Orang Norwegia bisa dikatakan “pasrah” untuk urusan memilih sekolah, terutama Sekolah Dasar. 98% sekolah di sini adalah sekolah negeri (dari SD hingga universitas). Sisanya adalah sekolah swasta, atau sekolah internasional (yang tentu saja para siswanya adalah anak-anak ekspatriat/orang asing). 

Kota kami adalah kota kecil berpenduduk 34.000 jiwa. Dengan hanya 11 SD, 6 SMP dan 5 SMA / Sekolah Tinggi (semua sekolah lokal, tak ada yang internasional), memang tak banyak pilihan yang bisa diambil. Orangtua yang memiliki anak usia SD tak perlu memilih, bahkan tak perlu repot mendaftarkan ke SD favorit. Alasan utamanya, di sini tak ada yang namanya sekolah favorit. Semua sekolah standarnya sama (yang merupakan ciri khas negara sosialis seperti Norwegia). Mata pelajarannya sama, jumlah murid di tiap kelas sama (berkisar 20-28 orang), kualifikasi guru-gurunya setara, fasilitas penunjang di sekolah pun sama (mulai komputer, ruang musik, gymnasium, lapangan futsal, perpustakaan, ruang penitipan anak, dapur, Unit Kesehatan Sekolah, sampai lapangan sekolah).

Memilih Sekolah

Karena standarnya seragam, sistem penerimaan muridnya pun seragam. Ketentuannya sangat jelas dan sederhana: siswa SD otomatis akan didaftarkan oleh Pemerintah Daerah ke sekolah terdekat dengan tempat tinggalnya. Kebijakan ini menguntungkan bagi semua pihak. Selain memudahkan pendataan bagi pemerintah, anak-anak pun dianjurkan untuk berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah. Jadi tak ada istilah “tua di jalan” karena waktu tempuh yang singkat dan bebas dari rasa lelah  .

Minimnya pilihan sekolah di sini juga mengajarkan toleransi pada para siswa. Ambil contoh di sekolah anak saya, Fatih. Sejak kelas 1 ia sekelas dengan anak tunarungu. Konsekuensinya, sejak kelas 1 ia dan teman-teman sekelasnya sudah terbiasa berkomunikasi dengan bahasa isyarat, karena pada jam sekolah sang walikelas selalu didampingi oleh guru khusus yang memperagakan bahasa isyarat di depan kelas.

Di kelas sebelah, selain ada anak tunarungu, juga ada satu anak pengidap Down Syndrome. Untuk anak berkebutuhan khusus ini ada satu guru khusus yang mendampinginya sepanjang jam sekolah.

Di kelas lain ada anak tunanetra dan tunadaksa yang belajar bersama anak-anak biasa. Tak ada perbedaan perlakuan. Silabusnya juga sama. Hanya metode penyampaian pelajarannya saja yang berbeda.

Anak-anak itu, karena terbiasa bergaul dengan teman-temannya yang “berbeda”, jadi memiliki rasa empati yang tinggi. Bukan belas kasihan yang muncul, tapi sensitivitas bahwa ABK itu juga teman mereka yang punya hak sama dengan mereka yang normal. Mata pelajaran seperti Agama, Gaya Hidup dan Etika (disingkat RLE dalam bahasa Norwegia) juga menekankan pentingnya mengenal berbagai agama / kepercayaan, jenis manusia dan berbagai gaya hidup yang ada di sekitar mereka. Lalu terciptalah toleransi itu sebagai konsekuensinya.

***

Meskipun mereka “pasrah” terhadap pilihan sekolah yang ada, para siswa dan orangtua siswa tentu punya hak suara yang sangat didengar oleh pihak sekolah. Contoh terbaru adalah hasil kesepakatan antara orangtua dan guru pada rapat POMG di kelas anak saya tiga minggu yang lalu.

Saat itu beberapa orangtua mengeluhkan bahwa isi tas sekolah anak-anak mereka semakin banyak dan semakin berat (mereka belum tau kalau anak-anak sekolah di Indonesia banyak yang menarik “koper” ke sekolah). Di antara mereka juga ada yang berpendapat bahwa anaknya merasa kerepotan dengan PR yang semakin banyak (meski menurut saya PR yang diberikan itu masih kurang banyak  ).

Singkat cerita, dicapai kesepakatan bahwa siswa boleh mengerjakan PR sesuai kemampuan mereka, dengan sepengetahuan orangtua. Yang penting mereka tetap mengerjakan PR, tetap membaca buku, dan tetap rajin berlatih bahasa Inggris secara lisan.

Menurut pengalaman pribadi selama ini, dengan beban PR yang masih sangat manusiawi itu, anak saya masih punya sangat cukup waktu untuk bermain dan mengerjakan hal lain. Paling ia disibukkan dengan jadwal karate seminggu sekali di sekolah, dan latihan atau tanding bola yang juga seminggu sekali. Tak ada les pelajaran ini itu di luar jam sekolah.

***

Sekolah yang berlangsung dari jam 08.30 – 13.10 dari Senin – Jumat itu menurut saya cukup efektif dan tidak menguras tenaga dan pikiran secara berlebihan.
Tapi begitulah negeri ini. Manusianya sangat toleran. Semua ide dan keluhan didengarkan, ditampung dan dipenuhi sebisa mungkin. Hasil yang ingin dicapai adalah “win-win solution”. Murid yang pandai tetap bisa mengerjakan PR yang diberi sekolah dengan sedikit tambahan sesuai kelebihannya (tanpa membuatnya maju jauh meninggalkan teman-teman sekelasnya). Murid yang biasa-biasa saja juga diberi kelonggaran untuk mengerjakan tugas sesuai kemampuannya, tanpa takut ketinggalan dengan teman-teman lainnya.

Sejauh ini sistem toleransi ini terbukti berjalan dengan baik, setidaknya di sini. Tujuan sekolah sebagai “a great place to study, and a great place to be” bisa tercapai dan berkelanjutan.
Semua happy, tak ada yang merasa terbebani harus berprestasi setinggi langit, karena untuk pendidikan dasar di sini, prestasi setinggi langit bukan tolok ukur utama.

Selengkapnya akan saya bahas pada tulisan selanjutnya.

Penulis: Savitry ‘Icha’ Khairunnisa

Sumber: Facebook