Satu lagi metode atau pendekatan pendidikan, terutama untuk anak usia dini, yang berbeda dari pendekatan konvensional, yaitu Reggio Emilia Approach (REA). Pendekatan ini berkomitmen “menciptakan kondisi pembelajaran yang akan mendorong dan memfasilitasi anak untuk membangun kekuatan berpikirnya sendiri melalui penggabungan seluruh bahasa ekspresif, komunikatif, dan kognitifnya” (Edward & Forman, 1993). Halah, rumit? Memang REA ini adalah sistem yang kompleks, namun sangat menarik perhatian dunia pendidikan anak usia dini selama 50 tahun terakhir.

Loris Malaguzzi

REA diciptakan oleh Loris Malaguzzi dan para orang tua di daerah sekitar Reggio Emilia di Italia setelah Perang Dunia II. Saat itu, karena jumlah angkatan kerja pria berkurang akibat perang, para wanita terpaksa menjadi tenaga kerja di pabrik-pabrik dan industri. Ditambah dengan kondisi penuh kehancuran, para orang tua merasa perlu ada pendekatan baru terhadap cara mengajar anak-anaknya. Para orang tua ini merasa bahwa pada tahun-tahun awal perkembangan anaknya lah mereka membentuk diri mereka sebagai seorang individu. Berangkat dari pemikiran ini lah lalu diciptakan sebuah program yang berprinsip rasa hormat, tanggung jawab dan kebersamaan melalui eksplorasi di dalam lingkungan yang suportif dan memperkaya minat anak.

Pada dasarnya REA menganggap anak-anak adalah pembelajar kompeten sehingga model kurikulum yang dijalankan bisa diarahkan oleh anak-anak itu sendiri. Kurikulum memiliki catatan proses dengan tujuan-tujuan tertentu, tapi tidak memiliki batasan cakupan maupun urutan tertentu. Guru mengikuti minat anak-anak dan tidak memberikan instruksi-instruksi standar dan konvensional. REA sangat percaya bahwa anak-anak belajar melalui interaksi dengan teman, orang tua, guru serta interaksi dengan lingkungan tempat belajarnya. Loris Malaguzzi bahkan sampai menciptakan Charter of Rights yang menjelaskan hak-hak siswa, guru dan orang tua dalam REA untuk memastikan filosofi dan prinsip-prinsip REA selalu diingat oleh para penggunanya. Untuk lebih jelasnya mengenai REA, berikut ini adalah fitur-fitur kuncinya yang saya kutip dari artikel yang ditulis Andrew Loh.

 

Peranan lingkungan belajar sebagai “guru”

 > Dalam REA, para pendidik sangat memperhatikan lingkungan sekolah karena lingkungan sekolah ini juga berperan “mendidik” para siswa. Penampilan dan nuansa kelas pun akhirnya menjadi prioritas tersendiri pula. Bahkan, lingkungan sekolah sering disebut sebagai “guru ketiga”.

> Keindahan lingkungan di dalam sekolah dianggap sebagai bagian penting dari rasa hormat kepada siswa dan lingkungan belajar mereka.

> Nuansa di dalam kelas dibuat ceria dan penuh dengan kegembiraan.

> Guru mengatur agar lingkungan belajar memancing dan menantang siswa dalam eksplorasi dan pemecahan masalah, biasanya dalam kelompok-kelompok kecil di mana kerjasama dan perbedaan pendapat berbaur namun tetap menyenangkan.

> Hasil karya siswa, atau tanaman yang mereka tanaman, atau koleksi barang yang dikumpulkan siswa dari alam ditampilkan di kelas dan lingkungan sekolah agar bisa dilihat oleh siswa, guru dan orang tua.

> Terdapat area bersama / serba guna di sekolah yang dapat digunakan oleh para siswa untuk berbagai kegiatan seperti pementasan drama atau hanya berkumpul dengan siswa dari kelas lain untuk belajar bersama.

 

Bahasa simbolis anak-anak yang majemuk

 > Menggunakan seni sebagai bahasa simbolis bagi para siswa untuk mengekspresikan pemahamannya terhadap tugas dan proyek yang sedang dijalankan.

> REA mengintegrasikan seni grafis sebagai alat pengembangan kemampuan kognitif, linguistik dan sosial. Hal ini konsisten dengan konsep Kecerdasan Majemuk karya Dr. Howard Gardner.

> Siswa mempresentasikan konsep dan hipotesa melalui berbagai bentuk seperti gambar, seni, prakarya, drama, musik, pertunjukan boneka ataupun wayang. Hal ini dianggap sangat mendasar bagi pemahaman anak-anak terhadap pengalaman mereka.

