Bandung, 18 Juni 1997 (diedit pada 4 Juni 2013)

Pada pertengahan tahun seperti sekarang ini anda mungkin sempat mendengarkan dua orangtua murid berbincang-bincang tentang anaknya yang baru saja naik kelas atau lulus SD/SMP/SMA, kira-kira sebagai berikut:

‘’Bagaimana putra Anda, lulus?’’

‘’Ya… lulus. Putri Anda lulus juga, ‘kan?’’

‘’Lulus dengan peringkat kesatu lho di kelasnya!’’

‘’Wah, selamat ya! Putra saya hanya peringkat kelima!’’

‘’Berapa total nilai UN putra Anda?’’

‘’Hanya 34. Nilai UN putri Anda pasti jauh lebih tinggi ya?’’

‘’Ya… 37 kalau saya ngga salah!’’

‘’Wah, hebat ya!’’

Kedua orangtua murid tersebut lalu mengakhiri bincang-bincangnya.

            Mendengar percakapan seperti itu saya biasanya langsung berpikir. Hebat benar kedua orangtua murid tersebut, dapat bercerita tentang kemampuan anaknya secara numerik. Sepertinya mereka telah sepakat betul dengan makna angka-angka tadi. Sedangkan saya malah bertanya-tanya dalam hati: seberapa pintar anak mereka, kemampuan apa saja yang dimilikinya?

***

            Kalau kita menjumpai seorang anak kecil berusia sekitar 6 tahun, biasanya kita bertanya kepada anak tersebut apakah ia sudah sekolah, sudah belajar apa saja, sudah bisa bernyanyi atau belum, sudah bisa berhitung atau belum, sudah bisa menghitung sampai berapa. Namun ketika seorang anak naik kelas atau lulus SMP, misalnya, yang sering ditanyakan adalah peringkat atau nilai Ujian Nasional-nya. Sedangkan kemampuan khusus yang dimilikinya atau —yang lebih penting daripada itu— seberapa baik karakternya, hampir tidak pernah ditanyakan.

            Memang, peringkat atau nilai UN menunjukkan kemampuan si anak secara numerik. Namun apakah benar murid yang memperoleh peringkat kesatu di kelasnya secara kualitas lebih baik daripada teman-teman sekelasnya? Lebih jauh lagi, apakah dua murid yang sama-sama meraih peringkat kesatu di kelasnya masing-masing secara kualitas sama baiknya? Kemudian apakah murid yang memperoleh total nilai UN 37 memang lebih berkualitas daripada murid yang memperoleh nilai UN 34?

            Pemeringkatan dan UN dengan nilai raihannya pada kenyataannya telah membuat para orangtua murid dan juga kalangan guru ‘terjebak’ dengan angka-angka numerik tersebut. UN, seperti kita ketahui, selama sekian tahun ini dipakai sebagai kriteria utama seleksi masuk sekolah lanjutan baik negeri maupun swasta. Lalu apa yang terjadi? Baik murid, orangtua murid,  guru, maupun pihak sekolah berlomba-lomba supaya si murid memperoleh nilai UN yang tinggi. Dan, seperti kita sering mendengar, cara-cara ilegal pun kalau perlu ditempuh untuk mendapatkan nilai UN yang tinggi tersebut, supaya si murid dapat melanjutkan sekolahnya di sekolah yang didambakan.

            Kita juga sering mendengar orangtua murid yang tidak bisa menerima ketika anaknya tidak naik kelas, misalnya. Lalu ia datang menemui kepala sekolah dan mempertanyakan kenapa anaknya bisa tidak naik kelas, padahal dulu di SD anaknya selalu peringkat kesatu dan lulus dengan nilai UN tertinggi. 

            Murid yang meraih peringkat kesatu atau nilai UN tertinggi sesungguhnya belum tentu yang terbaik secara kualitas. Apalagi bila dibandingkan dengan murid dari sekolah lain. Di samping itu, peringkat dan nilai UN hanya bersifat sementara. Kualitas seorang murid yang bersifat lebih langgeng sering kali lebih banyak ditentukan oleh karakter murid tersebut. Sayangnya, aspek ini jarang atau bahkan tidak pernah diperhitungkan dalam menilai kualitas seorang murid. Asalkan mempunyai nilai UN yang tinggi, tidak peduli apakah ia sombong, tidak bisa bergaul, tidak jujur, atau licik, ia akan diterima di sekolah manapun.

