foto oleh Yulian Hendriyana
http://www.flickr.com/people/yulianfh/

Hari Rabu malam lalu, saat saya sedang beristirahat di kamar dan melepas lelah sepulang dari kantor, tiba-tiba handphone saya berbunyi. Di layar tertera nama Yudyastawa, Sales & Distribution Division Head di perusahaan bank mikro tempat saya bekerja. “Huff, urusan pekerjaan memang sering bisa mengikuti kita sampai rumah,” pikir saya. “Kresh, sudah di rumah kan? Lagi nganggur?” tanya pak Yudy di ujung sana. Harus jawab apa nih? Saya pun menjawab dengan balik bertanya, “Kenapa, Pak? Ada yang perlu saya kerjakan?” Ia menjawab, “Dulu waktu aku cerita soal cafe yang live music-nya blues sama reggae kamu kan tertarik. Ini aku lagi ada di Jakarta. Ayo kita ke sana, tak temenin kamu.” Waah, ternyata bukan masalah kerjaan. Sebenarnya saya sudah mulai mengantuk ketika menerima telepon itu. Tapi rasa penasaran saya selalu mengalahkan kantuk. “Ok, Pak. Saya jemput Bapak di hotel tempat Bapak menginap, terus kita ke sana bareng ya, Pak? Sampai ketemu.”

Saya pun meluncur ke tempat pak Yudy menginap di hotel Formule 1 di daerah Menteng. “Cafenya di mana, Pak?” tanya saya setelah bertemu. “Lha ini di belakang hotel, kita jalan aja,” jawabnya. Ternyata saya dibawa ke BB’s Blues and Reggae Cafe and Club di belakang Plaza Menteng di Jl. Cokroaminoto. “Hmm, tempatnya lumayan nggak meyakinkan nih,” pikir saya pertama kali melihat tempatnya dari luar yang tidak tampak semeriah cafe-cafe lain. Saya toh tetap mengikuti pak Yudy masuk ke dalam. Disambut oleh pramusaji di pintu depan, pak Yudy langsung bertanya, “Tony Q main nggak malam ini?” “Main, Pak,” jawab si pramusaji. “Tony Q siapa, Pak?” tanya saya. “Wuah, ndeso kamu,” jawab pak Yudy sambil berjalan masuk, “Nanti kamu tak kenalin”.

Waktu itu sudah jam 23.40 malam. Pak Yudy berjalan di depan saya dan hendak menaiki tangga menuju lantai dua, namun tiba-tiba ia berhenti dan melihat ke dalam ruangan cafe di lantai satu. Seperti menemukan sesuatu, ia langsung berjalan masuk ke ruangan di lantai satu itu menuju ke arah bar tempat sekumpulan orang sedang duduk berbincang-bincang. “Mas Tony, gimana kabarnya, Mas?” seru pak Yudy sambil menepuk pundak seseorang berambut gimbal yang duduk di bar (di situ hanya dia yang berambut gimbal). Orang itu menoleh, terkejut melihat pak Yudy dan langsung menyapa balik sambil menyalami pak Yudy, “Wah, Mas, gimana kabarnya? Suwe ora ketemu.” “Baik, Mas. Ini aku bawa teman juga, kenalin namanya Kreshna,” kata pak Yudy sambil mengenalkan saya kepada mas Tony Q.

Saya (sebelumnya) bukan penggemar reggae. Saya tidak mengenal nama Tony Q Rastafara. Baru esok harinya ketika saya browsing internet saya tahu betapa dalam dunia reggae Indonesia Tony Q Rastafara sudah dianggap sebagai legenda. Namun saat berbincang malam itu saya tidak punya referensi dan pengetahuan apapun tentangnya. Pada awalnya perbincangan berisi basa-basi pak Yudy dan Tony Q yang ternyata saling kenal cukup lama. Setelah itu perbincangan beralih ke peran teknologi informasi dan komunikasi yang membawa perubahan besar bagi industri musik. Setiap saya bertemu dengan orang yang sukses di bidangnya saya selalu penasaran tentang perjuangan apa saja yang telah dilaluinya serta pendidikan seperti apa yang ia dapat. Tidak tahan mengikuti perbincangan yang menurut saya tidak terlalu bisa bawa value added buat saya, saya pun nyelonong mengajukan pertanyaan, “Mas Tony dulu sekolahnya apa sih?”

“Aku dulu lulusan STM, Mas,” jawabnya. “Lho, trus ceritanya kok jadi pemusik gimana?” tanya saya lagi. Ia pun bercerita, dulu ia sempat bekerja di perusahaan Singapura di bagian Quality Control selama dua tahun, namun karena memang minat dan bakatnya sejak kecil adalah di bidang musik ia pun memilih untuk mengundurkan diri dan mengejar cita-citanya menjadi pemusik di Jakarta. Tentu saja ia tidak menjadi pemusik karbitan seperti layaknya para artis yang tiba-tiba mengeluarkan album tanpa modal suara yang cukup. Tony Q memulai perjuangannya di Jakarta dengan menjadi pengamen jalanan. Dari sanalah pelan-pelan ia mulai menapaki kariernya sebagai pemusik. Awalnya ia lebih sering bermain musik country, sampai akhirnya ia pun “mengundurkan diri” dari musik country dan mengejar passion sesungguhnya dengan bermain musik reggae dan meraih posisi di dunia musik reggae Indonesia seperti saat ini. (Kisah perjalanan kariernya yang lengkap bisa dibaca di halaman MySpace miliknya.)

