Pekerjaan Rumah (PR) adalah salah satu strategi yang terus ramai diperdebatkan. Beberapa akademisi pendidikan yang kontra terhadap PR menggunakan data yang menunjukkan dua hal. Pertama, tidak ada hubungan antara PR dengan prestasi belajar. Artinya, mau diberikan PR ataupun tidak, siswa bisa saja mendapat nilai tinggi ataupun rendah. Kedua, ada penelitian lain yag menunjukkan bahwa ada hubungan yang negatif antara dua hal: a) waktu yang digunakan anak untuk mengerjakan PR dan bantuan orangtua untuk mengerjakaannya, dengan b) prestasi akademik (lihat gambar 1). Apa maksudnya hubungan yang negatif ini? Artinya, anak-anak yang menghabiskan waktu lebih banyak untuk mengerjakan PR – dan mereka dibantu orangtuanya untuk mengerjakan PR ini – mempunyai prestasi akademik yang lebih rendah dibandingkan siswa yang tidak menghabiskan banyak waktu untuk mengerjakan PR. Hasil penelitian ini diinterpretasikan sebagai: PR justru melemahkan prestasi akademik. Benarkah demikian?

gambar 1

Joyce Epstein (2011) mengulas penelitian ini dengan mengatakan bahwa kita harus hati-hati dalam menerjemahkan hasil penelitian tersebut. Sebenarnya, menurut Epstein, hal tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang prestasi akademiknya rendah membutuhkan waktu lebih banyak untuk mengerjakan PR. Mereka juga membutuhkan bantuan lebih besar dari orang tua. Hal ini terkait dengan kebijakan guru di kelas, yang meminta orangtua dari anak-anak yang mengalami kesulitan belajar untuk membantu anak mengerjakan PR. Sementara orangtua yang anak-anaknya dianggap sudah cukup baik prestasinya, tidak diharapkan demikian.

Selajutnya Epstein membelokkan penelitian tentang PR ini dari semula membahas “perlu atau tidak perlu” ke arah “apa guna PR sebenarnya”. Pekerjaan rumah – seperti halnya pembelajaran berkelompok, berdebat, berdiskusi – jika dilakukan dengan cara dan tujuan keliru maka ia tidak ada manfaatnya untuk meningkatkan prestasi belajar. Dengan kata lain, jika PR sekedar tradisi, bisa jadi ia tidak diperlukan lagi.

Epstein merangkum 10 tujuan PR yang ia kumpulkan dari penelitian sebelumnya. Sepuluh tujuan ini tidak semuanya penting, tapi demikianlah respon dari guru dan kepala sekolah ketika mereka ditanya alasan memberikan PR. Sepuluh tujuan tersebut adalah:

  1. Untuk latihan, supaya lebih menguasai dan berlatih keterampilan mengerjakan soal.
  2. Untuk mempersiapkan diri memasuki bab/pokok bahasan berikutnya.
  3. Untuk meningkatkan minat pada materi belajar, karena PR dapat membuat anak terbiasa membaca/menulis tentang pokok bahasan tersebut.
  4. Untuk meningkatkan karakter anak: disiplin, tanggung jawab, manajemen waktu, dan berlatih untuk bekerja keras.
  5. Untuk meningkatkanhubungan positif antara orangtua dan anak. Lewat PR, akan terbangun komunikasi, bagaimana orangtua dapat memberikan penguatan tentang materi belajar, dan contoh-contoh penerapan pelajaran di kehidupan sehari-hari.
  6. Sebagai media komunikasi antara guru dan orangtua. Guru dapat memberikan informasi tentang apa yang sedang dipelajari, sekaligus melibatkan orangtua dalam proses belajar anak.
  7. Untuk melatih anak bekerjasama dengan temannya. PR dapat menjadi media untuk melatih anak berdiskusi, berbagi tanggung jawab, peran dan fungsi dalam menyelesaikan masalah.
  8. Untuk memenuhi arahan dari pihak atasan (tuntutan peraturan).
  9. Untuk membangun citra publik bahwa sekolah mempunyai komitmen besar untuk meningkatkan prestasi belajar.
  10. Sebagai hukuman, misalnya karena tidak membawa buku, dan sebagainya.

Kita boleh setuju ataupun tidak dengan sepuluh tujuan PR di atas. Dan mungkin karena salah satu atau lebih alasan di atas, kita menjadi tidak setuju dengan adanya PR. Sementara itu, karena salah satu atau lebih alasan lainnya, kita bisa jadi setuju dengan adanya PR. Apapun tujuan yang kita pilih (atau bahkan kita punya tujuan lain di luar 10 tujuan di atas), yang paling penting adalah: 1) bagaimana PR dirancang, dan 2) kebijakan apa yang ditetapkan di sekolah untuk mencapai tujuan tersebut.

Tidak adanya disain dan kebijakan yang jelas di sekolah tentang PR akan memperkeruh perdebatan tentang perlu tidaknya PR. Sebagai contoh, jika memang PR diberikan untuk membangun komunikasi antara anak dengan orangtua, maka seharusnya bukan saja orangtua dari anak-anak yang mengalami kesulitan belajar yang diminta untuk membantu mengerjakan PR, tetapi semua orang tua. Lalu seperti apa instruksi pengerjaan PR tersebut, apakah semata-mata memberikan soal, atau ada arahan untuk berdialog dengan orang tua? Jika memang PR tidak layak dijadikan alat untuk menghukum, apakah ada peraturan tentang ini di sekolah? Jika tujuan PR adalah untuk persiapan/perkenalan materi berikutnya, apakah tepat jika PR digunakan sebagai rujukan nilai akhir?

Masih banyak yang bisa didiskusikan tentang PR dan penelitian terkait dengannya, tetapi saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan dua hal. Pertama, saya ingin mengajak teman-teman pendidik untuk merefleksikan kembali, mengapa di sekolah kita memberikan – atau tidak memberikan – PR kepada anak didik. Tujuan PR di sekolah sebenarnya apa, dan apakah tujuan tersebut sesuai dengan kebutuhan belajar atau tidak? Setelah kita memahami tujuannya, apakah disain PR selama ini sesuai untuk mencapai tujuan tersebut? Perlukah kita mencari informasi dan bantuan tentang bagaimana merancang PR yang baik sesuai tujuan?

Kedua, jika orangtua adalah pihak yang ingin kita libatkan dalam PR ini, kita perlu refleksi juga, apakah orangtua murid mempunyai kapasitas untuk membantu anak-anak mereka? Terlebih jika materi sudah cukup tinggi (di SMP atau SMA), kadang orangtua merasa tidak percaya diri untuk membantu anak mereka. Bagaimana jalan keluarnya? Perlukah diberikan catatan untuk orangtua tentang bagaimana mereka bisa membantu anak di rumah, walau mungkin tidak secara langsung tetapi misalnya memantau projek atau meminta anak mempresentasikan hasil PR mereka ke orangtua, atau menfasilitasi belajar kelompok? Dan akhirnya, semoga kita tidak memberikan PR semata-mata karena tradisi, ataupun menentang PR semata-mata juga karena ingin melawan tradisi.

 

Epstein, J.L. (2011). School, Family, and Community Partnership (2ed.). Philadelphia, PA: Westview Press.