Beberapa waktu lalu saya buka-buka akun di Slideshare.net yang lama tidak saya maintain. Terus ingat dengan presentasi di bawah ini yang saya buat sekitar 3 tahun yang lalu. Waktu itu membuatnya hanya untuk iseng saja karena sedang mencoba gaya desain presentasi yang bersifat story telling. Tapi isinya serius lho! Masih tentang kreativitas anak, presentasi itu mempertanyakan hal-hal seperti: Apa yang perlu kita pahami secara mendasar tentang kreativitas anak? Apa peran sekolah? Apa saja yang perlu kita lakukan untuk menjaga anak tetap kreatif? Silahkan lihat presentasinya dan baca ulasannya.

Pada dasarnya setiap anak sudah dilahirkan kreatif. Coba perhatikan anak-anak kita. Mereka memiliki rasa ingin tahu luar biasa besar. Mereka tidak mengenal kata tidak mungkin dan mereka tidak takut salah. Kalau mereka tidak yakin, mereka akan mencoba! Bukan berarti berbuat salah itu otomatis sama dengan kreatif. Namun, kalau kita tidak berani berbuat salah maka kita tidak akan pernah muncul dengan sesuatu yang baru dan memiliki value.

Pablo Picasso pernah mengatakan “All children are born artists. The problem is to remain an artist as we grow up.” Semua anak dilahirkan sebagai seorang seniman (maksudnya jenius), masalahnya adalah bagaimana agar tetap mempertahankan kejeniusan saat kita menjadi dewasa.

Saat ini sangat sulit untuk mempertahankan kejeniusan seorang anak karena, seiring ia bertambah dewasa, kreativitasnya justru dihambat dan dimatikan. Sir Ken Robinson, seorang pakar pendidikan dunia, mengatakan, “Kita tidak tumbuh menjadi kreatif. Kita justru tumbuh menjadi tidak kreatif, atau lebih tepatnya, kita dididik keluar dari kreativitas.”

Yang pertama harus menerima tanggung jawab akan berkurangnya kreativitas anak ini tentu adalah orang tuanya sendiri. Bagaimana cara orang tua mematikan kreativitas anak? Seringkali orang tua bersifat over protektif terhadap anak sehingga menghambat kebutuhan berpetualangnya. Orang tua juga kadang-kadang terlalu ikut campur menentukan masa depan anaknya sesuai dengan keinginan orang tua. (Masih ada nggak ya yang seperti ini? Hari gini gitu loh?) Stacia Tauscher mengatakan, “Sering kita terlalu khawatir akan jadi orang seperti apa anak kita nanti, sehingga kita melupakan bahwa  saat ini pun dia sudah menjadi ‘seseorang’.”

Kesalahan berikutnya adalah… mengirimkan anak ke sekolah (formal). Bukan main lemahnya sistem sekolah formal di seluruh dunia, sampai-sampai kita jauh lebih mudah menemukan quote yang jelek tentang sekolah daripada yang baik. Einstein mengatakan, “Pendidikan adalah apa yang kita dapat setelah kita melupakan semua yang diajarkan di sekolah.” Apakah ini hiperbola atau over generalisasi? Let’s check the numbers.

Ada penelitian yang mengatakan bahwa 82% anak usia 5-6 tahun memiliki citra positif akan kemampuan belajarnya. Artinya cuma 18% yang nggak pede. Pada anak usia 16 tahun, angka ini justru berbalik. Proporsi anak yang memiliki citra positif akan kemampuan belajarnya justru turun drastis menjadi hanya 18%. Parah kan? Masih ada penelitian satu lagi.

Dalam buku “Breakpoint and Beyond” diungkapkan sebuah penelitian yang menguji kreativitas anak. Sekelompok anak usia 3-5 tahun diuji, lalu 5 tahun kemudian saat berusia 8-10 tahun mereka diuji kembali, dan terakhir diuji sekali lagi saat mereka berusia 13-15 tahun. Sekelompok orang dewasa berusia di atas 25 tahun juga diuji sebagai kelompok kendali. Hasilnya, seperti tampak pada grafik di bawah, sekolah berhasil memadamkan kejeniusan anak-anak seiring bertambahnya usia.

Lalu bagaimana caranya agar anak tetap kreatif sampai dewasa? Teknis detailnya akan sangat tergantung dari banyak faktor, namun ada beberapa prinsip universal yang selayaknya dijalankan. Beri anak lebih banyak dorongan dan bukan feedback negatif (tiap hari anak menerima feedback negatif 3x lebih banyak daripada feedback positif). Beri pujian lebih pada keberaniannya untuk mencoba, bukan hanya pada hasil akhir. Cintai mereka tanpa syarat. Saat berpetualang dan mencoba hal-hal baru, anak butuh mengetahui bahwa orang tuanya tidak akan berhenti mencintainya apapun hasil yang diraih. Hargai keunikan tiap anak. Dorong untuk lebih mengeksploitasi kekuatannya, jangan malah berfokus pada menutupi kelemahannya. Berikan dunia untuk dijelajahi. Atau lebih baik lagi, jelajahi dunia bersamanya. Jangan hanya pasrah meng-outsource pendidikan anak ke orang lain. Dan yang terakhir, kita lah yang harus berubah. ***