Tony Q tidak hanya bermain musik reggae, namun ia menciptakan aliran musik reggae khas Indonesia dengan mencampurkan musik tradisional Indonesia ke dalam lagu-lagunya. Dalam lagu Ngayogjokarto yang berbahasa Jawa, terdengar musik gamelan Jawa. Lalu musik Sunda juga dimasukkan ke dalam lagu Paris Van Java yang berbahasa Sunda. Sedangkan pada lagu Pesta Pantai, suara gamelan Bali membawa kenangan kita akan pantai-pantai intah yang bertebaran di Bali. Rupanya jiwa pemberontak Tony Q pun ia terapkan pula kepada sesuatu yang dicintainya, yaitu musik reggae.

Masih penasaran, saya bertanya lagi, “Lha dulu orang tua gimana tanggapannya, Mas, waktu Mas Tony ngamen di Jakarta.” Ia spontan menjawab, “Wah ya stress! Sempet malu juga anaknya jadi pengangguran trus jadi pengamen di Jakarta. Malu sama tetangga, malu sama keluarga.” “Lalu gimana cara meyakinkan mereka?” tanya saya lagi. “Yah, waktu itu aku ya ngotot aja. Aku bilang sama orang tuaku kalau ini yang aku suka dan yang penting kan aku nggak menyusahkan orang lain. Kadang-kadang aku bantah juga. Dulu Bapakku yang kerjanya masinis pernah bilang supaya jangan sampai aku ngikutin kerjaan bapak. Lha waktu aku nganggur, bapak malah menawarkan aku kerja di tempat bapak karena lagi ada lowongan juga. Ya aku bilang sama bapak, ‘Lho, Bapak kan dulu bilang kalau aku nggak boleh sampai ngikutin kerjaan Bapak?’ Bapak langsung nggak bisa ngomong, ha ha ha.”

“Kalau suka musiknya dari dulu, Mas? Belajar di mana?” saya terus saja menggali masa lalunya untuk mengetahui rahasia suksesnya. Ia menjawab, “Kalau musik aku otodidak, Mas. Nggak ada yang ngajari.” Luar biasa! Ia meneruskan lagi, “Aku juga suka ngelukis, Mas. Seneng banget aku kalau ngelukis.” Dalam percakapan itu memang ia beberapa kali menyebutkan soal kegemarannya melukis. Saya pikir, ia memang suka bermusik, tapi ia sepertinya juga sangat menyukai melukis sampai mungkin melebihi kegemarannya bermusik. Lha disebut-sebut terus. Saya pun berpikir kalau seperti itu kenapa dia tidak kejar juga ya passion melukis itu. Belum sempat saya tanyakan ternyata dia sudah melanjutkan bercerita dengan semangat tanpa ada kesan kesombongan, “Lukisanku sudah laku 30-an, Mas. Beberapa dibeli sama orang luar negeri.” What??! Orang ini punya dua passion, dia kejar dua-duanya, dan dua-duanya sukses? Sudah gitu tetap humble pula? Sungguh luar biasa!

Saya sebenarnya masih ingin bertanya lebih banyak lagi, namun tiba-tiba seseorang menghampiri Tony Q dan mengingatkan bahwa sudah waktunya ia tampil. Tony Q pun pamit pada saya dan pak Yudy setelah menanyakan apakah kami akan melihat penampilannya. Ya memang kami datang ke sana untuk tujuan itu. Berbincang-bincang dengannya adalah bonus bagi saya.

Pak Yudy pun mengajak saya naik ke lantai dua tempat Tony Q akan tampil. Sambil menaiki tangga saya masih tetap memikirkan kembali percakapan kami dengan Tony Q beserta segala hikmah yang bisa saya ambil dari percakapan itu. Betapa saya sekarang mengerti pentingnya mengejar passion dalam hidup. Bila sekolah formal tidak menyadarkan kita pentingnya mengejar passion dan talent serta membantu kita menjadi diri kita sendiri yang terbaik dan pasti berbeda dengan anak-anak lain, tidak masalah, maka belajarlah di sekolah kehidupan seperti yang dilakukan Tony Q. Memang benar bahwa dalam jangka panjang, jauh lebih menyenangkan dan menguntungkan untuk doing what you love daripada maksa-maksa loving what you do.

Di lantai dua telah berkumpul komunitas pecinta musik reggae. Kebanyakan adalah anak-anak muda usia kuliahan, sebagian berambut gimbal. Tony Q melangkah ke area panggung dan menyapa mereka semua, “Yoo Man.” Mereka bersorak menyambut idola mereka. Tanpa basa-basi, Tony Q Rastafara langsung memainkan lagu-lagu mereka yang ternyata saya sangat menikmati! Saya pun langsung memutuskan menjadi penggemar musik reggae Indonesia malam itu, sambil mengagumi bagaimana mas Tony Q begitu menikmati dirinya sendiri saat menyanyikan lagunya yang berjudul This is My Way dan menjiwainya seperti layaknya sebuah lagu kemenangan…

 

Dari dahulu aku memang suka jalan ini

Tak perlu kau tanyakan lagi mau ke mana

Segala problema juga resikonya kan kuhadapi

Jangan rayu lagi untuk mencoba jalan yang lain

This is my way…

I love my way…

***