NILAI UN TIDAK PENTING BAGI KARIR ANAK

Yth. Bapak dan ibu wali murid SD Gadel 2 Surabaya

Belakangan ini saya dengar Bapak dan Ibu sedang kesulitan dan dicerca masyarakat karena mengekspresikan emosi terhadap keluarga AL yang tindakannya mengakibatkan guru dan kepala sekolah mendapat sanksi dan tidak lagi bisa mengajar anak-anak Bapak dan Ibu. Saya paham bahwa Bapak dan Ibu khawatir terhadap nasib anak-anak, siapa lagi yang mengajar mereka? Bagaimana kalau mereka harus ujian ulang? Saya juga bisa mengerti kalau Bapak dan Ibu merasa bahwa mencontek itu wajar dan tidak perlu dibesar-besarkan toh semua orang pernah mencontek dalam hidupnya. Saya luar biasa paham juga tentang kecemasan Bapak dan Ibu kalau anak-anak nanti jadi tidak dapat sekolah yang bagus karena nilai ujian nasionalnya tidak mencukupi. Bapak dan Ibu tidak sepenuhnya salah, Bapak dan Ibu hanyalah sebagian kecil korban dari sistem pendidikan kita yang masih mementingkan skor dibanding pendidikan karakter. Karena itu saya ingin berbagi sedikit rahasia dengan Bapak dan Ibu.

Tahukah Bapak dan Ibu bahwa NILAI UJIAN NASIONAL TIDAK PENTING BAGI KARIR ANAK BAPAK DAN IBU di masa mendatang nanti? Saya tahu pasti hal ini karena saya adalah seorang psikolog yang sering ikut melakukan proses seleksi baik untuk calon karyawan dalam berbagai level dan juga untuk calon wirausahawan penerima modal. Tidak pernah lho Pak dan Bu, dalam seleksi itu mereka diminta menyebut nilai ujian nasional. Indeks prestasi atau nilai akhir kuliah juga hanya dilihat sepintas karena pasti dicek ulang dengan pengalaman-pengalaman yang dimiliki. Kenapa begitu? Karena nilai-nilai itu belum mencerminkan kemampuan seseorang untuk membuat hasil kerja yang baik di perusahaan. Nilai itu bahkan tidak selalu mencerminkan kemampuan intelektual seseorang, apalagi kalau nilai itu diperoleh dari hasil mencontek yang konon kabarnya umum (walau tetap tidak wajar) dilakukan oleh siswa.

Ya, Bapak dan Ibu benar, memang kemampuan intelektual seseorang memang menjadi salah satu syarat bekerja, tapi yang lebih penting apabila Bapak dan Ibu ingin anak sukses di dunia karirnya nanti, mereka harus memiliki sikap kerja dan karakter yang sesuai. Salah satu karakter yang paling dicari adalah integritas, yaitu sikap moral yang salah satunya tergambar dari kejujuran, agar ia nanti dapat mengikuti etika dan etiket kerja. Yang juga diperlukan adalah motivasi dan ketangguhan, serta kemampuan bekerja dalam kelompok dan jangan lupa kepercayaan diri dan kemampuan adaptasi. Berbagai aspek ini diperoleh bukan hanya sekedar dari mengikuti pelajaran di kelas dan belajar di rumah. Berbagai aspek ini perlu dilatih sejak kecil melalui berbagai pengalaman. Jadi jangan takut kalau anak Bapak dan Ibu tidak bisa masuk sekolah ‘bagus’ karena nilainya kurang. Karena sesungguhnya sumber ilmu dan latihan tidak hanya diperoleh di sekolah. Alangkah sayangnya bila Anak dipaksa untuk mengejar nilai ujian yang baik dengan segala cara termasuk dengan cara mencontek. Anak jadi kehilangan kesempatan untuk berlatih jujur, untuk melatih ketangguhan dalam menghadapi kegagalan, dan yang terutama untuk merasa puas dan percaya diri dengan usaha yang dilakukannya.

Dalam pekerjaan, saya juga banyak berhubungan dengan anak dan remaja serta melakukan pemeriksaan psikologi. Sungguh saya selalu merasa sedih dalam pemeriksaan yang notabene bertujuan membantu anak dan remaja mengetahui minat dan bakat mereka serta kemampuan intelektual mereka terkait dengan pendidikan dan karir. Masih banyak anak yang jadi tidak mengenal dirinya, minatnya, bakatnya, hanya karena mereka sibuk mengejar skor di sekolah. Mereka juga cemas akan penilaian baik-buruk atau lulus-tidak lulus, sehingga bahkan dalam pemeriksaan psikologi terkadang sebagian dari mereka berusaha mencontek jawaban teman lain. Itulah kenapa saya sering bilang “ini pemeriksaan psikologi untuk mengetahui tentang diri adik-adik sekalian, seperti halnya pemeriksaan laboratorium medis, apakah adik-adik memberikan darah campuran milik adik-adik dengan orang lain?”. Terkadang walaupun saya sudah memberi analogi seperti ini tetap masih ada yang mencontek karena mereka benar-benar cemas akan dinilai hasilnya dan dibandingkan dengan anak lain, baik oleh teman, guru, termasuk juga oleh orangtua. Sayang sekali kan Pak dan Bu, anak-anak jadi tidak berkesempatan mengembangkan dirinya, kalau dulu istilahnya ‘mencari jati diri’.

Rahasia lain yang perlu Bapak dan Ibu ketahui, anak tidak hanya belajar dari sekolah dan guru. Bapak dan Ibu adalah sumber pelajaran mereka. Anak banyak belajar dari kata-kata dan tindakan orangtua yang mereka lihat. Jadi kalau boleh saya hanya ingin usul sedikit, tolonglah Bapak dan Ibu pikirkan baik-baik apa yang menjadi dasar tindakan Bapak dan Ibu? Bagaimana ya kira-kira tindakan dan kalimat Bapak dan Ibu mempengaruhi anak? Saya yakin Bapak dan Ibu juga menyadari bahwa tidak selamanya Bapak dan Ibu bisa melindungi anak. Siapkah Bapak dan Ibu melepas anak untuk terjun ke dunia karir yang keras? Dengan berbagai syarat yang tentunya bukan sekedar skor Ujian Nasional? Sudahkah Bapak dan Ibu menyiapkan anak dan melatih berbagai karakter yang diperlukan untuk dapat berhasil di dunia karir? Termasuk untuk melatih anak agar bangkit ketika menghadapi kegagalan?

Saya hanya ingin menutup surat ini dengan nasihat yang sering Ibu saya berikan ketika saya hendak menghadapi ujian mulai dari ulangan di sekolah, ujian bela diri, hingga ujian akhir di perguruan tinggi dan seleksi ini-itu. “Yang penting kamu sudah mempersiapkan diri dan berusaha, kamu nggak lulus juga dunia nggak kiamat, yang lebih penting, setelah itu apa yang kamu lakukan?”

Salam hormat
Karina Adistiana
Gerakan Peduli Musik Anak