Jika saat membangun rumah, para tukang bangunan kesulitan mewujudkan rancang bangun dari cetakbiru, belum pasti karena tukangnya tak cakap. Dapat terjadi cetakbirunya memang tak dibuat dengan baik. Mungkin saja arsiteknya yang tak mampu atau salah menjabarkan gagasannya.

Demikian pula dalam pendidikan, jika guru kesulitan menjalankan suatu kurikulum, belum pasti karena gurunya tak mampu. Mungkin saja dokumen kurikulumnya berbahasa kabur, tak operasional, bertentangan  dengan hakikat keilmuannya, atau yang lain. Ini semua dapat mengakibatkan kesulitan dalam penerapannya.

Namun benar bahwa guru pegang peranan. Malah sebenarnya guru paling menentukan dalam keberhasilan proses pembelajaran. Untuk menjamin terwujudnya proses pembelajaran bermutu bagi tiap pelajar.

Pelatihan dan paham merupakan dua kata yang tak langsung terkait. Pelatihan didefinisikan sebagai tindakan mengajarkan suatu keterampilan tertentu pada manusia atau binatang (Kamus Oxford.) Dengan demikian, sebuah pelatihan yang berhasil akan membuat objek yang dilatih terampil mengerjakan hal tertentu. Walau sang objek menjadi terampil, tetapi sang objek tidak harus sampai memahami gagasan di balik keterampilan tersebut.

Bahkan, beberapa binatang yang dilatih dapat terampil menggunakan berbagai alat seperti payung sampai egrang (jangkungan). Namun, jika hari hujan atau terik, apakah kera tadi akan mencari payung? Apakah beruang yang dapat bersepeda akan mencari sepeda jika harus berjalan jauh? Padahal, dapat menerapkan suatu kecakapan pada situasi baru merupakan satu syarat paham.

Perlu dicatat bahwa subjek dalam kegiatan pelatihan adalah sang pelatih, dan basis dari pelatihan adalah kegiatan melatih. Kecuali itu, objek yang dilatih tak perlu punya kemauan atau hasrat untuk dilatih.

Beberapa pekan lalu disampaikan bahwa ternyata guru sulit menerapkan Kurikulum 2013. Wamendik Prof. Musliar Kasim melalui wawancara pada 9 Januari 2014 mengatakan bahwa pelatihan guru belum sesuai harapan, karena ternyata banyak guru yang sudah dilatih tetapi tetap tak paham Kurikulum 2013.

Jika menuruti arti kata pelatihan di atas, wajar guru yang dilatih tetap tak paham. Pelatihan memang tak ditujukan agar sang objek menjadi paham. Untuk memahami sebuah gagasan, orang tak cukup sekedar dilatih, apalagi hanya dengan mendengarkan ceramah, nyanyian, dan lelucon daur ulang. Sejatinya, hanya melalui proses belajar secara aktif, seseorang baru dapat memahami suatu gagasan. Dengan sekedar dilatih atau pun diajar, seseorang  tak mungkin menjadi paham. Pelatih tak akan mampu membuat guru paham, hanya melalui belajar guru dapat paham.

Memang ironis, saat di kurikulum baru ini para guru diharapkan mengimplementasikan konsep belajar aktif dan pembelajaran berpusat-pada-siswa, ternyata pelatihannya malah menjadikan guru sebagai objek penyerap semata.

Agar guru benar-benar memahami prinsip dan nilai-nilai pendidikan modern, semestinya diciptakan peluang, sarana, dan insentif agar para guru berkesempatan belajar dan berlatih. Walau jam pelatihan ditambahkan dan dana pelatihan dilipatgandakan, pemahaman tak akan pernah tercapai, sebelum guru berkesempatan belajar dan berlatih. Tak ada jalan pintas dalam mencapai pemahaman.

Guru tak butuh pelatihan, tetapi butuh perlatihan. Mirip makna kata pembelajaran di KBBI, kata perlatihan didefinisikan sebagai tindakan menjadikan orang lain berlatih. Kata perlatihan di sini memiliki basis pada kata berlatih dan subjeknya adalah guru. Ini sangat berbeda dengan pelatihan. Jika pelatihan meletakkan sang pelatih sebagai aktor utama dan kegiatan utamanya melatih, perlatihan meletakkan guru peserta sebagai aktor utama dan kegiatan utamanya guru berlatih. Jika dalam pelatihan, pelatih merupakan sumber pengetahuan dan menyuapkan pengetahuannya kepada peserta, dalam perlatihan justru guru peserta bersama perlatih yang membangun pemahaman. Kecuali itu, makna kata berlatih sudah mengandung hasrat dari peserta untuk berlatih. Ini berbeda dengan kata dilatih.