 

 Dokumentasi sebagai penilaian dan pertimbangan

 > Mendokumentasikan dan menampilkan hasil kerja siswa adalah dianggap penting sebagai bagian dari memberi siswa media untuk mengekspresikan, mengunjungi, dan membangun perasaan, ide dan pemahamahan mereka.

> Mendokumentasikan hasil kerja siswa yang masih dalam proses atau belum selesai pun dianggap sebagai alat penting bagi siswa, guru, dan orang tua dalam proses pembelajaran.

> Foto-foto saat para siswa terlibat dalam berbagai kegiatan, kata-kata mereka saat mereka mendiskusikan apa yang sedang mereka kerjakan, rasakan dan pikirkan, serta interpretasi mereka terhadap pengalaman yang mereka alami yang dituangkan melalui media visual juga ditampilkan sebagai presentasi grafis dari proses pembelajaran yang dinamis.

> Guru berfungsi sebagai perekam (orang yang mendokumentasikan) bagi para siswa, membantu mereka melacak dan melihat kembali perkataan dan tindakan mereka sehingga membuat proses pembelajaran menjadi terlihat.

 

Proyek jangka panjang

> Mendorong dan memperkaya proses pembelajaran siswa melalui proyek jangka pendek (satu minggu) dan proyek jangka panjang (sepanjang tahun ajaran) yang mendalam dan melibatkan proses merekam, bermain, mengeksplorasi, membangun dan menguji hipotesa.

> Proyek berfokus pada siswa, mengikuti minat mereka, serta ditinjau berulang-ulang untuk menambah pemahaman baru bagi mereka.

> Selama proyek, guru membantu siswa mengambil keputusan tentang arah pembelajaran, cara-cara yang akan ditempuh kelompok dalam melakukan riset pada topik, serta media yang akan digunakan untuk merepresentasikan topik.

 

Guru sebagai peneliti

> Peran guru dalam REA cukup kompleks. Selain wajib bekerja sama dengan guru lain, peran guru yang paling pertama dan paling utama adalah menjadi pembelajar bersama siswa. Guru berperan sebagai peneliti yang menjadi sumber pengetahuan dan pemandu yang meminjamkan keahliannya pada siswa.

> Dalam lingkungan yang demikian, guru sebagai pendidik harus cermat dalam mendengarkan, memperhatikan, dan mendokumentasikan pekerjaan siswa dan perkembangan komunitas di kelasnya, serta bertugas memprovokasi dan merangsang proses pemikiran.

> Guru berkomitmen untuk mengevaluasi pengajaran dan pembelajaran mereka sendiri.

> Di kelas, guru bekerja berpasangan dan berkolaborasi dengan saling berbagi informasi dan proses mentoring dengan partnernya.

 

Hubungan sekolah dan rumah

> Anak-anak, guru, orang tua dan komunitas bekerja sama secara interaktif. Suasana dan komunitas berbasis rasa ingin tahu dikembangkan antara orang dewasa dan anak.

> Komunikasi dan interaksi antar elemen tersebut dapat memperdalam pemahaman dan pembentukan teori pada anak-anak tentang dunia di sekitar mereka.

> Program-program pada REA berkonsentrasi pada keluarga. Visi dari Loris Malaguzzi tentang “pendidikan berbasis hubungan” difokuskan pada hubungan setiap anak dengan orang lain dan berusaha mengaktifkan serta mendukung hubungan timbal balik antara anak dengan anak lain, keluarga, guru, masyarakat, dan lingkungan.

REA menantang beberapa pemahaman konvensional tentang kompetensi guru dan juga praktek mengajar yang cocok dengan pola perkembangan anak. Dalam REA, misalnya, guru memahami bahwa kebingungan adalah bagian dari proses belajar. Maka, salah satu strategi mengajar yang penting dari REA adalah membiarkan kesalahan terjadi (bandingkan dengan di sekolah formal konvensional di mana berbuat kesalahan dianggap sebagai hal terburuk yang dilakukan siswa), atau kadang-kadang mengajak siswa memulai sebuah proyek belajar tanpa tahu dengan jelas bagaimana ujungnya nanti.

Dalam REA, guru percaya dirinya sendiri dapat merespon ide dan minat para siswa dengan tepat, mereka percaya para siswa memiliki minat luar biasa pada hal-hal yang memang layak mereka pelajari, dan mereka percaya bahwa orang tua peduli, aktif, dan berusaha menjadi bagian yang produktif dan kooperatif dari proses pendidikan. Hasilnya adalah atmosfer komunitas dan kolaborasi yang bermanfaat bagi anak-anak dan juga bagi orang dewasa.***