruan tinggi kita adalah kualitas para dosennya. Di balik itu, terdapat sejumlah hal yang perlu digarap bila kita ingin membangun perguruan tinggi berkualitas, yaitu: (1) sistem perekrutan dan sistem promosi berbasis merit, (2) sistem peer-review, (3) mobilitas dosen, (4) kompetisi yang sehat di antara perguruan tinggi, (5) otonomi dan kebebasan akademik, (6) sinergi pengajaran dan penelitian, (7) pendanaan, dan (8) keberadaan filantropis.

***

Mari kita tengok seperti apa keadaannya saat ini. Setelah sekian lama menyelenggarakan pendidikan tinggi, sistem kepegawaian dosen di perguruan tinggi Indonesia tampaknya masih mencari bentuk. Profesi dosen di Indonesia hingga saat ini dapat dianggap sebagai profesi “bisik-bisik”. Cobalah hitung berapa banyak perguruan tinggi kita yang pernah mengumumkan adanya lowongan dosen secara terbuka di media massa. Pintu untuk menjadi dosen hanya terbuka bagi orang tertentu di saat tertentu, seperti dalam sebuah game saja.

Karena itu, sekali anda diterima menjadi dosen, selanjutnya anda harus pandai-pandai mengikuti aturan main yang berlaku dalam game tersebut. Yang dinilai bukan kualitas atau prestasi anda, tapi kepatuhan dan kerajinan anda mengumpulkan skor (baca: kum). Peer review tidak berjalan, melainkan ewuh pakewuh yang terjadi. Walaupun ada penilaian oleh sesama rekan dosen, instrumen yang digunakan amat rapuh.

Barangkali hanya di Indonesia, dosen direkrut sekali dan menetap untuk selamanya, tidak ada mobilitas sama sekali. Asep Saefuddin, dalam tulisannya di Kompas Siang edisi 6/7/13, mengungkapkan masalah inbreeding yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi kita. Sedihnya, tidak banyak pihak yang melihat masalah ini sebagai sesuatu yang serius, apalagi menanganinya. Sebagai contoh, Kompas Minggu edisi 21/7/13 menampilkan sosok seorang Guru Besar di sebuah PTN di Sumatera, yang mendapat gelar S1, S2, dan S3-nya dari PTN itu juga. Di negara lain, hal seperti ini sangat dihindari.

Alhasil, kualitas dosen kita pada umumnya rendah, bahkan sebagian di antaranya bermasalah. Hal ini diperburuk dengan tidak adanya kompetisi yang sehat di antara perguruan tinggi. Kompetisi hanya terjadi untuk memperebutkan mahasiswa, misalnya dengan melakukan seleksi lebih awal. Namun kita tidak pernah menyaksikan kompetisi dalam merekrut dosen berkualitas, atau dalam unjuk karya penelitian dosennya, karena kualitas dosen yang ada kurang lebih sama rendahnya!

Salah satu hal yang menghambat gerak dan laju perguruan tinggi kita adalah tidak adanya atau tidak utuhnya otonomi perguruan tinggi di negara kita. PTN kita saat ini sangat tergantung pada Pemerintah. Apalagi Pemerintah (baca: Kemendikbud) belakangan ini sangat bernafsu untuk mengatur berbagai sendi penyelenggaraan pendidikan tinggi. Bahkan PTS pun tidak sepenuhnya otonom, sebutlah dalam pembukaan program studi dan pengangkatan Guru Besar serta Lektor Kepala.

Berbicara tentang produktivitas penelitian dosen yang tersebar di 3000 lebih perguruan tinggi kita, data Scimago (http://www.scimagojr.com) memberikan gambaran yang sangat jelas betapa kita telah tertinggal, bahkan dari negara jiran yang dahulu pernah kita bantu. Dalam keadaan demikian, kualitas pengajaran di perguruan tinggi kita dapat dipertanyakan. Seorang rekan pernah berseloroh, yang kita punyai saat ini bukan higher education, tapi further education, sekadar pendidikan pasca SMA. Yang diajarkan kebanyakan merupakan hasil temuan orang lain, bukan temuan kita sendiri.

Selain kualitas dosen yang rendah, besar anggaran yang tersedia untuk kegiatan penelitian juga merupakan isu serius. Bagaimana dapat bersaing dengan perguruan tinggi Malaysia bila besar anggaran penelitian perguruan tinggi kita hanya Rp 10 miliar hingga Rp 30 miliar per tahun, sementara mereka dikucuri Rp 100 miliar hingga Rp 300 miliar per tahun? Dengan minimnya dana, investasi untuk pengadaan peralatan penelitian tidak dilakukan dengan memadai. Padahal, dari penelitian lah kita menantikan ilmu pengetahuan dan teknologi baru, yang akan mendongkrak daya saing bangsa.

Selain mengandalkan dana dari Pemerintah dan masyarakat, perguruan tinggi di negara lain juga memiliki endowment fund dan terbantu oleh para filantropis yang bermurah hati memberikan donasi puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Sebagai contoh, perguruan tinggi di Amerika Serikat, baik privat maupun publik, bisa mempunyai endowment fund yang besarnya mencapai ratusan triliun rupiah. Di indonesia, filantropis merupakan makhluk langka. Jangan tanya pula berapa besar endowment fund yang dimiliki oleh perguruan tinggi kita.

***

Sebagai salah satu pilar penting dari the Triple Helix, perguruan tinggi mesti berbenah untuk dapat berkontribusi lebih signifikan pada pembangunan. Perguruan tinggi yang berkualitas tidak hanya menghasilkan skolar yang cerdas tetapi harus juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui ilmu pengetahuan dan budaya yang dikembangkannya. Di pihak lain, Pemerintah dan dunia industri tentunya perlu mendukung perguruan tinggi dalam menjalankan perannya, melalui kebijakan yang tepat dan pendanaan yang mencukupi.

Keinginan mewujudkan perguruan tinggi yang berkualitas tentunya bukan sekadar untuk unjuk gigi, tak mau kalah dari perguruan tinggi di negeri jiran. Lebih penting daripada itu, kita harus bekerja keras mewujudkannya karena kita percaya bahwa perguruan tinggi yang berkualitas pada gilirannya akan memajukan kesejahteraaan umum dan mencerdaskan kehidupan berbangsa. Bukankah dua hal itu yang dicita-citakan oleh founding fathers kita, sebagaimana dinyatakan dalam Pembukaan UUD RI 1945? ***