Oleh : Ardanti Andiarti

 

“Education is not preparation for life. Education is life itself.”

John Dewey

 

Bagi yang berkecimpung di dunia pendidikan, petikan di atas tentu tidak asing bagi kita. Nama John Dewey ini cukup sering lalu lalang di banyak artikel dan buku-buku pendidikan. Beliau bukan hanya dikenal sebagai tokoh pendidikan dan psikolog saja, namun juga diakui sebagai seorang filsuf, jurnalis, politikus juga. Saat memahami dan mengintepretasi sebuah petikan, kita perlu mencoba untuk melihat konteks bagaimana petikan itu bisa muncul : Siapa yang menuliskannya? Bagaimana latar belakangnya?  Apa tujuannya? Apa makna pendidikan untuk beliau? Persiapan macam apa yang dimaksud di situ? 

Kali ini saya hanya mencoba untuk mengambil makna di “kulit”-nya saja dahulu. Ketika kita terus belajar dan membiasakan untuk mengambil makna dalam setiap kejadian dalam hidup kita, ya betul, education is life itself. Sebuah pendidikan yang “tidak disengaja”. Kita menjalani apa yang menjadi ketetapan Tuhan. Melalui berbagai kesempatan, ujian, cobaan, Tuhan “mendidik” kita menjadi manusia yang lebih baik dan lebih baik lagi. Naik kelas dengan ujian yang lebih berat. Tinggal bagaimana kita menjadikan diri kita sebagai murid kehidupan. Bagaimana kita menjalani kehidupan adalah sebuah proses belajar.

Tapi, mengapa saat itu beliau berpikir bahwa sebagian orang menanggap pendidikan itu sebuah persiapan untuk hidup? Apa mungkin pendidikan yang dimaksud itu adalah sekolah? Sepertinya kita perlu mengingatkan kembali bahwa pendidikan itu tidak hanya sekolah. Sekolah hanya salah satu bentuk pendidikan yang “disengaja”.

 

Sekolah dan guru.

Saat menyebutkan kata “guru”, harus diakui saat ini masyarakat kita mengasosiasikannya dengan sekolah. Tidak bisa dimungkiri, pendidikan kita saat ini masih bergantung dengan sekolah sebagai pilihan paling umum sebuah bentuk transfer nilai-nilai. Masyarakat masih berharap sang “murid” akan memiliki bekal untuk menjalani hidup (yang diharapkan) dalam tatanan masyarakat tertentu.

Saya setuju, guru adalah ujung tombak pendidikan di sekolah, dan menjadi salah satu titik yang paling penting dalam pembelajaran. Guru, adalah orang di balik layar yang merencanakan sebuah proses yang menjadi sistematis dan terstruktur dengan metoda-metoda yang terencana sehingga murid bisa mempelajari beberapa hal tertentu lebih “cepat” dibandingkan jika kita tidak bersekolah. Namun, belajar yang “disengaja” ini juga bisa saja tidak melalui sekolah, misalnya saat kita meniatkan diri untuk merekayasa sebuah proses belajar. Kita tinggal mencari “guru” yang sesuai untuk membantu proses belajar kita.

 

Setiap orang adalah guru.

Saat kita membahas tentang seorang guru, kadang kita lupa bahwa guru tidak hanya orang-orang yang mendidik kita di sekolah. Kalau kita menilik kembali arti sebenarnya dari kata guru yang berasal dari bahasa Sansekerta, penghilang kegelapan, atau sebuah “perjalanan” dari gelap menuju terang, setiap orang yang kita jumpai bisa menjadi guru.

Melalui salah satu kacamata saya, sekolah sejatinya menjadi salah satu tempat penempaan di mana muridnya akan lebih berproses menjadi “manusia”, tempat mendidik diri menjadi pembelajar seumur hidup. Sekolah bisa membangun “guru-guru” yang baik, tidak hanya untuk orang lain tapi lebih penting bagi dirinya sendiri. Berusaha lebih baik di setiap waktunya, mengembangkan kemampuan dalam memanfaatkan akal dan hati kita untuk menjadi “manusia”, terlepas dari pendidikan macam apa yang dilewati. Sengaja ataupun tidak disengaja.

Di Hari Guru kali ini, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk guru-guru saya, semua orang yang saya kenal dan tidak kenal yang membantu saya untuk melenturkan dan mengembangkan diri, terutama murid-murid saya di Rumah Belajar Semi Palar yang selalu membuat saya banyak belajar.

 

Selamat Hari Guru!

 

*Diterbitkan di Belia-Pikiran Rakyat pada 25 November 2014