Dalam salah satu adegan di film Sokola Rimba, tokoh dr. Astrid, seorang peneliti asing, mengatakan pada Butet Manurung saat berbincang di pedalaman Bukit Dua Belas Jambi, “Kita suka merasa lebih tahu, padahal dalam banyak hal Orang Rimba justru lebih maju dari kita.” Dokter Astrid sedang bicara tentang “savior complex”, yaitu paradigma psikologis saat suatu pihak merasa perlu menjadi penyelamat pihak lain, semisal dari “keterbelakangan”. Savior complex biasanya disertai asumsi bahwa apa yang ia bawa pasti lebih baik daripada apa yang dimiliki orang lain dan oleh karenanya orang yang hendak diselamatkan tersebut perlu menerima bantuannya walau sebenarnya mungkin tak dibutuhkan. Pendidikan, atau lebih tepatnya persekolahan, sering menjadi alat pemuas savior complex.

Sebuah film dokumenter berjudul “Schooling the World” secara spesifik membahas tentang pendidikan sebagai alat pemuas savior complex. Film yang mengangkat kasus di Ladakh, Himalaya, ini berangkat dari pertanyaan: apa yang sesungguhnya terjadi saat cara sebuah budaya/peradaban belajar dan memahami dunia mereka kita ganti dengan cara kita? Apa yang terjadi ketika kita membangun persekolahan di masyarakat tradisional di sekeliling dunia dengan keyakinan bahwa sekolah adalah cara satu-satunya atau cara terbaik bagi anak-anak pribumi untuk meraih kehidupan yg lebih baik? Adakah asumsi dan arogansi superioritas budaya yang terbawa di balik berbagai proyek bantuan pendidikan yang bertujuan “memajukan” masyarakat primitif? Apakah institusi pendidikan yang digadang-gadang sebagai alat penyelamat peradaban telah berhasil memenuhi janji-janjinya?

Film Schooling the World dapat disaksikan di YouTube melalui tautan-tautan berikut:

Beberapa kutipan menarik dari beberapa tokoh dalam dokumenter Schooling the World, antara lain:

“Untuk membuat para Indian menjadi beradab… celupkan mereka ke dalam peradaban kita, dan saat mereka telah terendam dalam peradaban kita maka jaga mereka tetap di sana sampai benar-benar meresap.” ~Jenderal Richard Pratt, pendiri Sekolah Indian Carlisle

“Biarkan segala yang berbau Indian di dalam dirimu mati.” ~Pidato pelantikan di Sekolah Indian Carlisle

“Kita harus berusaha sekuat tenaga untuk membentuk… satu kelompok manusia, dengan warrna kulit dan darah India, namun memiliki selera, opini, moral dan kecerdasan bangsa Inggris.” ~Lord Macaulay dalam “Minute on Indian Education”

“Kita terbiasa berpikir kita mendidik anak-anak kita, kita mengirim mereka ke sekolah, kita memiliki model tertentu untuk menyiapkan anak masuk ke dalam masyarakat [yaitu pendidikan]. Lalu kita anggap masyarakat yang tidak meniru cara-cara dan pola-pola pendidikan kita adalah masyarakat yang tidak mendidik anak-anaknya. Tentu saja ini pandangan yang absurd.” ~Wade Davis

“Saat ini, persekolahan model Barat adalah pihak yang bertanggung jawab atas penyebaran keseragaman budaya di seluruh dunia. Pada dasarnya, kurikulum yang serupa diajarkan di seluruh dunia dengan tujuan menyiapkan anak untuk mengejar pekerjaan yang langka dalam lingkungan urban dan budaya konsumtif. Keberagaman budaya dan juga keberagaman keunikan individu manusia dihancurkan melalui cara ini.” ~Helena Norberg-Hodge

“Ada asumsi bahwa pendidikan Barat, pengetahuan Barat, lebih superior… Ada asumsi bahwa kita telah bertumbuh menjadi manusia dalam tingkat yang lebih tinggi, dan bahwa orang-orang lain, tak peduli seberapa menyenangkannya mereka, akan mendapat keuntungan dari pengetahuan superior yang kita pikir kita miliki.” ~Helena Norberg-Hodge

“Salah satu yang paling mengganggu pikiranku – dalam tingkatan keadilan dan moralitas – adalah kita membangun institusi [sekolah] yang ditempatkan di seluruh dunia yang melabeli jutaan dan jutaan orang-orang tak bersalah sebagai produk gagal.” ~Manish Jain

Film ini dapat menjadi alat bagi kita untuk melakukan refleksi. Sekolah seperti apa yang menjadi alat pembunuh keberagaman serta kearifan lokal, dan sebaliknya sekolah seperti apa yang membuat siswa-siswanya menyadari benar-benar kelebihan, kebutuhan dan tantangan unik di dalam masyarakatnya serta siap berperan di dalamnya? Sekolah seperti apa yang mendorong siswa menjadi interdependen terhadap masyarakatnya, atau malah sebaliknya, justru membuatnya terasing di tengah lingkungannya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu terus dipikirkan oleh para pegiat pendidikan dan juga oleh penguasa pendidikan. ***