Screen Shot 2013-12-14 at 6.19.15 PMTati D. Wardi
Mahasiswi S3 kajian Literasi dan Sastra Anak
Ohio State University, USA

Dimuat di Koran Tempo, Sabtu, 30 November 2013

Pendidikan yang berporos pada kemampuan nalar belakangan menjadi isu yang gencar disuarakan para ahli pendidikan. Prof. Iwan Pranoto, guru besar matematika ITB, misalnya, dalam sejumlah tulisannya mengingatkan tentang pendidikan bernalar. Kemampuan bernalar dalam konteks ini mencakup daya berpikir logis, ketrampilan mengolah informasi dari bacaan, dan kemampuan menyimpulkan dengan pemikiran sendiri.

Dalam disiplin ilmu pendidikan, kemampuan nalar sejatinya bertaut erat dengan “literasi.” Perlu dicatat, konsep “literasi” di sini tak lagi dimaknai secara sempit yang terbatas pada kemampuan baca tulis. Konsep literasi di sini berkaitan dengan kemampuan memaknai teks seperti huruf, angka, dan simbol kultural seperti gambar dan simbol secara kritis. Tapi tak berhenti di situ. Yang justru lebih penting, siswa dengan daya literasi tinggi mampu mengolah informasi dari teks yang dibacanya, untuk kemudian menyimpulan dan mengambil keputusan atas informasi tersebut. Untuk bisa berdaya literasi tinggi,  siswa diandaikan bukan hanya bisa baca dan tulis, melainkan juga aktif dalam memaknai teks, mengerti fungsi penggunaannya, dan menganalisa teks secara kritis dan mentransformasi penggunaannya (Luke dan Feebody; Programme for International Student Assessment (PISA).

Literasi dalam arti luas seperti ini sejatinya sudah cukup lama menjadi acuan UNESCO.  Ini bisa kita baca dari Literacy for Life, laporan UNESCO tahun 2006 tentang literasi dunia. Di situ dinyatakan, literasi adalah hak dasar manusia sebagai bagian esensial dari hak pendidikan. Terpenuhinya hak literasi memungkinkan kita mengakses sains, pengetahuan teknologi, aturan hukum, dan mampu memanfaatkan kekayaan budaya, dan daya guna media.  Singkatnya, literasi menjadi poros upaya peningkatan kualitas hidup manusia. Oleh sebab itu, ia merupakan sumbu pusaran pendidikan.

Namun anehnya, pemerintah Indonesia justru belum beranjak dari paradigma lama literasi , populer pada dekade 1960-an, yang mendefinsikan literasi dengan kemampuan teknis membaca, menulis, dan, berhitung.  Laporan peningkatan literasi Indonesia (sebagai bagian dari laporan literasi dunia UNESCO diatas) memaknai literasi sebagai semata-mata soal tren penurunan tingkat buta huruf Indonesia,  seiring dengan pemerataan pendidikan dasar.

Tampaknya paradigma lama literasi ini masih menjadi panduan dalam pengambilan kebijakan kementerian pendidikan. Akibatnya, kemampuan siswa Indonesia untuk mengingat apa yang mereka baca, mereflesikan, dan menimbang secara kritis terbukti sangat rendah. Hasil literasi survai dunia PISA terakhir tahun 2009 menempatkan Indonesia di urutan ke 62 dari 72 negara, tertinggal jauh dari Thailand  (53) dan Malaysia (55).

Untuk mengatasi ketertinggalan ini, yang paling mendesak untuk dilakukan adalah  adalah merevisi paradigma usang literasi dan menggantinya dengan paradigma yang lebih merefelkesikan kebutuhan berliterasi di era ketika siswa dikelilingi teks, informasi dan gambar dari pelbagai penjuru.  Upaya strategis yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan daya literasi Indonesia secara menyeluruh dan berkesinambungan adalah dengan memulainya dari pendidikan di sekolah.

Negara dengan tingkat literasi tinggi seperti Finlandia, Jepang, dan Amerika secara sistematis menempatkan buku sebagai pusaran kegiatan pembelajaran. Di Amerika, misalnya, sejak jenjang pendidikan dini anak diperkenalkan dengan konsep buku dan berdialog dengan teks dan gambar. Dengan dibantu guru, sejak belia siswa dibiasakan bertanya termasuk pesan apa yang ingin disampaikan oleh pengarang buku. Mereka belajar berdialog dengan teks, bukan sekedar membaca sambil lewat. Di jenjang sekolah dasar, siswa dikondisikan untuk belajar memperkaya kosakata dan menumbuhkan daya analisa mereka menggunakan bacaan berjenjang (leveled reading) yang disesuaikan dengan tingkat kognitif dan kematangan mereka. Bacaan berjenjang biasanya dibedakan seberapa kompleks bacaan (seperti kosakata, struktur, logika, dan konsep). Ketika di tingkat menengah, siswa akan terbiasa mendiskusikan buku beragam genre, dan teks beragam bentuk (seperti digital) dengan tingkat kesulitan sesuai dengan yang diharapkan di perguruan tinggi ataupun dengan kebutuhan literasi ketika mereka terlibat langsung dengan masyarakat luas. Pada akhirnya, keterbiasaan dengan buku akan menumbuhkan cinta mereka terhadap membaca.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kasus di atas? Satu hal yang pasti: peningkatan literasi terkait erat dengan pengoptimalan peran buku. Fungsi buku dan teks bukan sekedar rujukan, tapi juga sebagai medium untuk berpikir kritis dengan cara mendiskusikan makna yang bukan sekedar permukaan. Pendidikan yang melibatkan buku dan bahan bacaan (lebih dari sekedar textbook) sebagai sumber ajar akan memfasilitasi guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang dialogis, aktif, dan kritis.

Buku tentu saja bukan satu-satunya faktor di sini.  Peningkatan literasi siswa juga mengandaikan perlunya guru dipersiapkan untuk menanamkan pemahaman literasi dan mengajarkannya di kelas. Dengan begitu, siswa punya kesempatan meningkatkan daya literasi mereka di sekolah.

Hubungan antara literasi dan peran guru inilah yang menjadi salah satu temuan penelitian saya dua tahun lalu di Jakarta. Saya melibatkan mahasiswa calon guru  di UIN Jakarta  sebagai fokus penelitian. Mereka saya minta untuk belajar memahami dan membaca buku dan teks dengan kritis. Ketika membaca buku berilustrasi, saya memperkenalkan konsep narasi dalam relasi teks dan gambar yang ada dalam suatu buku. Asumsinya, teks dan gambar sejatinya memiliki cara unik untuk menyampaikan cerita sesuai dengan yang diinginkan oleh pengarang. Saya meminta para mahasiswa calon guru tersebut  untuk lebih memperhatikan secara saksama pesan dalam teks, dan bagaimana pesan itu disampaikan, dan efek apa yang diinginkan terhadap pembaca. Hasilnya, mereka membaca dengan lebih kritis dan cenderung tidak menerima begitu saja informasi yang mereka baca.

Paradigma baru literasi, yang tak lagi berpuas diri pada kemampuan baca tulis melainkan juga penigkatan daya nalar siswa, tentunya mensyaratkan proses peningkatan literasi yang berkesinambungan, dari jenjang  pendidikan dini hingga dewasa. Tak ada jalan pintas untuk itu. ***