Guest Post oleh Ahmad Muchlis, Ph.D., dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung

Hari Sabtu itu isteriku hadir di sebuah acara bedah buku. Di acara itu, ia memperoleh sebuah goodie bag yang isinya antara lain sebuah buku lagi. Buku ini bukan buku yang dibedah dan judulnya adalah “Revolusi Bisnis Abad Ke-21”, terjemahan dari buku berbahasa Inggeris “The Seven-Day Weekend”. Biasanya aku tak tertarik dengan buku yang berbau bisnis, tetapi di malam Minggu yang sepi itu aku merasa ingin melihat-lihat buku ini.

Buku “The Seven-Day Weekend” itu ditulis oleh Ricardo Semler, seorang warga pebisnis Brazil yang berhasil. Ia telah mengembangkan bisnis keluarganya dari berpendapatan 4 juta dolar di tahun 1982 menjadi 35 juta dolar di tahun 1994 dan 212 juta dolar di tahun 2003. Informasi ini bisa dibaca di bagian awal buku.

Pokok bukunya sendiri baru dimulai di halaman 19 dengan tiga pertanyaan mengusik. Pertanyaan kedua membuat aku tersenyum: “Mengapa kita tak boleh membawa anak ke tempat kerja apabila kita bisa membawa pekerjaan ke rumah?”

Apa yang membuat mulutku ternganga muncul beberapa halaman kemudian. “Semco tidak memiliki struktur yang resmi”, pernyataan cetak tebal dalam font besar menjadi baris pertama halaman itu. [Ah ya, Semco adalah nama perusahaan keluarga Semler.] Satu alinea di bawah pernyataan cetak tebal itu berbunyi sebagai berikut:

“Perusahaan ini juga tidak punya bagan organisasi. Semco tidak punya rencana bisnis atau strategi peusahaan―tak ada rencana untuk dua atau lima tahun ke depan, tidak ada tujuan atau misi yang ditetapkan, tak ada anggaran jangka–panjang. Perusahaan ini pun jarang punya CEO yang tetap. Tidak ada wakil pemimpin atau kepala bagian teknologi informasi atau operasional. Tak ada standar atau prosedur yang diterapkan. Tidak ada departemen sumber daya manusia. Tak ada perencanaan karier, tidak ada perincian tugas atau kontrak karyawan. Tidak ada orang yang berwenang menyetujui laporan atau rekening pengeluaran. Pengawasan atau pemantauan terhadap para pekerja pun jarang dilakukan.”

Ini sangat menarik, pikirku. Banyak orang lain yang berpikiran sama. Mereka berbondong-bondong datang dari seluruh penjuru bumi mengunjungi kantor Semco. Pada suatu kurun waktu, Semco mengadakan tur setiap dua-minggu sekali untuk memuaskan keingintahuan orang-orang itu. Praktek ini akhirnya dihentikan karena para pegawai Semco mulai merasa seperti hewan di kebun binatang.

Aku tidak membaca buku setebal hampir 500 halaman itu dari depan ke belakang. Bahkan, bab pertamanya pun tidak kuhabiskan. Aku langsung meloncat ke halaman-halaman akhir. Di bagian belakang ini Semler bicara tentang pendidikan.

Terhadap pendidikan, Ricardo Semler melakukan hal serupa dengan yang ia lakukan terhadap dunia bisnis. Ia bersikap sangat kritis terhadap praktek-praktek pendidikan yang lazim dilakukan orang, praktek-praktek yang disebut Semler sebagai ‘sistem lama’. Coba kita dengar apa yang dikatakannya tentang sistem lama itu.

“Banyak pengondisian yang membuat kita begitu sulit berubah berasal dari masa kanak-kanak kita. Ketika anak balita kita mulai bersekolah, kita memosisikan mereka dalam sistem lama dan mengajari anak cucu untuk menjadi seperti kita.”

