Hari Jumat lalu seperti biasa saya jemput Fatih dengan sepeda onthel kesayangan. Dia saya bonceng di belakang. Adegannya persis seperti ibu-ibu yang membonceng anaknya melintasi persawahan atau pasar di pedesaan. Sungguh tepat, karena kota tempat saya tinggal ini sangat kecil sehingga bisa juga dikategorikan sebagai desa. 

Sejak melihat saya di halaman sekolah dia sudah wanti-wanti agar saya segera membuka amplop yang dibagikan oleh wali kelas kepada seluruh murid. Tanpa penjelasan lebih jauh saya sudah tahu apa isi amplop itu. Beberapa hari sebelumnya saya memang sempat menanyakannya kepada sang wali kelas. Dan hari itu saya akan menemukan jawabannya.

Begitu sampai di rumah dan menyimpan sepeda di gudang, lagi-lagi Fatih mengingatkan saya untuk membuka amplop itu.
Ukuran amplopnya cukup besar dan tertutup, karena memang hanya boleh dibaca oleh orangtua / wali murid.

penilaian yang manusiawi

Merinding disko rasanya membuka amplop itu. Dengan seksama saya telusuri semua tulisan, angka dan grafik pada lembaran-lembaran kertas A4 di tangan. Sementara itu Fatih berdiri menanti dengan harap-harap cemas di samping saya.

“Gimana Bunda? Hasilku bagus nggak?”
“Sebentar ya… Bunda baca lagi…”, kata saya.

Lima menit kemudian, setelah yakin saya membaca semua laporan itu dengan teliti dan benar, baru saya bisa tersenyum sambil memeluk dia.

“Alhamdulillaah nilainya bagus semua Fatih. Bahasa Norsk kamu dapat 96, Matematika kamu dapat 84”.

Dan senyum sumringah pun mengembang di wajahnya yang terlihat semakin legam sejak musim semi ini.

“Yippee! Hore!!!” adalah reaksinya sambil berjingkrak girang.
“Berarti aku pinter ya Bunda?”
“Pinter dong… Anak Ayah dan Bunda harus pinter…”

Kemudian dia berlalu menuju iPad yang hanya boleh disentuhnya mulai hari Jumat dan akhir pekan saja. Dia mulai sibuk sendiri.
Saya juga sibuk sendiri. Kembali menekuri tiap kalimat, angka dan grafik pada kertas laporan Kartleggingsprøve (Ujian Pemetaan) yang dijalani murid sekolah di seluruh Norwegia beberapa minggu yang lalu.

Tak ada bosannya saya lihat lagi dan lagi grafik itu. Ada sebongkah rasa takjub bercampur tak percaya kalau grafik ujian bahasa Norsk Fatih (dalam gambar ditunjukkan dengan warna abu-abu) jauh melebihi nilai rata-rata teman-temannya yang 99% asli Norwegia. Padahal di rumah hanya bahasa Indonesia dan Jawa yang dia pakai berkomunikasi dengan kedua orangtuanya!

Saya lihat lagi hasil ujian Matematikanya. Tak kalah bagus dengan nilai bahasa Norsk-nya. Dalam mata pelajaran ini bisa dibilang dia sejajar dengan semua teman kelas 2 di sekolahnya.

Tak sia-sia saya menemani dan membimbingnya mengerjakan PR tiap pulang sekolah. Ketika teman-temannya mengerjakan PR selepas jam sekolah dengan bantuan beberapa guru di sekolah (ditawarkan gratis oleh sekolah), Fatih mengerjakan PR-nya di rumah dengan bantuan saya (bila perlu).
Saya mengambil langkah ini dengan persetujuan suami, karena sebagai ibu rumahtangga sepenuhnya saya merasa masih sanggup menemani dan membimbing Fatih belajar setiap harinya.

Tak sia-sia saya melatihnya dengan soal-soal Matematika setiap Minggu sore selama 1 jam, di sela waktu main dan mengajinya.

Saya semakin meyakini dua hal ini:

  1. Sebaik-baik pekerjaan adalah yang dilakukan secara kontinyu meskipun sedikit.
  2. Kesuksesan belajar anak itu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasannya semata, tapi harus didukung sepenuhnya oleh orangtua dan sekolahnya.

***

Anda mungkin bertanya, apa itu Ujian Pemetaan yang saya sebut di atas. Ujian Pemetaan merupakan program ujian nasional yang dicanangkan pemerintah Norwegia untuk semua sekolah (negeri maupun swasta) di negara ini menjelang akhir Tahun Ajaran. Meski judulnya program wajib, tapi semua sekolah diberi kebebasan untuk membuat sendiri soal-soal ujian (dengan panduan kerangka soal dari Direktorat Pendidikan).

Materi ujian untuk tiap tingkatan kelas juga berbeda. Untuk kelas 1-2 Sekolah Dasar, materi ujiannya hanya ada 2, yaitu Bahasa Norsk dan Matematika. Semakin tinggi tingkatan kelasnya, tentu akan makin banyak materi yang diujikan.

