Posting ini adalah lanjutan dari posting sebelumnya tentang Standardized Test (ST). Kalau sebelumnya tentang kelemahan dan relevansi ST, maka kali ini saya akan bahas tentang dampak ST bagi dunia pendidikan. Referensinya masih sama, yang paling utama dari Fairtest.org dan juga dari beberapa situs lain.

Walaupun penuh dengan bias, ketidakakuratan, sangat terbatas dalam mengukur prestasi maupun kemampuan, dan cacat-cacat yang lain, ST tetap saja digunakan untuk menentukan kesiapan anak untuk masuk sekolah, mendiagnosa ketidakmampuan belajar, dan menentukan apakah murid layak naik kelas, atau tinggal kelas, atau diluluskan. Pemerintah dan sekolah bahkan menggunakan ST untuk mengarahkan dan mengendalikan isi kurikulum serta metode mengajar. Siapa bilang cuma murid yang serba dibatasi di sekolah? Guru pun juga! Pada dasarnya tidak ada satu jenis tes yang cukup baik untuk menjadi dasar utama maupun dasar tunggal bagi pengambilan keputusan penting dalam pendidikan.

ST yang dibangun berdasarkan bias akan selalu merugikan bagi anak-anak dari kelompok minoritas dan berpenghasilan rendah. Kalau di Indonesia mungkin anak-anak di daerah yang tertinggal (dari Jawa). Mereka diberi kurikulum yang sudah “diturunkan levelnya”, dengan mengutamakan latihan-latihan soal untuk tes (UN?). Hasilnya? Mereka akan semakin tertinggal. Sedangkan anak-anak dari kelompok mayoritas diberi kurikulum yang lebih maju dengan program-program yang menantang mereka untuk membaca, mengeksplorasi, menginvestigasi , berpikir dan berproses lebih cepat.

Nilai ST saat ini juga menjadi parameter keberhasilan pengelola sekolah yang dituntutkan oleh pemerintah daerah. Akhirnya, guru dan pengelola sekolah merasakan tekanan luar biasa untuk membuat nilai ST di sekolahnya meningkat. Sekolah pun mempersempit dan mengubah kurikulum hanya untuk mengakomodasi tes saja. Guru hanya mengajarkan apa yang diujikan di ST. Metode mengajar dipersempit hanya untuk menghadapi format ST yang berupa multiple-choice. Lama-lama sekolah berubah menjadi seperti bimbingan tes saja.

Sekarang pertanyaannya, kalau guru melakukan “teaching to the test”, alias mengajar hanya untuk menghadapi tes saja, maka apakah murid akan meningkat kapabilitas dan pengetahuannya? Tergantung jenis dan kualitas tesnya lah. Kalau model tesnya seperti Ujian Nasional yang berupa multiple-choice begitu, maka guru hanya akan berfokus pada konten yang ada di UN, kemudian melakukan latihan soal gila-gilaan, dan menggunakan format UN sebagai dasar metode mengajar. Cara mengajar seperti ini akan meningkatkan kemampuan murid dalam mengikuti ujian, tapi belum tentu (baca: tidak) meningkatkan performa akademis nyata para murid. “Teaching to the test” malah akan menyempitkan kurikulum, memaksa guru dan siswa untuk fokus pada mengingat fakta-fakta sempit saja dan bukannya mengembangkan kemampuan belajar yang lebih tinggi atau bahkan yang lebih mendasar pun juga terlewat. Contoh kasusnya akan saya bahas di blog post lain. Pada akhirnya, sekolah tidak bertanggung jawab pada murid, orang tua, guru, dan komunitas, namun sekolah hanya bertanggung jawab pada pembuat tes.

Pertanyaan berikutnya, kalau tidak pakai ST lalu pakai apa? Sebenarnya banyak metode evaluasi kebutuhan, performa dan perkembangan siswa yang lebih baik daripada ST. Bahkan checklist observasi yang berkualitas bagi guru akan lebih berguna daripada ST. Penilaian berdasarkan performa siswa dalam aktivitas dan tugas belajar nyata akan lebih akurat dan bermanfaat untuk mengukur prestasi, dan juga menyediakan informasi lebih banyak bagi para pendidik dan orang tua.

Di negara-negara maju, hanya Amerika Serikat yang menggunakan ST dengan format multiple choice. Amerika Serikat malah sedang mundur kualitas pendidikannya dengan menerapkan undang-undang “No Child Left Behind” yang memberi reward dan punishment kepada sekolah berdasarkan hasil “Ujian Nasional”. Memang ada banyak negara yang menggunakan sistem UN, namun negara-negara yang maju dunia pendidikannya tidak menggunakan Standardized Test semacam itu. Negara yang diakui memiliki kualitas pendidikan dasar dan menengah terbaik di dunia, yaitu Finlandia, juga tidak menggunakan UN. Yang lebih ironis, pada negara-negara yang tidak menggunakan UN, guru-gurunya pun tidak terjebak pada “teaching to the test” sehingga akhirnya murid-murid di negara-negara ini malah mendapat nilai lebih tinggi saat diuji dengan Standardized Test.

Masih heran kenapa saya anti Ujian Nasional difungsikan sebagai syarat kelulusan siswa? ***