Tawuran PelajarSiswa yang terlibat tawuran diusulkan dikeluarkan dari sekolah” demikian kalimat dari beragam media. Anggota legislatif berkata begitu. Kemendikbud pun menyatakan hal serupa. Lalu Kemendikbud mengusulkan agar jam sekolah diperpanjang. Solusi yang bukan melahirkan kebaikan di masa datang.

Ada banyak yang sakit dari para generasi pejabat hari ini. Para guru dan penanggung jawab pendidikan nasional, ingin melepaskan diri dari gagalnya membangun sistem pendidikan nasional yang sehat. Solusi-solusi jangka pendek, dipandang sebuah kebaikan. Padahal kemudian, solusi-solusi tersebut malah akan melahirkan generasi negeri ini yang semakin sakit.

Ada banyak kasus kekerasan terhadap siswa di sekolah, yang tidak pernah dituntaskan oleh lembaga pendidikan negara. Pemerintah cenderung memberikan perlindungan kepada guru ataupun kepala sekolah, maupun pejabat Dinas Pendidikan dan Kementerian Pendidikan yang melakukan kekerasan terhadap siswa. Guru yang melakukan kekerasan, umumnya hanya diberikan sanksi teguran, pun dikarenakan belum ada perlindungan hukum dan sosial dari lembaga penegak hukum, terhadap korban. Justru, sebagian besar korban kekerasan di sekolah, semakin diintimidasi secara psikis, sehingga beberapa memilih untuk mengakhiri kehidupannya.

Mengeluarkan siswa(i) yang melakukan tawuran ataupun menjadi korban, bukanlah solusi yang baik. Karena kemudian, secara psikis, siswa(i) akan semakin terguncang. Dan bila tidak memiliki kekuatan pendukung yang baik, akan melahirkan individu yang semakin jauh dari kebaikan. Sekolah, telah dimandatkan oleh negara ini, untuk melakukan pendidikan. Bukan semata pengajaran. Membangun dan berbagi kasih sayang pada siswa(i), menjadi tugas sekolah, dengan segenap perangkatnya. Harus diakui, banyak sekolah di negeri ini yang telah menjadi penjara baru bagi siswa(i)nya. Sehingga, “pemberontakan” jiwa siswa(i) itu lahir. Dan akhirnya membangun komunitas sendiri di luar sekolah. Yang terkadang, kemudian menjadi apa yang disebut dengan geng, oleh banyak orang.

Siswa(i) adalah generasi negeri ini yang sedang mencari bentuk dirinya di masa datang. Mereka ingin menemukan dirinya sendiri. Tekanan psikis di lingkar keluarga, ataupun di lingkar kehidupan sosial mereka, terkadang membutuhkan tempat bersandar yang baru. Dan sekolah adalah salah satu harapan untuk itu. Ketika sekolah menjadi gagal menjadi tempat berbagi kegelisan mereka, maka kemudian mereka akan mencari tempat lain, yang memberikan kenyamanan secara psikis bagi mereka.

Bukankah hampir setiap pendidik telah dibekali dengan psikologi pendidikan ? Bukankah pula, setiap pendidik telah menorehkan janji untuk membangun generasi negeri. Pun, bisa disadari, hari ini tingkat kompensasi yang diterima para pendidik sedang dalam proses perbaikan. Namun kemudian, kemarukan bisnis pendidikan, telah melahirkan pendidik pekerja, yang bisa jadi melupakan akar filosofi mengapa harus menjadi seorang pendidik.

Tak ada yang gratis. Inilah kalimat yang mungkin dipertontonkan. Bahwa kesejahteraan telah berbanding lurus dengan gaji. Bukan lagi memandang kesejahteraan pendidik dari senyuman para siswa(i). Tak juga lagi penting mendengarkan ucapan terima kasih dari siswa(i) atas pengetahuan dan pembelajaran yang diperolehnya. Lalu kemudian, pendidikan negeri ini hanya melahirkan robot-robot intelektual seolah kreatif, yang kemudian tunduk pada kepingemas.