Yang unik dari penyelenggaraan Ujian Pemetaan adalah waktunya yang fleksibel, dalam artian tidak dilaksanakan serentak secara nasional. Tiap sekolah bisa menentukan sendiri kapan akan melaksakan ujian ini. Satu lagi: meski namanya ujian, bukan berarti ada minggu khusus di mana jadwalnya hanya ujian dan tidak ada pelajaran lain.

Berbeda dengan di Indonesia (dan mungkin juga di negara lain), di sini tak ada yang namanya Pekan Ujian, UTS atau UAS.
Jadi Ujian Pemetaan ini biasanya diadakan pada jam kedua hingga keempat pada satu hari, kemudian dilanjutkan pada hari lain di minggu berikutnya.
Sebelum dan setelah ujian? Murid-murid belajar sebagaimana biasa.

Pemberitahuan Ujian Pemetaan ini juga hanya melalui Jadwal Mingguan yang diberikan wali kelas pada orangtua setiap minggunya. Santai sekali bukan? Seperti bukan ujian saja. Bahkan kalau ada orangtua yang malas membaca Jadwal Mingguan itu, bisa jadi ia tak akan tahu atau tak ingat kalau pada minggu itu akan ada Ujian Pemetaan. Bisa-bisa si anak memasuki gelanggang ujian tanpa persiapan.

Pertama saya memandang hal ini sebagai keanehan. Seolah-olah ujian itu tidak dianggap serius. Lalu saya pikir lagi. Mungkin sebaiknya memang begitu. Ujian tak perlau dicitrakan sebagai sesuatu yang menakutkan apalagi sampai membuat stres anak dan orangtua. Intinya kalau si anak rajin belajar, dan sekolah memberi soal-soal ujian secara jujur (fair), maka ujian itu bisa dihadapi dengan tenang sekaligus percaya diri.

***

Kalau Anda bisa membaca kedua grafik di atas, Anda tak akan menemukan nilai dalam bentuk angka apalagi ranking Fatih di kelasnya. Harap maklum, urusan nilai dan peringkat memang jadi barang “tabu” untuk pendidikan dasar di Norwegia. Tujuan utamanya adalah agar anak tak terbebani masalah nilai, tidak dibanding-bandingkan dengan teman sekelasnya, yang kemungkinan besar akan membuat anak menjadi malas atau takut untuk bersekolah.

Saya tak tahu bagaimana hasil ujian teman-teman sekelas Fatih. Pada kedua grafik itu, hasil ujian Fatih dipetakan pada hasil ujian semua murid kelas 2 SD di Rossabø Skole. Jadi bukan hanya di antara teman sekelasnya saja.

Maksud Ujian Pemetaan dari awal memang begitu. Murid diuji kemampuan akademisnya untuk kemudian dipetakan pada hasil keseluruhan murid yang satu tingkat dengannya. Di kedua grafik itu, Fatih ada di warna abu-abu, teman-teman sekolahnya (secara rata-rata) diwakili dengan warna oranye, dan batas kekhawatiran ditandai dengan warna merah.

Kalau murid berada pada atau di bawah titik batas kekhawatiran, maka orangtua, guru dan murid perlu khawatir dan perlu ada tindak lanjutnya. Tindak lanjut yang dimaksud adalah dengan memberi bimbingan lebih pada si anak (baik di sekolah maupun di rumah), bukan dengan “menahan” si anak sampai ia tak naik kelas. Ya, di Norwegia tak ada cerita anak tak naik kelas, “seburuk” apapun hasil ujiannya.
Mungkin sistem “semua naik kelas” ini tak bisa dipraktikkan di semua tempat, ya? Walaupun saya terpikir juga, bahwa tinggal kelas itu adalah bentuk hukuman yang cukup keras dan akan membekas di benak si anak selama hidupnya.

Di sisi lain, kalau sang murid melebihi batas kekhawatiran apalagi batas rata-rata teman satu sekolahnya, jelas itu merupakan “booster” alias penyemangat buat semua agar ia bisa terus mempertahankan dan bahkan meningkatkan prestasinya.

Nah, kalau tidak ada nilai, bagaimana saya bisa muncul dengan angka 96 dan 84 tadi? Jadi pada kertas laporan ujian itu ada perincian jenis dan jumlah soal yang mencakup nilai maksimum dan nilai (benar) yang dikerjakan oleh murid. Dari nilai benar dan nilai maksimum itu tentu bisa dihitung berapa persen murid mengerjakan soal secara benar.

***

Cukup sederhana kan? Pendidikan itu sejatinya memang harus disederhanakan sejak tingkat dasar. Yang penting siswa sebagai subjek pendidikan dan pengajaran dapat memahami prinsip sekolah dengan baik. Mereka dapat menjalani hari-hari sekolahnya dengan tenang, bahagia dan penuh semangat. Mereka dapat belajar, bermain dan bergaul dengan teman-temannya dengan rasa gembira tanpa takut atau tertekan. Pada mereka juga selalu ditanamkan nilai tata krama yang baik, yang akan terus dibawa hingga mereka dewasa dan terjun ke masyarakat.

Sekolah itu seharusnya menyenangkan. Ujian sekolah pun bisa dibuat menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Penulis: Savitry ‘Icha’ Khairunnisa

Sumber: Facebook