Saat saya menulis posting tentang High Tech High School, pertama kali itu lah saya menemukan istilah Project Based Learning. Karena penasaran, saya cari tahu lebih jauh tentang PBL ini. Ternyata sangat menarik! Di internet sudah bertebaran situs-situs referensi mengenai PBL. Bahkan di situs YouTube pun sudah banyak video sekolah-sekolah, baik formal maupun alternatif, yang berani menerapkan PBL. Apakah sebenarnya PBL itu?

Sebenarnya Project Based Learning bukan hal yang baru. Guru-guru yang baik telah sering menggunakan PBL di kelas walaupun tanpa sadar. Guru yang mengajak muridnya studi lapangan, lalu membimbing muridnya mengikuti lomba ilmiah, atau mengadakan percobaan-percobaan open-ended, atau melibatkan siswanya dalam aktivitas pembelajaran dan interaksi dengan dunia nyata di luar sekolah sebenarnya telah menerapkan PBL.

PBL adalah pemanfaatan proyek dalam proses belajar mengajar, dengan tujuan memperdalam pembelajaran, di mana siswa menggunakan pertanyaan-pertanyaan investigatif dan juga teknologi yang relevan dengan hidup mereka. Proyek-proyek ini juga berfungsi sebagai bahan menguji dan menilai kompetensi siswa pada mata pelajaran tertentu, bukan dengan menggunakan ujian tertulis konvensional.

Dalam PBL, siswa mengembangkan sendiri investigasi mereka bersama rekan kelompok maupun secara individual, sehingga siswa secara otomatis akan mengembangkan pula kemampuan riset mereka. Siswa secara aktif terlibat dalam proses pendefinisian masalah, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan aktivitas investigatif lainnya. Mereka didorong untuk memunculkan ide-ide serta solusi realistis.

Secara umum, karakteristik PBL adalah sebagai berikut:

  • Siswa mengambil keputusan sendiri dalam kerangka kerja yang telah ditentukan bersama sebelumnya.
  • Siswa berusaha memecahkan sebuah masalah atau tantangan yang tidak memiliki satu jawaban pasti.
  • Siswa ikut merancang proses yang akan ditempuh dalam mencari solusi.
  • Siswa didorong untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, serta mencoba berbagai macam bentuk komunikasi.
  • Siswa bertanggung jawab mencari dan mengelola sendiri informasi yang mereka kumpulkan.
  • Pakar-pakar dalam bidang yang berkaitan dengan proyek yang dijalankan sering diundang menjadi guru tamu dalam sesi-sesi tertentu untuk memberi pencerahan bagi siswa.
  • Evaluasi dilakukan secara terus menerus selama proyek berlangsung.
  • Siswa secara reguler merefleksikan dan merenungi apa yang telah mereka lakukan, baik proses maupun hasilnya.
  • Produk akhir dari proyek (belum tentu berupa material, tapi bisa berupa presentasi, drama, dll) dipresentasikan di depan umum (maksudnya, tidak hanya pada gurunya, namun bisa juga pada dewan guru, orang tua, dll) dan dievaluasi kualitasnya.
  • Di dalam kelas dikembangkan suasana penuh toleransi terhadap kesalahan dan perubahan, serta mendorong bermunculannya umpan balik serta revisi.

Pendekatan PBL ini menciptakan lingkungan belajar di mana siswa “membangun” pengetahuan mereka sendiri. Guru di PBL benar-benar lebih berfungsi sebagai fasilitator. Bila kita lihat video-video tentang PBL di atas, serta di posting sebelumnya, benar-benar tampak antusiasme dan keterlibatan para siswa dalam proses belajar mengajar. Sungguh kelas yang menyenangkan! Bagimana dengan di Indonesia? Project Based Learning? Rasanya masih banyak tantangan yang harus dilewati. Kalau gitu di Indonesia benar-benar Curriculum Based Learning kah? Tidak juga. Dulu mungkin begitu. Sekarang ini proses belajar mengajar di Indonesia sepertinya memakai konsep UN Based Learning, alias pembelajaran berbasis Ujian Nasional. 🙂 Yang dikejar hanya nilai UN, lainnya terabaikan. Sudah saatnya mengembalikan pendidikan ke dalam sekolah.***

Sumber foto: http://syuzannatorosyan5.edublogs.org/