Ada banyak kegelisahan di dunia pendidikan negeri ini. Mulai dari kekurangan tenaga pendidik, hingga minimnya dukungan sarana dan prasarana pembelajaran. Karena kemudian, indikator keberhasilan dunia pendidikan dilihat dari angka-angka yang ditorehkan pada sebuah surat tanda tamat belajar. Pudar sudah kreativitas yang dihasilkan oleh banyak generasi negeri ini, dalam proses belajarnya. Tak pernah dilihat dan diapresiasi, sebagai sebuah aset penting bangsa.

Mengeluarkan siswa(i) yang melakukan tawuran, dan/atau menjadi korban percintaan dari sekolah, hanya akan melahirkan generasi yang sakit hati. Sekolah justru harus menjadi sandaran baru bagi mereka. Membangun ulang model komunikasi. Mengubah sekolah menjadi tempat yang nyaman bagi siswa(i). Hingga menjadi keluarga baru bagi siswa(i). Lalu pertanyaan sederhananya adalah apakah itu memerlukan biaya ?

Anggaran pendidikan telah dinaikan hingga 20%. Bahkan beberapa wilayah dengan bangga menyatakan anggaran pendidikan mereka telah lebih dari angka tersebut. Lalu, kemana perginya anggaran tersebut, bila kemudian sekolah masih menjadi tempat yang tak layak bagi siswa(i). Dan kemudian, siswa(i) harus terus dikerangkeng dalam ruang-ruang sekolah. Lalu, kapan siswa(i) bisa membangun komunikasi sosial dengan komunitasnya ?

Sibuknya orang tua siswa, juga menjadi tudingan kesalahan. Keluarga dipandang tidak mampu memberikan pendidikan yang layak bagi siswa(i) di lingkungan keluarganya. Komunikasi yang kurang, pun kasih sayang yang tak ada di dalam keluarga, kemudian menjadi kambing yang tak hitam. Padahal, sebagian dari orang tua itu sedang disibukkan dengan urusan pelayanan bagi publik, ataupun menyibukkan diri untuk mencari kepingemas yang berlimpah, hanya karena biaya pendidikan dan kesehatan yang tak murah, hari ini.

Lalu kemudian, sekolah, dengan begitu banyaknya pungutan, harga buku, serta beragam paket bimbingan belajar, dan makan siang, dibayar dari waktu orang tua yang tersita untuk membayarkannya, tetap pula tak mampu menjadi rumah kedua bagi siswa(i) ? Untuk apa ada sekolah, kalau demikian. Lebih baik, belajar bersama di lingkungan keluarga saja. Karena sekolah bukanlah tempat yang layak bagi anak negeri. Apalagi saat ini, teknologi informasi telah mampu menjadi sumber pengetahuan utama.

Sekolah dan institusi pendidikan harusnya meletakan sebuah cermin besar di depannya. Untuk melihat ulang wajah dirinya. Apakah saat ini telah melaksanakan mandat konstitusi negeri ini ? Ataukah sampai dengan saat ini, hanya menjadi sebuah unit penghasil robot intelektual dan pelaku bisnis pendidikan semata ? Cobalah berhenti bergerak sesaat. Melihat sekeliling. Membaca masa depan. Mengurai satu persatu beban kehidupan di negeri ini. Tata ulang sistem pendidikan nasional agar lebih layak bagi generasi negeri, dan mampu membangun generasi cerdas yang tak sekedar pintar.

Sebaiknya tidak selalu menimpakan kesalahan dan kegagalan pendidikan negeri ini pada siswa. Semoga ada yang berubah, setelah begitu banyak siswa(i) negeri ini yang meninggal dan/atau menderita tekanan psikis yang kuat, dari aliran dunia pendidikan hari ini. Dan yang terpenting, sebaiknya tidak melepaskan tanggung jawab mendidik generasi negeri, dengan mengeluarkan mereka dari sekolah, yang harusnya menjadi rumah kedua bagi mereka dalam berkehidupan di masa mudanya.

* tulisan ini telah dituliskan di http://timpakul.web.id/mengeluarkan-siswa-dari-sekolah-membunuh-masa-depan.html