Tulisan ini dimuat di majalah Voice+, Vol 12, Juli 2013

Paul Goodman, kritikus sosial dan cendekiawan publik dari AS pernah mempertanyakan di tahun ’60-an tentang fungsi persekolahan. Ia mengutarakan kritiknya tentang sistem pendidikan publik secara mendalam dalam karyanya, Growing Up Absurd dan Compulsory Miseducation.

Goodman mengingatkan pada kita bahwa sebelum muncul sistem pendidikan publik seperti yang kita lihat saat ini, pendidikan di seluruh peradaban terjadi secara insidental. Orang dewasa melakukan aktivitas sosialnya dengan melibatkan anak secara aktif alih-alih diisolasi dalam tembok sekolah.

Menurutnya, model sekolah saat ini menghambat tumbuh kembang alami anak. Memfasilitasi pertumbuhan melalui metode dan kurikulum baku dan tunggal hanya akan menyia-nyiakan potensi manusia untuk belajar dan berkarya. Hanya sebagian kecil anak yang “berbakat akademik” yang akan mampu melewati persekolahan tanpa merasa bosan atau dihambat. Bakat akademik memang memerlukan kecerdasan tinggi, namun salah apabila kita menganggap kecerdasan tinggi hanya terwakili oleh kemampuan akademik.

Sayangnya kita terlanjur percaya bahwa model persekolahan formal adalah satu-satunya jalan menjadi terdidik. Sedangkan Goodman malah mengusulkan agar pendidikan disebar ke pabrik, museum, taman, perkantoran, dll.

Beberapa hal lain yang juga diusulkan oleh Goodman:

  • Pendidikan insidental, di mana anak terlibat aktif dalam kegiatan sosial masyarakat, seharusnya menjadi model utama pembelajaran.
  • Tugas utama pendidik adalah menemukan dan menjembatani aktivitas di masyarakat yang menyediakan pembelajaran insidental. Pendidik juga bisa membantu menciptakan aktivitas di masyarakat yang memunculkan kesempatan pendidikan insidental.
  • Tujuan dari pedagogi dasar, sampai usia 12 tahun, adalah untuk melindungi tumbuh kembang alami anak. Jangan sampai masyarakat dan keluarga memberi tekanan berlebih pada anak dan tidak benar-benar memperhatikan mereka.
  • Kebanyakan sekolah menengah seharusnya ditiadakan dan diganti dengan berbagai gerakan kepemudaan yang melatih fungsi sosial mereka.
  • Pendidikan tinggi seharusnya mengikuti masuknya seseorang ke sebuah profesi, bukan sebaliknya.

Sejak Goodman mengeluarkan kritiknya tentang sistem pendidikan publik, tren persekolahan di dunia justru menuju arah sebaliknya. Ia pun menyadari bahwa usulannya akan dianggap radikal dan memerlukan perubahan besar. Namun saat ini integrasi persekolahan dan masyarakat mulai ramai disuarakan kembali oleh para pakar seperti Sir Ken Robinson, Sugata Mitra, John Moravec, dll.

Integrasi sekolah dan masyarakat kini semakin dimungkinkan oleh kemajuan teknologi. Dengannya, masyarakat dapat membangun jejaring-jejaring belajar dan terlibat aktif dalam proses pendidikan anak-anaknya. Apabila sekolah tidak mengubah paradigmanya dan memilih untuk semakin memperkuat tembok pemisah dengan masyarakat, maka tembok-tembok itu akan runtuh dengan sendirinya dengan membawa serta relevansi persekolahan di abad 21 ini.