Setiap kali berdiskusi soal Ujian Nasional (UN), saya selalu saja mendengar opini bahwa Ujian Nasional sebenarnya baik, hanya pelaksanaannya saja yang memang masih tidak sempurna dan butuh perbaikan. Nooo… Saya sendiri termasuk yang berpendapat bahwa UN sebagai salah satu bentuk dari standardized test (ST) memiliki masalah bertumpuk-tumpuk, bahkan dari sisi konsep dasar pendidikan pun bermasalah. Apa saja masalahnya? Berikut ini beberapa yang saya sadur dari beberapa sumber di internet, terutama dari Fairtest.org.

ST tidak bersifat adil dan tidak dapat berfungsi sebagai alat evaluasi yang bermanfaat. Wuah, posting ini sudah dimulai dengan pernyataan yang keras. Tapi coba kita lihat. Pada dasarnya, dalam ST seluruh siswa menjawab pertanyaan yang sama, biasanya dalam format pilihan berganda, dan setiap pertanyaan hanya memiliki satu jawaban benar. Mereka mendapat poin atas kemampuannya menjawab dengan cepat pertanyaan-pertanyaan superfisial yang tidak terlalu membutuhkan pemikiran mendalam. ST tidak mengukur kemampuan berpikir atau mencipta di setiap bidang. Umumnya kurikulum sempit dan metode instruksi kuno lah yang digunakan.

ST tidak bersifat objektif. Ada sih bagian yang objektif dari ST, yaitu saat proses penilaian yang dilakukan oleh komputer. Itu saja. Yang lain sih tidak. Misalnya, proses menentukan soal mana yang masuk tes, bagaimana menyusun kata-kata dan konten dalam soal, bagaimana cara menentukan jawaban yang “benar”, pemilihan jenis tes, bagaimana tes dikelola, dan bagaimana cara penggunaan hasil tesnya, semuanya adalah keputusan manusia yang bersifat subjektif.

Hasil ST tidak terlalu bisa diandalkan. Sebuah tes hanya bisa disebut reliable kalau kita mendapat hasil yang sama saat mengambil ujian itu kedua kalinya. Seluruh tes pasti memiliki yang disebut “measurement error”. Artinya, nilai seorang individu bisa bervariasi dari hari ke hari, tergantung faktor-faktor seperti situasi dan kondisi saat tes diadakan, atau kondisi mental dan emosional individu itu sendiri. Sering bukan kita dengar siswa yang tertimpa kesialan sebelum menjalankan UN, entah sakit, atau ada masalah di rumah, dan lainnya, sehingga mempengaruhi hasil ujiannya dan akhirnya menafikan usahanya selama tiga tahun belajar di sekolah?

Hasil ST tidak menunjukan perbedaan yang nyata antar siswa. Jelas lah. Kebanyakan ST berformat norm-referenced test, atau tes di mana setengah siswa akan mendapat nilai di bawah rata-rata, setengahnya lagi di atas rata-rata. Untuk membangun tes semacam ini, pembuat tes harus membuat perbedaan kecil antar tiap orang menjadi tampak besar. Tes yang mengklaim melakukan pengukuran yang sama pun sering memuat soal yang berbeda-beda sehingga hasilnya beda pula. Coba ambil tes TOEFL hari ini, lalu ambil lagi besok, nilainya pasti beda kan? Lebih seru lagi kalau ambil tes hari ini dengan teman hasilnya beda lumayan jauh, besok pas ambil lagi bareng-bareng bisa jadi sama nilainya. Bisakah tes semacam ini dipakai untuk menilai perbedaan kemampuan kita dan teman kita?

