Sudah beberapa kali kita mendengar penguasa pendidikan kita berucap, “Kalau tidak ada UN maka anak-anak tidak akan belajar.” Atau ada juga mantan penguasa yang dengan yakin berkata, “Lebih baik seribu anak stress [karena UN] daripada sejuta anak bodoh.”

Dari pernyataan ini kita bisa melihat bahwa mereka bermazhab forced learning. Mereka percaya bahwa belajar bukanlah sesuatu yang secara alami ingin dilakukan oleh anak maka ia harus dipaksa, terutama dengan disinsentif seperti ketidaklulusan sekolah. Tapi apakah benar paksaan bisa menjadi insentif yang baik untuk belajar?

Ada beberapa masalah mendasar dalam paradigma forced learning, utamanya terkait pesan yang diterima oleh si anak. Yang paling mendasar adalah forced learning menghancurkan hasrat belajar anak.

Anak akan merasa belajar bukanlah sesuatu yang menyenangkan dan tujuan belajar adalah untuk menyenangkan figur otoritatif [misal: guru, pemerintah, dll] alih-alih untuk kepuasan dirinya sendiri. Ia akan berpikir bahwa untuk menjadi siswa yang baik ia harus mempelajari apa yang menjadi minat dan kepentingan orang lain.

Dengan forced learning, belajar dikaitkan dengan perasaan takut dan keterpaksaan. Keinginan dan kemampuan berpikir kritis akan terkalahkan oleh insentif untuk memenuhi standar minimum yang ditetapkan oleh figur otoritatif. Anak akan merasa bahwa meraih standar minimum sudah cukup, tak perlu mengejar penguasaan untuk sesuatu yang menjadi hasratnya.

Saat anak mendapat waktu luang untuk lepas dari paksaan ini maka ia akan berlari menghindar dari belajar dan berusaha mencari kesenangan dalam bentuk lain. Dengan paradigma forced learning, kita akan bisa memaksa anak studying, tapi jangan terlalu berharap mereka mendapatkan learning sebenarnya.

Lebih parah lagi ketika forced learning diterapkan untuk memaksa anak melewati satu alur pendidikan [baca: persekolahan] standar. Maka akan terjadi penciutan keragaman keahlian, pengetahuan dan cara berpikir.

Mazhab alternatif dari forced learning adalah self-directed learning yang berusaha membangkitkan hasrat belajar anak dan mendorongnya mengarahkan sendiri serta bertanggung jawab penuh pada proses pembelajarannya.

Sugata Mitra, pakar teknologi pendidikan, membuat heboh dunia dengan eksperimen Hole in the Wall-nya yang membuktikan bahwa anak-anak mampu mengajari diri mereka sendiri dan memimpin arah proses pembelajarannya.

Meminjam istilah Prof. Iwan Pranoto, tugas pendidik yang utama adalah membuat anak kasmaran belajar. Learning should be a reward in itself. Memang sulit, tapi bukan alasan untuk ditinggalkan. Itulah mengapa guru adalah profesi mulia.

Maka ketika kita mendengar seorang pendidik mengatakan bahwa anak-anak tidak akan belajar bila tidak dipaksa, sesungguhnya ia sedang mengakui bahwa ia gagal membuat siswanya berhasrat belajar.