Video yang manakah dari seluruh video konferensi TED yang paling banyak ditonton? Ternyata dari keseluruhan video dari berbagai pakar tingkat dunia, video sesi bicara Sir Ken Robinson, seorang pakar pendidikan dari Inggris yang kini bermukim di Amerika Serikat, tetap belum terkalahkan sebagai video yang paling banyak ditonton. Sesi bicara Sir Ken Robinson yang diberi judul “Schools Kill Creativity” ini memang sangat inspiratif dan sedikit provokatif. Berikut ini video penuhnya serta poin-poin yang dibicarakan oleh Sir Ken Robinson di dalamnya.

 

>> Tiga tema telah kita lihat sepanjang konferensi TED. Pertama, kapasitas kreativitas manusia yang luar biasa dari semua pembicara dan hadirin. Kedua, presentasi dibawakan padahal kita tidak mengetahui apa yang benar-benar akan terjadi di masa depan. Ketiga, kapasitas inovasi anak-anak yang luar biasa.

>> Semua orang tertarik pada pendidikan. Bila kita tanya latar pendidikan seseorang, ia akan menbangga-banggakannya. Kita punya kepentingan terhadap pendidikan, salah satu alasannya adalah pendidikan lah yang akan membawa kita menghadapi masa depan yang belum pasti.

>> Anak2 yang sekolah saat ini (2006) akan pensiun kerja pada tahun 2065. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di dunia ini 5 tahun mendatang, namun anak-anak kita dididik untuk menghadapi masa depan ini.

>> Sirena Huang adalah anak yang luar biasa. (Sirena Huang adalah pemain biola cilik yang sangat berbakat dan tampil di sesi TED sebelum sesi Sir Ken Robinson). Tapi dilihat dari potensi anak-anak pada umumnya, sebenarnya tidak mengejutkan. Yang luar biasa dari Sirena adalah dedikasi luar biasa untuk menemukan dan mengembangkan bakatnya. Semua anak memiliki bakat luar biasa dan kita lah yang menekannya.

>> Kreativitas sama pentingnya dengan literasi dalam pendidikan dan kita harus memperlakukannya dengan status yang sama.

>> Anak-anak akan mengambil kesempatan. Kalau mereka tidak tahu, mereka akan mencoba. Mereka tidak takut menjadi salah. Bukan berarti menjadi salah itu sama dengan menjadi kreatif. Namun, kalau kita tidak siap menjadi salah, kita tidak akan pernah memunculkan sesuatu yang baru. Saat menjadi dewasa, anak-anak telah kehilangan kapasitas ini. Mereka takut menjadi salah. Kita memberikan stigma buruk pada “kesalahan”. Dalam sistem pendidikan kita, kesalahan adalah hal terburuk yang bisa dilakukan oleh seorang siswa. Akhirnya kita mendidik anak keluar dari kreativitas.

>> Picasso menyatakan bahwa seluruh anak lahir sebagai artis (penuh kreativitas). Masalahnya adalah bagaimana untuk tetap menjadi kreatif. Kita tidak tumbuh menjadi kreatif, malah sebaliknya, kita tumbuh menjadi tidak kreatif, atau lebih tepatnya, kita dididik keluar dari kreativitas.

>> Sistem pendidikan di seluruh dunia memiliki hierarki subjek yang sama. Matematika dan Bahasa menempati peringkat tertinggi. Sedangkan Ilmu-ilmu Kemanusiaan serta Seni menempati peringkat terbawah. Di dalamnya pun masih ada sub hierarki. Dalam subjek Seni misalnya, Seni Lukis dan Musik menempati peringkat yang lebih tinggi daripada Drama dan Tari. Kita tidak pernah mengajarkan Tari kepada anak-anak seperti kita mengajarkan Matematika kepada mereka. Mengapa harus demikian? Matematika sungguh penting, namun demikian juga Tari. Bukankah anak-anak selalu menari setiap saat?

>> Saat anak-anak menjadi dewasa, secara bertahap kita hanya berfokus dari pinggang ke atas saat mendidik mereka, kemudian kita hanya berfokus kepada kepalanya saja, dan itupun hanya satu sisi saja (maksudnya otak kiri, yang memiliki spesialisasi berpikir logis dan matematis).

>> Bila kita ingin netral dan objektif melihat sistem pendidikan seperti apa adanya, kita harus menilainya dari output yang dihasilkan. Siapa yang bisa sukses dalam sistem pendidikan kita? Anak-anak seperti apa yang selalu mendapat nilai bagus? Siapa yang menjadi pemenang? Bila melihat hal-hal tersebut, kita terpaksa menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan publik adalah untuk mencetak profesor dan dosen-dosen universitas. Mereka lah yang selalu mendapat nilai bagus dalam pendidikan publik. Tentu tidak ada yang salah dengan para profesor (Sir Ken Robinson lalu menyebutkan bahwa dia sendiri juga profesor perguruan tinggi), namun tentu mereka tidak bisa dijadikan satu-satunya benchmark bagi kesuksesan manusia.

