foto: Media Indonesia

Sudah bermacam cara dan upaya telah dilakukan oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam mencoba meningkatkan mutu pendidikan nasional kita. Namun seringkali inisiatif-inisiatif yang ada hanya bersifat teknis dan melupakan roh yang menjadi landasan dari setiap bentuk inisiatif tersebut. Berangkat dari refleksi kondisi saat ini dan sejenak membayangkan tantangan mendatang dalam konteks ke-Indonesiaan, saya tergelitik menawarkan sebuah konsep yang saya namakan Panca Sila Transformasi Pendidikan Indonesia. Lima prinsip dasar yang saya ajukan di sini didasarkan pada perkembangan terkini ilmu pendidikan, pengajaran, dan pembelajaran, serta kondisi kebangsaan Republik yang kita cintai yang diletakkan pada konteks abad ke-21. Kelima sila transformasi pendidikan ini merupakan penjabaran dari komitmen bangsa untuk memfasilitasi pendidikan berkualitas untuk setiap anak Indonesia tanpa kecuali.

Panca Sila Transformasi Pendidikan Indonesia:
1) Pendidikan  Indonesia adalah pendidikan yang memerdekakan.
2) Pendidikan Indonesia adalah pendidikan yang menggairahkan rasa ingin tahu.
3) Pendidikan Indonesia adalah pendidikan yang bermoral dan berkarakter.
4) Pendidikan Indonesia adalah pendidikan yang menganyam tenun kebangsaan dan kemanusiaan.
5) Pendidikan Indonesia adalah pendidikan yang berbudaya belajar dengan guru sebagai suri tauladannya.

Lebih jelasnya mari saya jabarkan kelima sila yang saya maksud.

Pertama, pendidikan harus memerdekakan. Ia tidak boleh menjadi penjara kreatifitas dan imajinasi siswa. Ia tak boleh mengerdilkan dan menindas peserta didiknya yang kejeniusannya tidak bisa dibuktikan lewat ujian tertulis semata. Bentuk tes standardisasi seperti ujian nasional tidak boleh dijadikan dewa dalam penentuan kualitas dan hasil belajar siswa. Perlu dicari bentuk asesmen komprehensif yang dapat mengakomodasi dan mengapresiasi berbagai macam bentuk kecerdasan, daya imajinasi dan kreatifitas. Inovasi untuk kemajuan bangsa takkan mungkin lahir dari pendidikan yang memenjarakan imajinasi dan kreatifitas.

Kedua, pendidikan tidak boleh membungkam rasa ingin tahu siswa yang tak tersentuh oleh buku teks dan soal ujian. Proses belajar mengajar seharusnya tidak berpusat pada guru, sekolah, kurikulum, orang tua, apalagi penguasa, tapi menginspirasi siswa untuk memberi jutaan pertanyaan tentang hal-hal yang nyata di sekitar mereka. Inspirasi yang menggerakkan mereka untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan jawaban dari sumber-sumber pembelajaran yang ada. Inilah yang sebenarnya dimaksud dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning). Pembelajaran pun akan menjadi hidup karena ia kontekstual dan relevan.

Ketiga, pendidikan memberi contoh konsisten implementasi tutur, tindak dan perilaku norma dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Ia tidak boleh memodelkan cara berbuat curang, termasuk kolusi, korupsi, maupun manipulasi karena alasan apa pun. Guru dan segenap elemen di sekolah harus menjadi contoh dalam bertindak dan berperilaku yang baik. Ing ngarso sung tulodo. Demikian pesan dari Bapak Pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara. Keteladanan adalah kunci pembentukan karakter, tak perlu penambahan porsi mata pelajaran karakter atau pendidikan moral. Tanpa karakter dan moral, pendidikan tak punya fondasi, tak punya roh dan jiwa, sehingga ia hanya hampa tanpa makna yang sesungguhnya.

Keempat, pendidikan harus menjadi bagian pembangunan bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Ia tidak boleh boleh menyemai bibit curiga, benci, dendam, dan permusuhan, baik karena hal suku, ras, kelas, harta, agama, antar golongan, dan antar bangsa. Idealnya dalam satu ruang kelas di Indonesia terlihat keanekaragaman agama, suku dan kelas sosial. Misalnya ada orang Jawa, Batak, Maluku, Cina, dan Minahasa. Ada orang Islam, Kristen, Hindu dan Budha. Ada anak tukang becak, petani, direktur dan pengusaha. Disanalah terjadi pembelajaran multikulturalisme yang efektif, melalui interaksi bersama di bangku sekolah sejak dini. Tanpa interaksi dan komunikasi yang baik mustahil tercipta saling pengertian dan saling memiliki sebagai saudara sebangsa dan setanah air. Mustahil terwujud jiwa Bhinneka Tunggal Ika. Pendidikan harus memerdekakan kita dari sekat-sekat parokial dan primordial.

Terakhir, yang paling penting dari semua, pendidikan harus menciptakan budaya belajar yang dicontohkan semua guru. Guru pembelajar menghasilkan pengajaran yang berkualitas. Guru pembelajar selalu mencari pengetahuan terkini dan terus mencari berbagai cara mengajar kreatif dan efektif. Guru pembelajar menginspirasi siswa dan masyarakat untuk gandrung belajar. Karena itu guru pembelajar akan meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa. Dan pada akhirnya jika budaya belajar menjadi ciri khas setiap sekolah kita maka bangsa kita akan menjadi bangsa pembelajar. Dan jika kita menjadi bangsa pembelajar maka kita memiliki modal yang sangat kuat dalam memenangi persaingan global abad ke-21.

Demikian paparan saya tentang Panca Sila Transformasi Pendidikan Indonesia. Pada hakekatnya kelima prinsip ini, menurut saya, harus menjadi landasan perencanaan, perumusan, pelaksanaan dan evaluasi setiap kebijakan pendidikan kita, baik dalam skala besar maupun skala kecil, baik dalam tingkat nasional maupun tingkat daerah hingga sekolah. Kelima prinsip ini hendaknya dapat menjadi roh pembelajaran dan pengajaran di setiap ruang kelas di bumi pertiwi. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memerdekakan, mencerdaskan, memberi inspirasi, memberdayakan, memotivasi, memberi semangat, dan memberi teladan yang baik. Pendidikan dimana belajar menjadi norma utamanya. Pendidikan yang menjadikan kita a learning countrya learning society, bangsa yang gemar belajar, yang menghargai pendidikan yang baik untuk kemajuan dan kesejahteraan semua anak negeri tanpa kecuali.

*Tulisan ini merupakan modifikasi tulisan yang saya posting sebelumnya di laman situs  Kompasiana, 18 Agustus 2013 (http://edukasi.kompasiana.com/2013/08/18/proklamasi-dan-transformasi-pendidikan-indonesia-abad-ke-21-585038.html)