“Liburan sekolah adalah kebutuhan bagi masyarakat agraria masa lalu, saat anak-anak dibutuhkan untuk membantu para orangtua bekerja selama musim panas dan musim panen yang panjang. … Mengapa mereka harus membuat liburan anak-anak jadi tidak menyenangkan; keributan seputar pemesanan tempat, jadwal penerbangan, antrean di mana-mana, hanya karena anak-anak mereka dijadwalkan untuk musim panen tahun 1700-an?!”

“Sebagaimana praktisi bisnis yang secara keliru melihat pendapatan, pertumbuhan, dan keuntungan sebagai ukuran kesuksesan, orangtua dan guru secara keliru menggunakan metrik dan pemberian angka untuk menilai anak-anak.”

“Para pendidik masa kini mengabadikan sebuah sistem yang hanya memberikan keuntungan marginal bagi murid.”

Sikap kritis Semler terhadap sekolah telah memunculkan obsesi dalam dirinya untuk “mendirikan sebuah sekolah berdasarkan pemikiran Semco.” Cara Semco menjalankan organisasi dapat dikatakan sebagai ‘antroposentris’, berpusat pada manusia. Di sekolah Semco, “guru dibebaskan dari tugas memberikan informasi dan pengetahuan … [tetapi] berkonsentrasi pada kualitas manusia dan perkembangannya, menyebarkan kebijakan kelompok, saling mendukung selama masa kanak-kanak.”

Guru di sekolah Semco haruslah “berhasrat pada mata pelajaran yang bersangkutan.” [Red: sekolah Semco dinamakan Lumiar School]. Untuk itu, sekolah ini mendapatkan “pemain biola dari orkes simfoni, tukang kayu dari produsen lemari, tukang pipa dari situs konstruksi, pensiunan kapten kapal, pilot penguji sepeda motor, atau ahli farmasi.”

Langkah berikutnya adalah mendesain ulang kurikulum pelajaran. Dasar pemikiran dalam hal ini adalah “anak-anak yang punya minat memerlukan tidak lebih dari 7-9 tahun untuk mempelajari apa yang dipelajari selama 13 tahun bersekolah oleh anak-anak pada abad lalu.”

Pembelajaran akan berpegang pada prinsip mengatur diri sendiri. “[Anak-anak] melatih disiplin mereka sendiri dan mengatur jadwal mereka sendiri. Kami berasumsi bahwa murid dapat menguasai aspek-aspek ini sejak usia muda. Mereka tidak memerlukan guru untuk melakukan hal itu bagi mereka. Begitu bebas dari tugas[-tugas itu] … para guru pribadi dapat berbagi hasrat dengan para murid dan para pendidik dapat menanamkan kebijakan kelompok.”

Hal-hal di atas itu kuperoleh dari tidak lebih dari 10 halaman buku “Revolusi Bisnis Abad ke-21”. Sampai sekarang pun aku tidak menuntaskan membaca buku itu, barangkali tidak akan pernah, cukuplah halaman-halaman yang sedikit itu.

Ricardo Semler menjalankan bisnis dengan cara out-of-the-box. Apakah kita menginginkan siswa-siswa kita berpikir dan bertindak out-of-the-box? Kalau ya, tidakkah kita perlu mendorong para guru berlaku sama? Dan kalau kita menginginkan guru dan siswa seperti itu, tidakkah sepatutnya kita lebih dahulu memberi contoh?

[Catatan: Buku “Revolusi Bisnis Abad ke-21: Dengan Jiwa Merdeka Meningkatkan Profit dan Produktivitas” diterbitkan oleh Penerbit Kaifa (Grup Mizan Pustaka) di tahun 2008 sebagai terjemahan dari buku “The Seven-Day Weekend: A Better Way to Work in the 21st Century” terbitan Arrow Books, Random House di tahun 2003. Jadi buku lama ya. Kalau bukan buku lama, tentunya tidak akan berakhir dalam sebuah goodie bag gratis. Dan ya, subjudul buku terjemahan sebetulnya kontradiktif dengan yang ditulis Semler di dalamnya.]

Ahmad Muchlis
4 November 2012

Red: Beberapa liputan media tentang Lumiar School >> Liputan Telegraph.co.uk, Liputan Innovationunit.org