Dalam 20 tahun terakhir, perkembangan dunia semakin cepat. Kemajuan teknologi berdampak pada kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat dunia. Dunia sains menghasilkan penemuan dan pengetahuan baru secara cepat. Namun paradigma dan praktek persekolahan kita relatif tak berubah sejak 100 tahun yang lalu.

Tak hanya pakar pendidikan, bahkan pakar IT Sugata Mitra dan pakar manajemen Seth Godin pun telah meneriakkan betapa sistem persekolahan saat ini telah tertinggal. Banyak institusi, seperti Stanford University dan Hewlett Foundation, pun telah membuat dan menyebarkan program panduan bagi sekolah untuk memodernisasi dirinya.

Beberapa poin yang dirasa perlu diubah dalam praktek persekolahan, di antaranya:

Integrasi dengan masyarakat. Pendidikan dahulu dilakukan secara insidental. Anak dilibatkan secara aktif dalam berbagai kegiatan sosial masyarakat dan mendapat pembelajaran darinya. Perkembangan teknologi saat ini memungkinkan siswa mendobrak tembok persekolahan, menjadikan semua orang sebagai sumber pengetahuan dan berkontribusi bagi masyarakat sekitar dan juga masyarakat global sekaligus. Pendidik harus membawa siswa terlibat aktif dan menemukan kesempatan pembelajaran dalam kegiatan sosial masyarakat.

Pendidikan orangtua.  Orangtua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak. Tidak tepat apabila orangtua mengalihkerjakan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah. Namun kita tak bisa berharap seluruh orangtua telah memiliki pengetahuan memadai tentang prinsip-prinsip pendidikan anak. Sekolah punya peran dalam menginisiasi sinergi dan berbagi pada orangtua tentang prinsip-prinsip pendidikan yang coba diterapkan. Sekolah pun selayaknya merancang proses belajar mengajar yang secara aktif melibatkan orangtua.

Brain-based learning. Kemajuan neurosains selama 20 tahun terakhir ini sangat pesat dan membuka pemahaman baru tentang cara kerja alami otak manusia. Sekolah perlu mengadopsi prinsip-prinsip neurosains ini ke dalam proses pembelajaran. Salah satunya terkait masalah penjadwalan. Misalnya, bila menuruti siklus alami otak anak, maka sekolah harusnya baru dimulai pukul 9-10 pagi, banyak berkegiatan di ruang terbuka, ada jeda yang cukup panjang antar perpindahan kelas, olahraga mendapat prioritas, tak ada PR bertumpuk, dll.

Evaluasi otentik. Ujian di sekolah sangat berpengaruh pada arah proses pembelajaran. Maka sekolah perlu menerapkan sistem evaluasi yang bersifat otentik dan mendorong siswa memperhatikan proses, bukannya fokus pada nilai akhir. Penggunaan portfolio assessment, misalnya, akan memancing siswa untuk membangun dan mengumpulkan karya secara kontinyu.

Masih banyak perbaikan lain yang bisa diterapkan untuk memodernisasi persekolahan kita, seperti penggunaan project-based learning, deeper learning, dll. Tergantung pada penguasa dan pengelola persekolahan untuk mengubah paradigma dan terbuka pada perubahan yang baik dan tertata demi menjaga relevansi persekolahan di abad ke-21 ini.

Menurut Anda, apa lagi yang perlu dilakukan dalam rangka memodernkan praktik persekolahan sesuai tuntutan abad ke-21 saat ini?***