Ketika menyampaikan TEDTalk berjudul “Benarkah Sekolah Membunuh Kreativitas?”, profesor pendidikan Sir Ken Robinson menunjukkan fakta bahwa selalu ada hierarki subjek pada sistem pendidikan di seluruh dunia, di mana pelajaran seperti Matematika dan Bahasa menempati prioritas tertinggi sedangkan pelajaran seni dan kemanusiaan menempati posisi terbawah. Dalam tiap hierarki itu pun ada sub hierarki lagi, seperti di pelajaran seni yang menempatkan menggambar dan menyanyi jauh lebih penting daripada seni peran dan menari. Ia kemudian menyampaikan keheranannya mengapa di sekolah kita tidak mengajari anak-anak meari seperti kita mengajari mereka Matematika? Bukankah anak-anak menari setiap saat? Mengapa seiring bertambahnya usia anak, kita semakin berfokus pada kepala saja? Mengapa menari hanya menjadi pelajaran ekstra kurikuler? Seberapa (tidak) pentingkah menari dalam pendidikan anak?

Secara umum tari memiliki beberapa fungsi antara lain: ekspresi budaya, media komunikasi, salah satu bentuk seni, dan alat sosialisasi pula. Mengajarkan tari pada anak-anak secara spesifik akan membawa banyak manfaat, seperti:

>> Kebugaran fisik. (Ya iya lah!) Ini saya tulis pertama karena yang paling terlihat manfaatnya. Saat menari entah berapa banyak otot yang bekerja, dan anak dilatih menjadi lebih kuat, seimbang, berstamina, koordinatif dan fleksibel. Walaupun anak sudah terlihat tidak punya bakat menjadi penari profesional nantinya namun kalau ia suka menari kemungkinan besar ia akan memiliki pola hidup yang lebih aktif sampai dewasa nanti. Selain kekuatan dan lainnya, dengan berlatih menari postur tubuh juga menjadi lebih baik. Cara berdiri, duduk, berjalan, dan semua aktivitas lain akan menjadi lebih baik (dan lebih anggun). Terbiasa memiliki postur tubuh yang benar dalam kegiatan sehari-hari saja sudah akan mengurangi banyak penyakit. Tidak percaya? Silahkan baca tentang Alexander Technique ini.

>> Tambahan sedikit soal koordinasi. Coba lihat video di bawah ini tentang seorang anak yang sedang bermain game Dance Dance Revolution di rumahnya. Skornya sempurna, koordinasi tubuhnya luar biasa, dan video ini sudah dilihat lebih dari 5 juta kali di YouTube. Kebanyakan orang yang melihat ini mungkin akan berkomentar, “Gila nih orang tuanya, anak dibiarin main ginian terus. Pasti gak pernah belajar nih!” Hmm, justru anak ini belajarnya sudah luar biasa sampai bisa seperti itu. Kalau saya mungkin akan berkomentar, “Gila aja nih orang tuanya kalau sampai anak kaya’ gini nggak disekolahin ke sekolah tari atau atlet. Ini sih sudah kelihatan passion-nya memang di situ dan jenius pula kecerdasan kinestetiknya!”

>> Percaya diri dan fokus. Kenapa percaya diri bisa meningkat dengan menari? Alasan yang langsung terlihat adalah karena mereka akan merasa senang dengan tubuhnya dan kemampuannya mengolah gerak. Namun bukan hanya itu, Anthony Robbins, sekorang pakar NLP dan motivasi top dunia, selalu menyarankan semua orang yang ingin mengubah nasib hidupnya dengan memulai dari mengubah tubuhnya dulu menjadi lebih sehat dan bugar. Dengan memperhatikan kesehatan dan kebugaran fisik terlebih dahulu, kita akan benar-benar merasa memegang kendali dan bertanggung jawab atas diri kita sendiri (bukan berarti melupakan Tuhan ya). Kemampuan untuk berfokus juga akan meningkat dengan belajar menari. Jelas lah ini. Gimana bisa menari dengan baik kalau nggak fokus?