>> Sistem pendidikan kita dibuat untuk berdasar konsep kemampuan akademis, dan ada alasan untuk hal ini. Seluruh sistem pendidikan publik di dunia ini diciptakan sekitar abad ke-19, untuk memenuhi kebutuhan industrialisme. Jadi sistem pendidikan dibuat dengan dua ide dasar. Pertama, subjek-subjek yang akan berguna dalam pekerjaan akan diletakkan di prioritas pertama. Itulah sebabnya pada masa-masa industrialisme abad ke-19 dan abad ke-20 anak-anak selalu dihambat mengambil subjek-subjek yang “tidak penting” untuk pekerjaan oleh orang tuanya. Misalnya, dilarang mengambil seni musik karena dianggap musisi itu bukan pekerjaan, jangan jadi artis, dll. Ini adalah konsep yang mungkin bisa efektif dahulu, namun sekarang sangat salah bila melihat revolusi yang terjadi di dunia. Kedua, kemampuan akademis dianggap sebagai parameter utama dalam menilai kecerdasan. Para pakar yang duduk di perguruan tinggi lah yang turut bertanggung jawab karena mendesain sistem pendidikan publik sesuai dengan citra diri mereka sendiri. Seluruh sistem pendidikan di dunia ini didesain secara top down sebagai persiapan ujian masuk ke perguruan tinggi. Konsekuensinya, banyak anak yang sebenarnya berbakat luar biasa telah menyangka bahwa mereka tidak cerdas setelah melewati sistem pendidikan publik, karena hal-hal yang bisa mereka lakukan dengan luar biasa ternyata tidak dianggap penting di sekolah dan bahkan mendapat stigma buruk. Kita tidak boleh membiarkan ini terus terjadi.

>> Dalam 30 tahun ke depan, menurut UNESCO, lebih banyak siswa akan lulus sekolah daripada jumlah siswa yang telah lulus sepanjang sejarah. Hal ini disebabkan banyak faktor seperti loncatan populasi, kemajuan teknologi, faktor demografis, dll. Tiba-tiba saja, gelar tidak berarti apa-apa. Dulu, kalau kita lulus perguruan tinggi maka kita akan mendapat pekerjaan. Sekarang banyak anak yang telah lulus strata satu lalu pulang ke rumah dan melanjutkan bermain video game. Karena pekerjaan yang dulu membutuhkan lulusan strata satu sekarang telah mensyaratkan strata dua (sebagai penyaringan karena begitu banyaknya lulusan strata satu dan dengan kualitas biasa-biasa saja). Sedangkan pekerjaan yang membutuhkan diploma, sekarang mensyaratkan strata satu. Telah terjadi apa yang disebut inflasi akademis. Telah terjadi pergolakan radikal dalam sistem pendidikan kita.

>> Kita perlu memikirkan ulang pemahaman kita akan kecerdasan. Kita sudah mengetahui tiga hal tentang kecerdasan. Yang pertama adalah keberagaman. Kita berpikir tentang segala sesuatu di dunia ini dengan banyak cara, kita berpikir secara visual, secara audio, secara kinestetik, secara abstrak, secara aliran dan gerakan. Yang kedua, kecerdasan itu dinamis. Kecerdasan itu benar-benar interaktif dan melibatkan seluruh bagian otak. Otak tidak dibagi-bagi menjadi kompartemen. Malah, kecerdasan yang didefinisikan sebagai proses memunculkan ide original yang memiliki nilai/manfaat, seringkali muncul dari proses melihat suatu masalah dengan perspektif multi-disiplin. Ketiga, kecerdasan itu unik.

>> Sir Ken Robinson lalu bercerita tentang Gillian Lynne, koreografor top dunia yang turut berperan dalam Phantom of the Opera dan Cats. Waktu ia masih kecil, sekolahnya mengirim surat ke orang tuanya bahwa Gillian mungkin memiliki learning disorder (atau mungkin sekarang ADHD) karena tidak bisa berkonsentrasi di kelas. Akhirnya ia dibawa oleh ibunya ke seorang dokter spesialis. Setelah berbincang-bincang dengan ibunya di ruang praktek dengan Gillian turut mendengarkan, dokter tersebut berkata pada Gillian bahwa ia perlu berbincang secara privat dengan ibunya dan meminta Gillian untuk menunggu di ruang praktek. Dokter dan ibunya lalu berjalan keluar. Namun sembari berjalan keluar, si dokter menyalakan radio di dalam ruang praktek. Saat dokter dan ibunya sudah keluar, dokter lalu berkata pada ibunya untuk sama-sama menunggu dan mengintip apa yang akan dilakukan Gillian di dalam ruang praktek. Ternyata Gillian langsung menari mengikuti musik! Dokter lalu berkata pada ibunya bahwa Gillian tidak sakit, namun Gillian adalah penari. Ibunya disarankan menyekolahkan Gillian ke sekolah tari. Begitu sampai di sekolah tari, Gillian begitu terpesona karena ia melihat begitu banyak anak lain yang seperti dirinya. Anak-anak yang harus “bergerak untuk berpikir”. Gillian akhirnya menjadi penari ballet top, lalu mendirikan sekolah tari sendiri, mengkoreografi pertunjukan-pertunjukan top, dan menjadi multi milyuner. Bayangkan ada berapa anak lain yang seperti Gillian, namun di masa kecilnya justru mereka disuruh tenang , tidak berulah dan tetap berkonsentrasi pada pelajaran di kelas sehingga di masa dewasanya tidak hidup sesuai dengan potensinya!

>> Harapan kita di masa depan adalah bahwa kita memandang ekologi kemanusiaan dengan perspektif baru, di mana kita harus membongkar ulang pandangan kita tentang kekayaan kapasitas manusia. Seperti kita merusak kekayaan alam hanya untuk mengeksploitasi komoditas tertentu, kita pun telah merusak kekayaan kapasitas manusia hanya menjadi komoditas. Di masa depan, hal ini tidak akan efektif. Kita harus memikirkan ulang prinsip-prinsip dasar pendidikan anak-anak kita. Kita harus mendidik keutuhan anak-anak kita agar mereka mampu menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Kita mungkin tidak akan melihat masa depan itu, tapi anak-anak kita akan melewatinya. Tugas kita lah membantu mereka mendapat dan menciptakan manfaat dari masa depan yang akan mereka lewati itu. ***