ST mengandung bias. Yah, para pembuat tes sebenarnya telah berusaha menyingkirkan bias, seperti kata-kata kasar misalnya (ingat kasus di Sidoarjo di mana kata-kata mesum bisa masuk ke ujian sekolah?). Namun tetap saja tidak cukup, karena banyak bentuk bias itu tidak superfisial dan sering terlewat. Misalnya bias karena mengasumsikan pengambil tes hanya terdiri dari budaya, ras, tingkat ekonomi tertentu. Kalau di UN misalnya bias karena menganggap semua siswa yang mengambil tes telah melewati masa pendidikan di sekolah dengan fasilitas yang cukup serta guru yang memadai. Lha sekolah seperti itu ada berapa persen di Indonesia?

ST tidak merefleksikan apa yang kita ketahui tentang cara belajar siswa. Ini bagian yang parah banget. ST didasarkan pada teori psikologi behavioris dari abad ke… 19! Sedangkan pemahaman kita tenang cara kerja otak dan bagaimana manusia belajar dan berpikir telah berkembang jauh. Lha kok ujian sekolah tetap sama modelnya. Teori abad ke-19 itu mengasumsikan bahwa pengetahuan bisa dipecah menjadi bagian kecil-kecil dan bahwa siswa belajar pengetahuan dengan cara menyerap bagian-bagian kecil ini secara pasif. Saat ini kita telah paham bahwa pengetahuan itu tidak dipecah menjadi kecil-kecil dan bahwa manusia (termasuk anak-anak) belajar dengan cara menyambungkan apa yang mereka sudah tahu dengan apa yang hendak mereka pelajari. Kalau mereka tidak bisa menciptakan konteks dari apa yang mereka lakukan, mereka tidak akan belajar atau mengingatnya. ST tidak mengakomodasi hal ini dan masih mendasarkan tesnya pada proses mengingat fakta-fakta kecil dan terisolasi serta keahlian sempit.

Tes pilihan berganda tidak dapat dipakai untuk mengukur pencapaian penting siswa. Tes pilihan berganda sangat lemah dalam mengukur performa siswa.  Tes itu tidak mengukur kemampuan menulis, menggunakan matematika, mencari makna saat membaca, memahami metode atau argumentasi ilmiah, atau menangkap konsep ilmu sosial. Tes pilihan berganda juga tidak cukup mengukur kemampuan berpikir atau menilai apa yang bisa dilakukan seseorang dalam tugas-tugas di dunia nyata.

Hasil ST tidak membantu guru dalam mengelola pendidikan bagi murid2nya. ST, apalagi yang berbentuk pilihan berganda, pada awalnya tidak dirancang untuk membantu guru. Survei di kelas-kelas menunjukkan bahwa guru tidak menanggap nilai ST dapat membantu mereka, maka jarang pula digunakan. ST tidak menyediakan informasi yang bisa membuat guru memahami apa yang selanjutnya harus dilakukan dengan siswanya karena hasil tes tidak mengindikasikan cara siswa belajar maupun berpikir.

Nah, ini adalah tentang apa-apa saja yang salah pada konsep Standardized Test. Masih ada satu posting lagi yang ingin saya sadur dari situs Fair Test, yaitu tentang manfaat buruk ST bagi pendidikan. Artikel-artikel ini cukup menjelaskan posisi saya yang menganggap Ujian Nasional bermasalah bahkan dari konsep dasarnya. Belum lagi soal pelanggaran UU Sisdiknas, pelanggaran hak anak, penghakiman sosial pada anak, serta yang paling parah, penghancuran moral. Posisi saya tentang Ujian Nasional: Boleh tetap ada, hanya sebagai pemetaan distribusi kualitas pendidikan Indonesia, serta tidak untuk faktor penentu kelulusan (mau satu-satunya atau salah satunya, sama saja buruknya). Ujian Nasional masih ok juga kalau diberlakukan seperti tes standar yang bisa dimanfaatkan untuk masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi, seperti konsep SAT dan ACT di Amerika, atau Ebtanas pada masa lalu. Sedangkan kelulusan siswa seharusnya ditentukan oleh evaluasi yang dilakukan oleh guru secara terus menerus selama proses belajarnya di sekolah.***