Beberapa waktu yang lalu saya menemukan posting menarik dari blog milik Seth Godin, seorang pakar pemasaran dunia. Dalam posting ini ia membahas tentang apa hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil saat berhadapan dengan guru yang… kurang ok. 🙂 Guru semacam ini ia definisikan sebagai guru yang tidak bisa dipuaskan, tidak membawa pembelajaran apa-apa bagi muridnya, tidak mau membawa muridnya menuju ke arah yang tepat bagi si murid karena guru itu lebih memilih mempertahankan status quo, serta suka mencantumkan dengan jelas kegagalan-kegagalan kita pada catatan di rapor. Seth Godin menuliskan, bahwa bila kita menghadapi guru seperti ini, kita punya dua pilihan: menganggap diri kita sebagai produk gagal, atau mengambil hikmah dengan cara mengingatkan diri kita sendiri akan hal-hal berikut:

  1. Nilai pelajaran dari sekolah hanyalah ilusi.
  2. Passion yang kita miliki dan hikmah pembelajaran yang kita dapat lah yang merupakan kenyataan.
  3. Hasil kerja dan karya kita lebih berharga daripada sekedar kecocokan dengan kunci jawaban.
  4. Persistensi saat berhadapan dengan orang yang memiliki otoritas adalah kemampuan yang berharga.
  5. Berusaha menyesuaikan diri dan diterima oleh orang sekitar adalah strategi jangka pendek, sedangkan menjadi berbeda secara positif akan lebih menguntungkan dalam jangka panjang.
  6. Bila kita begitu peduli pada proses dan hasil kerja kita hingga kita rela menerima kritik untuk itu, maka kita sudah cukup belajar untuk hari itu.

Benar-benar posting singkat yang sangat bermakna. Seringkali guru, murid, dan orang tua begitu terfokus pada parameter kesuksesan semu di sekolah sehingga melupakan tujuan kurikulum, dan lebih parah lagi tidak terpikir sama sekali tentang hidden curriculum. Enam poin pembelajaran di atas adalah hidden curriculum yang seharusnya built-in dalam proses belajar mengajar di sekolah. Namun dalam pendidikan formal saat ini, enam poin tersebut justru berbalik 180o.***