Dari beberapa rekaman pelatihan Kurikulum 2013, memang tampak kegiatan pelatihannya baru menyampaikan impian serta harapan. Menurut Mohammad Abduhzen, para guru gagal paham, karena pelatihan sekedar ceramah teori saja.

Kemudian, pelatihan tadi juga tak sampai pada menelaah bahan ajar secara teknis di dalam keilmuannya. Misalnya, bagaimana membelajarkan sejarah kemerdekaan Indonesia yang mengembangkan kecakapan berpikir kritis dan menyuburkan sikap ingin tahu? Bagaimana membelajarkan proses osmosis yang sekaligus mengembangkan kemampuan berkomunikasi kompleks dan sikap bekerjasama?  Bukankah kegiatan merembukkan dan mengkaji topik seperti ini justru yang dibutuhkan guru?

Berlatih

Para pegiat pendidikan bersama masyarakat luas perlu merancang gerakan strategis secara nasional guna mengobarkan kasmaran belajar dan berlatih pada guru. Hanya dengan memiliki kasmaran belajar dan selanjutnya kasmaran mengajar, guru dapat mengembangkan profesinya secara berkelanjutan. Jika pendidikan ditujukan untuk memanusiakan manusia, tentunya harus mulai dengan memanusiakan guru. Ini dimulai dengan menghargai guru sebagai manusia intelek yang mampu berpikir mandiri.

Kebanyakan guru sudah tahu gagasan pendidikan modern seperti pembelajaran berpusat-pada-siswa. Mungkin mereka lebih tahu tentang apa itu pembelajaran berpusat-pada-siswa ketimbang kebanyakan pelatih. Namun, guru kebanyakan belum mampu menerapkan gagasan tadi ke dalam pembelajarannya. Kerap teramati, guru yang diminta membelajarkan perkalian bilangan pecahan, misalnya, kebanyakan tetap bergaya chalk-and-talk atau menulis di papan dan berceramah. Guru di kota besar dan calon guru lulusan institusi keguruan sudah jamak tahu tentang gagasan serta teori modern yang mendasari pembelajaran, namun kebanyakan belum mampu menerapkan dalam keilmuannya.

Menurut Kiran Bir Sethi, pendiri dan direktur Sekolah Riverside, di Ahmedabad, ada tiga tahap dalam memberhasilkan seseorang berperan atau mengambil alih.  Tiga tahapan itu, menurut Kiran adalah aware-enable-do. Jika diterjemahkan kurang-lebih: menyadarkan adanya gagasan baru (dalam hal ini, pembelajaran berpusat-pada-siswa), memampukan untuk mengimplementasikan gagasan (dalam hal ini, guru mampu menerjemahkan gagasan berpusat pada siswa menjadi sebuah pembelajaran), dan memberdayakan untuk mau mengambil inisiatif serta berani bertindak mengimplementasikan gagasan.

Dari perspektif guru yang berlatih, tahapannya adalah: kami menyadari ada dan perlunya gagasan baru seperti pembelajaran berpusat-pada-siswa, kami mampu menerjemahkan gagasan itu menjadi desain pembelajaran nyata di kelas, dan kami berdaya untuk berinisiatif mengimplementasikan gagasan tadi mulai dari diri sendiri.  Secara ringkas, guru akan melalui tahapan merasakan-merekacipta-menerapkan ini.

Perlatihan harus memperbesar peluang bagi guru guna menjalani tiga tahapan tadi. Untuk Indonesia sekarang, bentuk perlatihan perlu secara daring, karena lokasi guru yang jauh di daerah terpencil serta keterbatasan waktu dan dana. Tatap muka terlalu mahal dan mengganggu kegiatan pembelajaran siswa.

Mentor pendamping guru perlu dipilih yang menguasai disiplin yang diajarkan, berpengalaman mengajar, paham metode pendidikan modern, pembicara sekaligus pendengar yang baik, dan meneladankan belajar sepanjang hayat. Sedangkan metodenya perlu melibatkan guru, disesuaikan dengan kebutuhan guru, dan berkelanjutan.

Melalui perlatihan juga perlu dibangun pemahaman bahwa mengajar adalah sebuah seni, bukan pekerjaan prosedural. Sekaligus perlu diimbaskan penyadaran peranan guru sebagai arsitek masa depan Sang Republik. ***