Pada sebuah film (yang saya lupa judulnya) diceritakan bagaimana lembaga pendidikan menjalankan fungsi pembeda dalam masyarakat. Status pendidikan seseorang menentukan akses terhadap informasi dan kekuasaan dalam masyarakat. Masyarakat tersekat-sekat berdasarkan kelas pendidikannya. Lulusan SD berkumpul dengan lulusan SD, lulusan master ngobrol dengan yang sederajat.

Sebelum jaman industri, fungsi tersebut dijalankan oleh asal usul keluarga. Dulu bila kita berdarah biru maka kita menempati posisi terhormat di masyarakat. Semakin dekat silsilah kita dengan raja sumber darah biru, semakin terhormatlah kita. Feodalisme darah berganti dengan feodalisme baru, feodalisme sekolah.

Gelar dan ijasah menjadi sumber akses informasi dan kekuasaan dalam masyarakat modern. Tidak heran kemudian orang-orang berlomba, tidak peduli berapa biayanya, tidak peduli bagaimana caranya, untuk mendapatkan gelar dan ijasah. Gejala feodalisme baru atau schoolism ini yang dibahas panjang lebar dalam buku “Belajar, Bukan Sekolah”, yang ditulis oleh Daniel Mohammad Rosyid.

Buku tersebut memaparkan penjelasan bahwa krisis pendidikan dunia berasal dari pemujaan yang berlebihan terhadap sekolah. Pendidikan direduksi hanya sebatas sekolah.

Proses pembelajaran yang diabdikan untuk tes dan drills kognitif pilihan-ganda bertubi-tubi, serta formalisme kronis telah membuat sekolah kehilangan joyfull learning and teaching. Karakter siswa terbengkalai kalau bukan dihancurkan justru di sekolah. Belajar hampir tidak pernah lagi bermakna bagi murid. Alih-alih menjadi solusi, sekolah saat ini adalah bagian dari masalah pendidikan.

Kehadiran ICT/internet sedang mengubah praktek pendidikan. Posisi sekolah akan berubah untuk selama- lamanya. Siapapun harus menyesuaikan diri, terutama guru. Jika tidak, sekolah akan menjadi museum, dan guru akan menjadi dinosaurus, karena kehilangan relevansi bagi murid nettizen.

Saya sudah lama membaca mengenai kritik terhadap feodalisme baru persekolahan atau schoolism pada buku dan artikel yang ditulis penulis asing. Tapi baru pertama membaca kritik tersebut ditulis oleh orang Indonesia. Bahkan buku ini ditulis oleh orang yang bergelut puluhan tahun dalam dunia pendidikan, baik sebagai dosen maupun sebagai dewan pendidikan. Karena itu, paparan dalam buku ini banyak menukik langsung pada praktek dan kebijakan yang berlaku saat ini.

Buku kumpulan tulisan lepas ini, patut dibaca oleh pengambil kebijakan (kepala sekolah, kepala dinas, dirjen, menteri, presiden) untuk memahami kerangka berpikir sistem dalam pendidikan dan rekomendasi untuk agenda perubahannya. Jangan sampai kebijakan baru justru memperparah krisis pendidikan kita saat ini.

Orang tua pun perlu membaca buku ini untuk memahami subtansi pendidikan, dan tidak terjebak pada pemujaan sekolah yang berlebihan. Silahkan cari di toko buku atau dapatkan versi digital dengan menggunakan aplikasi QBaca, silahkan lihat disini. Atau baca di bawah ini:

Agenda Deschooling Untuk Indonesia Abad 21 by Kreshna Aditya