            ***

            Di perguruan tinggi, hal serupa juga terjadi. Prestasi seorang mahasiswa sering diukur dengan IPK atau Indeks Prestasi Kumulatif yang dicapainya. Bahkan predikat cum laude pun diberikan kepada mahasiswa yang lulus dengan IPK yang tinggi tanpa banyak pertimbangan mengenai aspek-aspek lainnya.

            Ketika seorang mahasiswa lulus menjadi sarjana dan kemudian melamar kerja, IPK-nya lah yang pertama-tama akan dipertanyakan oleh instansi atau perusahan yang ia lamar. Untuk menjadi dosen di kebanyakan universitas di Jawa, misalnya, IPK-nya tidak boleh kurang dari 2,75 (pada skala 4,00). Sementara itu banyak perusahaan swasta di Jakarta mempersyaratkan si pelamar memiliki IPK minimal 3,00.

            Tidak mengherankan apabila perguruan tinggi kemudian berlomba meningkatkan IPK lulusannya, supaya lulusannya mudah mencari kerja. Seorang rekan pernah bercanda: apa sulitnya meningkatkan IPK mahasiswa, turunkan saja standar penilaiannya sehingga mahasiswa mudah memperoleh nilai A (= 4,00 x bobot mata kuliah) atau B (= 3,00 x bobot mata kuliah). Namun apakah betul lulusannya nanti akan mudah memperoleh kerja?

            Sekarang ini banyak instansi atau perusahaan, khususnya perusahaan asing, yang tidak hanya melihat IPK si pelamar melainkan juga karakter, wawasan, pengalaman berorganisasi, dan sebagainya melalui wawancara. Pihak perusahaan akhirnya tahu juga lulusan perguruan tinggi mana yang pada umumnya baik secara kualitas walaupun IPK-nya tidak terlalu tinggi, atau sebaliknya kurang baik secara kualitas walaupun IPK-nya tinggi.

            Yang ideal, tentunya, IPK mencerminkan kualitas. Seorang sarjana dengan IPK yang tinggi seharusnya berkualitas baik (tidak hanya kemampuannya melainkan juga wawasan, sikap, dan kepribadiannya), dan sebaliknya mahasiswa yang berkualitas baik seharusnya dapat lulus dengan IPK yang tinggi. Untuk itu proses belajar-mengajar dan sistem evaluasinya tentunya harus baik.

Ini yang seharusnya menjadi tujuan sebuah lembaga pendidikan: bukan menghasilkan lulusan dengan IPK yang tinggi, melainkan menyelenggarakan pendidikan dengan proses belajar-mengajar dan sistem evaluasi yang baik.

***

            Peringkat, nilai UN, atau IPK hanyalah merupakan salah satu indikator yang berkaitan dengan kualitas seorang lulusan SD/SMP/SMA/PT. Kadang, bahkan mungkin sering, indikator ini semu dan dapat mengelabui kita. Pengamatan ekstra biasanya diperlukan untuk menilai kualitas seorang lulusan, tidak hanya menyangkut kemampuannya tetapi juga wawasan, sikap, dan kepribadiannya. Makanya ada test psikologi, dan tidak tertutup kemungkinan nanti ada test EQ (Emotional Quotient), baik secara tertulis maupun melalui wawancara. Pada saat melamar pekerjaan atau sekolah lebih lanjut, surat rekomendasi dari seseorang yang ‘mengenal’ si pelamar dengan baik biasanya diminta pula.

            Berharap bahwa proses belajar-mengajar dan sistem evaluasi hari esok akan lebih baik, saya membayangkan ada dua orangtua murid berbincang-bincang tentang anak mereka kira-kira sebagai berikut:

‘’Saya dengar putra Anda rajin dan tekun, baik tutur-katanya, dan pandai bergaul di sekolah?’’

‘’Ah, putri Anda juga cerdas dan ulet, nilai ulangan matematikanya selalu 10, dan tidak sombong!’’

‘’Katanya putra Anda paling kritis, banyak bertanya di kelas?’’

‘’Ya, dan putri Andalah yang sering kali menjawab pertanyaan-pertanyaan putra saya itu!’’

‘’Putri saya bilang cara gurunya mengajar enak, sehingga anak-anak menyukai pelajaran di kelas, dan nilai anak-anak juga jadi bagus!’’