>> Melatih berkomitmen dan disiplin. Berlatih menari yang baik butuh latihan berkali-kali. Anak akan belajar untuk memiliki komitmen dan dedikasi yang kuat, serta disiplin berlatih terus menerus bersama rekan-rekannya (menari biasanya tidak sendiri) agar bisa menari dengan baik. Penari-penari profesional seringkali harus melewati perjalanan karir yang dipenuhi dengan latihan-latihan intensif setiap harinya selama bertahun-tahun untuk mencapai kesuksesan. Jangan dikira menjadi penari itu cukup latihan part time. Silahkan lihat dokumenter tentang Dance School Julliard (seri 1, seri 2, dan seri 3) ini untuk melihat betapa berdedikasinya para siswa sekolah tari. Jauh banget dari gambaran anak-anak sekolah formal… yang kita lihat di sinetron. He he.

>> Sosialisasi dan kerjasama tim. Menari adalah kegiatan berkelompok yang memerlukan komunikasi, pengertian, dan kekompakan tim. Ini sih sudah jelas ya? Tapi lebih dari itu, belajar kerjasama juga didapat dari komitmen untuk datang dan berlatih. Anak akan belajar untuk tidak mengecewakan rekan-rekan satu timnya dengan bermalas-malasan karena performa seluruh tim akan terpengaruh pula. Ini lah yang saya sebut mengajari anak berkolaborasi, bukan hanya berkompetisi.

>> Menari juga bisa menjadi saluran bagi anak dalam menyalurkan emosi. Menari digunakan untuk merepresentasikan banyak perasaan seperti kebebasan, harapan, gairah, keberanian, kekuatan, dan keanggunan. Bukan itu saja, menari juga bisa menjadi sarana pelampiasan emosi negatif. Dalam psikologi ada konsep Mekanisme Pertahanan Ego, yaitu strategi mempertahankan citra ego yang kita gunakan saat menghadapi kenyataan yang tidak mengenakkan. Ada banyak cara, kebanyakan negatif, seperti: displacement, regression, repression, isolation, dll. Dari namanya aja udah seram begitu. Namun ada juga yang positif seperti altruism, anticipation, humor, dan sublimation. Nah yang terakhir ini, sublimasi, adalah saat kita mentransformasi emosi atau naluri negatif menjadi aksi, emosi dan perilaku positif. Contohnya saat kita kesal luar biasa karena dicaci maki bos di depan rekan-rekan kerja, kita tidak lalu menendang kucing kurang beruntung yang sedang lewat saat kita pulang, namun kita memilih untuk shalat, atau berlatih pencak silat, atau… menari! Luar biasa bukan kalau anak sedari kecil sudah diberi saluran mekanisme pertahanan ego yang baik bagi mereka?

Bayangkan betapa banyak manfaat yang bisa didapat oleh anak saat mereka belajar dan berkegiatan menari. Jadi mengapa menari tidak diajarkan pada anak-anak seperti kita mengajari mereka Matematika? Tanya pemerintah, atau tanya orang tuanya donk. :)(To be noted: I’m very good at Mathematics, and I’m very awful at dancing.)

Beberapa catatan penutup, yang pertama, anak-anak memiliki rentang perhatian yang pendek. Kalau mengajari mereka menari, usahakan tidak lebih dari 30-45 menit setiap sesinya. Guru atau orang tua harus memperhatikan ketertarikan si anak, membuat kelas penuh gerak dan tidak membosankan. Seperti pada pelajaran lain, yang penting adalah anak bisa bersenang-senang dengannya. Serta yang paling-paling penting, setelah membaca posting ini dan mengetahui pentingnya menari, tapi anak kita ternyata tidak menyukai aktivitas menari, ya jangan dipaksa.

Sebagai bonus posting (halah!), silahkan dinikmati performa dari grup The League of Extraordinary Dancers di video di bawah ini. Luar biasa! Modern dan street dance yang sering kita pandang “nggak nyeni” bisa ditampilkan sebagai paparan yang begitu artistik dan menyentuh. Mau nangis lihatnya… Ha ha. Mereka juga membuat film-film online yang sudah diluncurkan. Silahkan lihat website LXD untuk melihat video performa mereka selama ini. Enjoy dancing with your children!***

Catatan: Foto di atas saya ambil dari situs Sanggar Tari Sekar Dewata di Bali yang didirikan oleh Ketut Gede Bendesa. Yang saya kagum pada sanggar tari ini adalah mereka membuka kesempatan bagi para penyandang cacat untuk ikut belajar dan mengalami menari. Luar biasa!