Comedy is simply a funny way of being serious. ~Peter Ustinov

Pandji Pragiwaksono, salah satu dari sedikit komika ternama di Indonesia. Begitulah pandangan saya terhadap Pandji, sebelum saya berkesempatan menyaksikan langsung acara stand up comedy special-nya yang berjudul Mesakke Bangsaku pada Sabtu, 21 Desember, di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Sejujurnya, saya belum pernah menyaksikan secara langsung acara stand up comedy special. Jangan salah, saya sangat suka stand up comedy. Namun biasanya saya lebih banyak menyaksikan video stand up comedy special dari komika luar semacam Robin Williams, Chris Rock, Eddie Izzard, Jeff Dunham, George Carlin, Wanda Sykes, dll. Sedangkan untuk komika Indonesia, saya hanya sempat menontonnya bila menyalakan TV dan kebetulan ada acara tersebut di channel berita yang saya pasang. Baru dua kali saya menyaksikan langsung penampilan komika Indonesia, yaitu Mongol dan Sammy Putra, saat mereka mengisi selingan hiburan di acara talk show pendidikan di mana saya ikut menjadi pembicara.

Pun demikian, Pandji Pragiwaksono jelas bukan nama yang asing bagi saya, apalagi dalam posisi saya sebagai inisiator Bincang Edukasi. Berkali-kali Pandji membantu Bined, utamanya melalui Twitter di mana ia memiliki ratusan ribu followers. Pertama kali Bined berinteraksi dengan Pandji adalah pada 2011 dalam kasus bu Siami yang terusir dari kampungnya karena membuka kecurangan Ujian Nasional di sekolah anaknya. Saat kami berusaha mengangkat kasus bu Siami dari yang awalnya terbatas hanya terliput media lokal, Pandji membantu dengan mengamplifikasi kampanye #indonesiajujur yang kami adakan. Sesudah Pandji ikut menyuarakan kampanye #indonesiajujur, beberapa tokoh berpengaruh lain di Twitter, seperti Najwa Shihab, ikut menyuarakan dan mengangkatnya jadi perhatian nasional. Itulah pertama kalinya Bined merasakan apa yang disebut “Pandji effect”.

Dalam perjalanan tiga tahun Bined, berkali-kali Bined merasakan “Pandji effect”, yaitu saat Pandji meretwit atau mempromosikan twit dan akun @bincangedukasi yang kemudian pasti diikuti dengan lonjakan jumlah retwit dan followers. Entah itu hanya retwit satu twit berisi quote pendidikan, ataupun rangkaian live tweet dari acara pendidikan, Pandji sangat membantu menyebarkan pesan pendidikan yang disampaikan Bined. Secara pribadi saya sendiri pun sempat merasakan “Pandji effect”, yaitu saat Pandji meretwit twit tentang artikel yang saya tulis, “Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Rasa Finlandia”. Segera sesudah ditwit oleh Pandji, terjadi lonjakan pengunjung dan juga penyebaran artikel tersebut. Sebenarnya, beberapa akun lain dengan puluhan dan ratusan ribu followers pun beberapa kali meretwit twit Bined. Namun tak diikuti oleh banyak retwit dari followers mereka, berbeda dengan Pandji. Ini menunjukkan bahwa Pandji adalah benar-benar influencer, bukan sekadar selebtwit. 🙂

Atas dasar inilah saya lalu berniat menyaksikan Mesakke Bangsaku. Saya ingin tahu, apa sih yang membuat Pandji sebegitu berpengaruh terhadap followers-nya. Ketika saya mengajak istri saya untuk ikut serta, saya bilang padanya bahwa saya pikir menyaksikan Pandji akan seperti menyaksikan John Stewart atau George Carlin dengan satir politiknya, kita akan terhibur di hati tapi mungkin tidak akan tertawa terbahak-bahak… Saya bersyukur, kalimat yang saya ucapkan pada istri saya tersebut tidak saya jadikan taruhan, karena ternyata saya salah besar! Saat menyaksikan Mesakke Bangsaku, istri saya mendapat dua hiburan: penampilan Pandji yang luar biasa mengocok perut, serta menertawakan wajah saya yang memerah karena tak kuat menahan tawa.

