Sesuai janji saya di posting sebelumnya tentang “Oh, the Places You’ll Go!”, di posting kali ini saya akan membahas karya Dr. Seuss yang lain, yaitu “Oh, the Thinks You Can Think!” Karya yang ini tidak kalah keren. Ditulis dan digambar pada tahun 1975, “Oh, the Thinks You Can Think!” mengajarkan anak-anak untuk berani berimajinasi.

Yang saya maksud berani di atas, memang benar-benar berani dan liar! Dr. Seuss mengajarkan anak-anak (dan orang dewasa) untuk berani berimajinasi tentang makhluk-makhluk aneh seperti Snuvs yang selalu menggunakan gloves (sarung tangan), Zong dengan ekornya yang very long, Beft yang selalu berjalan ke arah left (kiri).

Belum lagi membayangkan dunia yang aneh, yang berwarna merah muda, atau dunia di mana ada tiga bulan (nggak aneh juga, Jupiter punya 16). Atau membayangkan persoalan-persoalan seperti berapa jumlah air yang bisa diminum oleh 55 ekor gajah, apa yang akan kita lakukan bila bertemu makhluk Vibboo (definisikan sendiri makhluk seperti apa ini). Atau berimajinasi tentang kegiatan-kegiatan aneh pula seperti balap kuda di atas bola dengan membawa aquarium kecil berisi ikan di atas kepala, berenang di balon besar yang menampung air dan mengapung di udara, dan lainnya. Wow!!

Jujur saja, setiap kali melihat video “Oh, the Thinks You Can Think!” di atas, saya selalu teringat saat di sekolah… dimarahi guru saat mewarnai di luar garis, mewarnai daun dengan warna ungu (padahal ada daun warna ungu, buah warna biru, dll), dan menggambar hal-hal lainnya yang diluar “kewajaran”.

Picasso mengatakan, “Setiap anak dilahirkan sebagai seorang seniman (maksudnya: kreatif dan imajinatif), masalahnya adalah bagimana agar mereka tetap menjadi seniman sampai dewasa.” (bukan profesi yaa) Lalu Sir Ken Robinson juga berkata, “Setiap anak sudah kreatif. Lalu orang dewasa dan sekolah mendidik anak KELUAR dari kreativitas.”

Kemampuan anak untuk secara alami berani berimajinasi dan mengambil risiko berbuat salah adalah kelebihan yang seharusnya tidak dimatikan. Menjadi kreatif jelas tidak sama dengan berbuat salah, tapi… kalau kita sangat takut dengan yang namanya kesalahan, maka kita tidak akan pernah menciptakan sesuatu yang baru. Adakah tempat selain sekolah yang memberikan stigma begitu buruk pada yang namanya kesalahan?

Kembali ke “Oh, the Thinks You Can Think!” Bukan hanya kata-katanya yang memancing imajinasi anak, namun juga ilustrasinya yang menggunakan warna-warna dan bentuk-bentuk tidak biasa. Karya ini adalah karya yang selalu saya lihat kembali saat saya mengalami kebuntuan pikiran atau terhambat oleh tradisi dan hal-hal yang sudah dianggap “memang demikian adanya”.

Bila karya ini saja bagus untuk orang dewasa, maka bila diperlihatkan kepada anak-anak mungkin saja akan bisa mencegah mereka membatasi dirinya sendiri dengan kotak semu “mental block” sedari dini. Karya-karya apalagi ya yang bisa membantu anak berpikir out of the box? ***