Anda lihat bangku di sebelah kiri di kejauhan? Itu bukan sembarang bangku. Di sandarannya tertulis “Vennebenk”, yang artinya kurang lebih “bangku pertemanan” (di Amerika dikenal dengan istilah “Buddy Bench”).

Idenya sederhana saja: setiap siswa (mulai kelas 1 – 7 SD) yang merasa sendirian, tak ada teman bermain atau teman bicara saat jam istirahat tiba, bisa duduk di vennebenk. Kemudian teman-teman lainnya, dari kelas berapapun, yang melihat ada teman yang duduk sendirian, akan mendatanginya, dan menawarkan apakah si teman mau bermain dengannya, atau sekedar ngobrol saja. Intinya, agar si anak tadi tidak lagi merasa sendirian.

Bangku Pertemanan

Vennebenk ini hadir di sekolah Fatih sejak awal 2014. Keberadaanya di lapangan sekolah, dengan tulisan yang berwarna-warni, memang cukup menarik perhatian. Menurut info yang saya dapat, bangku seperti ini juga ada di banyak SD di Norwegia.

Kalau dilihat secara sepintas, bangku seperti ini tak menunjukkan arti yang signifikan. Tapi sesungguhnya vennebenk ini adalah perwujudan kampanye “Anti-Bullying” yang selalu digalakkan semua sekolah di Norwegia, terutama di tiap awal tahun ajaran.

Saya ingat salah satu mata pelajaran ketika Fatih kelas 1 dulu. Namanya “Faddertime” alias “Buddy session”, yaitu jam pelajaran di mana anak-anak kelas 1 akan diajak bermain dan berkreasi oleh dua orang anak kelas 6 dari sekolah yang sama. Sesi ini berlangsung selama setahun. Efeknya? Luar biasa! Bukan saja anak-anak kelas 1 yang masih unyu-unyu itu merasa dibimbing, diayomi dan dilindungi oleh kakak-kakak kelasnya, namun mereka bisa terus berteman bahkan ketika sesi pendampingan itu selesai.

Tak jarang Fatih ngobrol santai di pinggir jalan di sekitar kompleks dengan kakak-kakak kelas 7. Di lain waktu beberapa anak kelas 6 mampir ke rumah untuk sekedar bertanya kabar Fatih. Lucunya, Fatih lupa / tak tahu nama-nama mereka, tapi mereka semua tahu nama Fatih (kemungkinan besar karena nama anak Indonesia yang satu ini memang khas dan tak ada duanya di sini ).

Memang saya akui, hampir tidak ada konflik serius di antara teman-teman sekelas Fatih. Semua terlihat damai. Kalaupun ada yang menangis akibat bertengkar kecil-kecilan, pasti pihak yang bersalah akan langsung meminta maaf. Yang tadi menangis juga bersedia memaafkan.

Jangan bayangkan terjadi adegan baku hantam anak sekolah, meski saya pernah juga melihatnya secara langsung, sekali, di luar sekolah. Baku hantam singkat, berdarah, namun segera diakhiri dengan saling memaafkan. Mungkin lain kali saja saya ceritakan tentang ini, ya.

Setiap ada pertemuan orangtua, guru dan murid setiap 3 bulan, pertanyaan yang selalu diajukan antara lain adalah: “apakah kamu merasa senang bersekolah di sini?”, “apakah ada anak / teman yang mengganggumu di sekolah?”, dan “apakah kamu selalu bermain dengan teman-temanmu saat jam istirahat?”. Dan pertanyaan-pertanyaan itu bukan sekedar basa-basi, tapi menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan suatu sekolah. Laporan berisi jawaban-jawaban siswa tadi juga dilaporkan secara resmi ke dinas pendidikan.

***

“Anti-bullying” selalu menjadi program pendidikan nasional di Norwegia. Karena mereka tahu betapa pentingnya perasaan tenang, bahagia, aman dan gembira ketika siswa menuntut ilmu di sekolah.
Bila rasa aman, tenang dan gembira itu sudah tak ada, bagaimana bisa mengharapkan hasil akhir, yakni siswa yang bahagia sekaligus sukses ketika ia terjun di masyarakat?

Boleh saja metode “alon-alon asal kelakon” dianut oleh sekolah dasar di sini, karena fokus pendidikan dasar bagi orang Norwegia adalah menanamkan budi pekerti yang baik, kedisiplinan, kemandirian dan kecintaan pada sesama manusia dan alam sekitar.

Tampak sederhana? Memang. Sayangnya, justru yang sederhana ini yang seringkali luput dari fokus pendidikan dasar di banyak negara, termasuk Indonesia. Kalau saja budi pekerti yang baik betul-betul merasuk ke jiwa seluruh praktisi pendidikan (mulai menteri, para guru, murid dan juga orangtua dan masyarakat secara umum), tak akan pernah beredar video pemukulan siswi di Sumatera Barat itu, tawuran antarpelajar di Jakarta, pelecehan seksual, pembunuhan siswa oleh siswa, dan berbagai kejadian memilukan lainnya.

Bullying (apa, ya, istilah bahasa Indonesianya?) bukan persoalan remeh. Kampanye anti-bullying layak mendapat porsi yang lebih besar secara nasional, dimulai dari pendidikan dasar.
Mungkin ide sederhana “vennebenk” ini bisa mulai diterapkan?

Kalau para siswa sudah saling mengenal, saling menghormati dan saling menyayangi, tak akan ada yang merasa perlu mem-bully atau di-bully oleh siapapun.

Surga bernama sekolah itu sangat mungkin terwujud. Di sini, di sana, di semua sekolah, termasuk di sekolah anak-anak kita.

 

Penulis: Savitry ‘Icha’ Khairunnisa

Tulisan diambil atas ijin dari : Facebook

Ide tulisan ini didiskusikan pula di Forum Indonesia di Metro TV yang mendiskusikan persoalan Perisakan (Bullying). Video rekamannya dapat disaksikan di Metro TV.