Namun Mesakke Bangsaku lebih dari sekadar acara penuh tawa tanpa makna. Komedi Pandji bukan sekadar komedi yang membuat kita tertawa malam ini lalu menjalani hidup seperti apa adanya esok harinya. Komedi Pandji adalah komedi yang membuka mata tanpa menceramahi, menampar tanpa meninggalkan dendam, dan secara berani mengangkat masalah-masalah besar. Istilahnya, Pandji tak takut menelanjangi “the elephant in the room”, saat yang lain berpura-pura tak melihatnya. Yang lebih mengesankan bagi saya tentu saja saat Pandji membawa penonton menelusuri berbagai permasalahan bangsa yang banyak berhulu pada pendidikan.

Ya, pendidikan mendapat porsi yang sangat banyak dalam Mesakke Bangsaku. Tampak jelas bahwa pendidikan merupakan salah satu isu yang paling menjadi perhatiannya. Pandji fasih membawakan materi tentang Ujian Nasional, standarisasi dan kepatuhan, filosofi Ki Hadjar, pendidikan Finlandia, peran guru masa kini, dll., yang diakhiri dengan ajakan untuk bergerak. Lagi-lagi semua ini dilakukannya dengan membuat penonton merasa sedang dihibur alih-alih diceramahi. Pandji rupanya memahami konsep hidden curriculum, bahwa lebih baik menghibur orang dan membuatnya tanpa sadar belajar sesuatu, daripada menceramahi orang dan membuatnya tak belajar apa-apa.

Bicara tentang pengelolaan pendidikan Indonesia, memang luar bisa absurd. Belum tuntas satu masalah dibenahi, masalah-masalah lain tak henti mengalir [dari atas]. Para penggerak dan aktivis pendidikan selama ini banyak yang mengeluhkan sulitnya mendobrak sistem dan menyadarkan penguasa tentang bobroknya pendidikan di Indonesia. Setengah keluhan ditujukan pada belum terbukanya mata masyarakat tentang kondisi gawat darurat pendidikan kita yang sebenarnya sudah sama atau lebih parah daripada permasalahan korupsi, sehingga perjuangan pendidikan seringkali minim dukungan.

Sayangnya, tak banyak penggerak pendidikan yang menyadari bahwa belum terbukanya mata masyarakat tentang kondisi pendidikan kita adalah karena mereka sendiri gagal bicara dalam bahasa yang dipahami masyarakat luas. Perlawanan terhadap UN, standarisasi, karut marut tata kelola pendidikan, dll., disuarakan dalam bahasa akademis yang jauh dari pemahaman masyarakat. Alih-alih menyadari bahwa dibutuhkan perlawanan budaya untuk mengubah kondisi yang sedemikian mengakar, justru jalur budaya ini dihindari oleh para penggerak pendidikan karena mereka sendiri tak memahaminya. Di sinilah kita bisa belajar dari Pandji.

Menurut Will Durst, komedi adalah juga alat perlawanan. Komedi mendenguskan penghinaan terhadap wajah takut dan tunduk. Tawa yang muncul sesudahnya lah yang lalu memungkinkan asa dan harap ikut masuk kembali ke dalam tubuh seiring tarikan nafas. Komedi Pandji bukanlah komedi keputusasaan, namun komedi yang mendorong optimisme. Moliere mengatakan, adalah tugas komedi untuk mengoreksi kesalahan manusia dengan cara menghiburnya. Paling tidak dalam Mesakke Bangsaku yang saya saksikan, Pandji menjalankan tugas ini dengan paripurna. Saya yakin Pandji telah ikut memberi momentum bagi perbaikan pendidikan Indonesia melalui perlawanan budaya. Selanjutnya perlu dipikirkan bersama berbagai bentuk dan kolaborasi lain antara penggerak pendidikan dan pegiat seni budaya.

Sesudah acara Mesakke Bangsaku itu, saya tak hanya memandang Pandji sebagai komika terbaik di Indonesia saat ini, namun saya juga menyambutnya sebagai seorang aktivis pendidikan dan juga seorang guru. ***

NB: Istri saya bilang ia bisa memahami Pandji karena punya kesamaan dengannya… yaitu sama-sama punya pasangan yang suka mengigau, bahkan bisa nyambung seperti sedang berdiskusi, saat sedang tidur.