Selama lima tahun tinggal di Norwegia, ada satu kebiasaan masyarakat yang masih agak sulit saya pahami, yaitu kebiasaan mereka memanggil satu sama lain.

Ketika saya pertama kali ikut kursus bahasa Norwegia, dan ketika pertama kali mendaftarkan anak saya ke TK, saya sempat sedikit terkejut ketika tahu bahwa di sini semua murid memanggil guru-gurunya cukup dengan nama saja. Tanpa embel-embel “Herre” (Mr. / Sir / Pak) atau “Fru” (Mrs / Miss / Ma’am / Bu). Cukup nama saja.

Waktu itu guru kursus saya menjelaskan alasannya, yaitu bangsa Norwegia adalah bangsa yang menjunjung tinggi egaliterisme; semua orang sama dan sejajar. Tidak ada yang membedakan mereka, baik itu dari segi umur, status sosial, pekerjaan, agama, atau apapun.

Bagi saya ketika itu masih terasa wajar ketika kami, para siswa dewasa, memanggil guru kursus dengan namanya saja.
Tapi ketika anak saya mulai masuk SD tiga tahun lalu, apa yang diterangkan guru kursus saya itu terbukti. Walikelas anak saya memperkenalkan dirinya hanya sebagai Inger Johanne Knudsen. Dan semua orang, mulai kolega, kami para orangtua murid, dan juga murid-murid baru ketika itu, sontak memanggil beliau dengan nama depannya saja: Inger Johanne. Sepertinya yang merasa agak canggung ketika itu hanya saya. Tapi saya harus ingat pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” . Jadi, ya, diikuti saja apa yang menjadi kebiasaan masyarakat setempat.

Panggilan dengan nama depan ini bukan hanya pada guru walikelas, para asisten kelas, petugas kebersihan, penjaga sekolah, tapi juga pada kepala sekolah.

Untuk lingkup yang lebih luas, panggilan dengan nama depan juga berlaku untuk siapa saja. Teman anak saya cukup memanggil saya dengan Savitry saja, tanpa embel-embel “ibu” atau “tante”. Demikian juga ketika anak saya memanggil tetangga kami yang rata-rata para manula berusia 60 tahun ke atas. Tak ada sebutan “kehormatan” a la budaya timur, seperti “kakek”, “nenek” dan sejenisnya.

Ketika kami bertemu bapak walikota yang sering muncul di pusat kota dengan keluarganya, ya, kami cukup menyapa namanya saja.

Pun ketika Jens Stoltenberg, mantan Perdana Menteri Norwegia “menyamar” menjadi supir taksi (untuk menyerap aspirasi rakyat, katanya demikian), warga yang memergoki dan naik taksinya merasa akrab dan tak berjarak dengan si orang nomor wahid ketika itu.

***

Kembali ke urusan sekolah, meski murid memanggil guru hanya dengan nama, urusan tata krama dan etika tetap tak terlupakan. Saya kagum dengan karakter sebagian besar anak-anak di sini yang begitu percaya diri, ceria, sekaligus sopan dan penurut pada orang yang lebih tua.

Untuk urusan pendidikan moral, saya membuktikan bahwa tugas pihak sekolah tidak terlalu berat. Mereka hanya meneruskan saja apa yang sudah diajarkan di rumah atau di TK.

Tentu saja yang namanya anak bandel itu ada. Tapi saya kagum bagaimana level kebandelan itu bisa dikontrol dan ditempatkan, tanpa si anak kehilangan karakter positif yang ia miliki.

Di SD di Norwegia ada mata pelajaran “Zippy”. Inti dari pelajaran ini adalah bagaimana seorang anak (yang disimbolkan oleh Zippy Si Belalang) mengelola emosinya. Mulai dari rasa senang, sedih, simpati, marah, empati, belajar bersopan santun, dan lain sebagainya. Metode penyampaiannya antara lain melalui film, “role play”, dan tentu saja penyampaian oleh sang guru.

Terlepas dari masalah panggilan yang sepertinya tak bisa diterapkan di negeri berkebudayaan timur, ada beberapa kebiasaan yang diterapkan secara hampir seragam oleh orang Norwegia dari berbagai usia: mengucapkan “permisi”, “terima kasih”, “maaf”, dan “semoga harimu menyenangkan”. Hal-hal sederhana yang selalu menimbulkan rasa nyaman dan diterima dengan ramah di lingkungan manapun kita berada di sini.

Foto sekelas

***

Di bagian akhir tulisan ini saya akan menjawab pertanyaan yang mungkin ada di benak Anda: apakah panggilan dengan nama itu betul-betul berlaku untuk semua orang?

Jawabannya adalah: tidak. Panggilan “ibu”, “bapak”, “paman”, “tante”, “nenek”, “kakek”, “buyut” dan semacamnya hanya diperuntukkan secara eksklusif bagi orangtua (kandung atau tiri), dan orang-orang yang ada hubungan keluarga secara langsung dengan mereka.

Aturan mainnya jelas sekali, ya?

Selamat berakhir pekan untuk Anda semua!

 

Savitry ‘Icha’ Khairunnisa

Sumber: Facebook