Nawa Cita, Evaluasi K13 dan Pendidikan Pancasila

Posted by on 13 Feb 2015 in blog | 0 comments

Oleh: Fandy Hermanto

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan memutuskan kebijakan untuk mengevaluasi pelaksanaan Kurikulum 2013 (selanjutnya disebut sebagai K13). Keputusan ini tertuang dalam surat menteri pendidikan dan kebudayaan Nomor 179342/MPK/KR/2014 tertanggal 5 Desember 2014. Kebijakan ini pun telah dikomunikankan kepada Komisi X DPR RI pada rapat kerja pertama masa sidang kedua 2014/2015 (27/1).

Read More

Kerangka Kurikulum Mendatang

Posted by on 13 Feb 2015 in opini | 0 comments

Versi lebih singkat dimuat di Koran Tempo, 13 Februari 2015

Kurikulum 2013 sudah dimasukkan “bengkel” di Puskurbuk-Balitbang, untuk diperbaiki. Hasil perbaikannya diharapkan bermanfaat sekaligus memudahkan guru dalam merancang pengalaman belajar, sehingga tiap pelajar mampu mengembangkan dirinya dalam kehidupannya secara optimum.

Read More

Solusi Menyeluruh

Posted by on 12 Apr 2014 in opini | 0 comments

Dimuat di Harian Kompas, 12 April 2014. Foto oleh Kristianto Purnomo, Kompas Images.

SAAT ini pesawat antarplanet Mangalyaan sedang dalam penerbangan ke Mars. Jika sesuai rencana, pada 24 September 2014 pesawat ini akan sampai di sana.

SPACE: India Mars missionEkspedisi ini membuat satu torehan penting dalam sejarah sains dan rekayasa Asia. India akan jadi negara Asia pertama yang mencapai Mars dan jadi negara ke-4 di dunia yang melakukannya. Para peneliti dari Indian Space Research Organisation ini ingin tahu apa yang salah pada planet Mars sehingga tak mampu mendukung kehidupan.

Solusi menyeluruh

Peluncuran pesawat tadi tentu hebat. Namun, justru sikap gigih dalam mencari solusi secara menyeluruh sekaligus tak terganggu kondisi serba kekurangan itulah yang benar-benar dahsyat. Kendala keterbatasan dana malah melahirkan frugal innovation atau inovasi hemat. Sikap kesungguhan mencari solusi menyeluruh itulah yang perlu dipelajari dan berimbas ke kita.

Biaya ekspedisi ke Mars ini hanya tiga perempat biaya pembuatan film Hollywood bertema eksplorasi angkasa, yakni Gravity, yang menghabiskan dana sekitar 100 juta dollar AS. Sebagai perbandingan, ekspedisi NASA untuk ke Mars menghabiskan lebih dari 600 juta dollar AS. Oleh karena itu, New York Times justru menyoroti ekspedisi ini sebagai sebuah inovasi strategi bisnis yang cemerlang.

Kisah sukses di atas langsung mengingatkan kembali penulis pada buku The Fortune at The Bottom of the Pyramid karya CK Prahalad, seorang guru besar strategi dan bisnis internasional di University of Michigan Business School, AS. Dalam buku itu diungkapkan bagaimana strategi pembangunan dan juga kebijakan sangat mungkin bertolak pada dasar piramida ekonomi, yakni masyarakat berpenghasilan paling rendah yang biasanya paling banyak. Lebih dari itu, sebenarnya buku itu menyampaikan pemahaman mendalam bahwa solusi dari permasalahan apa pun harus menyeluruh dan tak boleh mengabaikan kendala dalam proses membuat solusinya.

Sebagai ilustrasi, sebuah pabrik kaki palsu Jaipur Foot di India diminta mendesain kaki palsu bagi masyarakat bawah, dasar piramida. Dalam mereka-cipta kaki palsu ini, para pendesain dituntut memperhitungkan kendala yang ada. Pertama, pengguna adalah kalangan masyarakat tak mampu. Kedua, proses pembuatannya harus menggunakan bahan lokal. Ketiga, pengguna kaki palsu ini kebanyakan petani yang harus berjalan jauh di jalanan buruk. Keempat, pengguna kaki palsu dalam ritualnya perlu dapat menyilangkan kakinya. Kelima, para pegawai pabrik yang ada punya keterbatasan keterampilan.

Jaipur FootAkhirnya, pabrik ini berhasil merancang kaki palsu yang memenuhi lima persyaratan tadi. Jika di AS harga kaki palsu itu sekitar Rp 80 juta, pabrik ini berhasil memproduksinya dengan harga Rp 300.000 saja dan cocok serta awet dipakai di jalanan pedesaan.

Dari ilustrasi tadi, tampak bahwa proses pembuatan solusi dalam bentuk strategi bahkan desain harus terus-menerus memperhitungkan kendala dalam tiap tahapannya. Jika saja pabrik kaki palsu itu menjiplak desain kaki palsu dari AS yang mahal tadi, baru kemudian dimodifikasi untuk diproduksi di pabrik sederhana tersebut, kemungkinan besar akan gagal diproduksi atau tak laku dijual serta merugi. Tetapi, dengan selalu memasukkan unsur kendala dalam proses pembuatan desain dan strategi, solusi akhir menjadi menyeluruh, tak terhambat kendala lagi.

Teori optimasi juga menyampaikan pesan mirip: kendala harus selalu dilibatkan dalam proses penemuan solusi optimum. Kendala dipadukan ke dalam besaran obyektif yang hendak dioptimumkan sejak awal.

Kebijakan pendidikan

Bagaimana jika cara pandang yang sama diterapkan pada pembuatan kebijakan pendidikan? Telah diketahui pendidikan dasar dan menengah di Indonesia punya kendala fasilitas sekolah dan guru bermutu yang belum tersebar dan tersedia secara mencukupi.

Lalu, apakah kebijakan pendidikan seperti kurikulum terdahulu sampai Kurikulum 2013, misalnya, sudah memperhitungkan kendala pendidikan kita tadi? Apakah desain pembelajaran yang direka-cipta sudah memungkinkan pelajar di daerah terpencil tetap belajar secara bermakna walau guru bermutu tak tersedia di sekolahnya? Atau apakah pelajar di pedalaman tetap bisa belajar sains secara baik meski fasilitas laboratorium di sekolahnya tak ada? Apa inovasi hemat Indonesia dalam strategi kebijakan pendidikan untuk keadaan di Tanah Air ini?

Kebijakan pendidikan harus direka-cipta dengan senantiasa memperhitungkan kendala yang ada. Kendala pendidikan tak boleh diabaikan. Cara menjiplak model pendidikan Finlandia, Singapura, Korea Selatan, dan AS jelas meragukan. Metode pendidikan mereka tak serta-merta cocok karena kendalanya berbeda. Indonesia harus menemukan solusinya sendiri.

Foto: Korem 172 /PW - Satgas Yonif 713 /ST

Foto: Korem 172 /PW – Satgas Yonif 713 /ST

Kecuali kurangnya guru bermutu serta penyebarannya yang terbatas dan fasilitas sekolah yang jauh dari memadai, infrastruktur di beberapa daerah sangat minim. Siswa di pedalaman ada yang harus berjalan kaki menembus hutan untuk bersekolah karena di desanya belum ada sekolah. Banyak siswa di pulau terpencil yang hanya punya satu guru. Buku dan listrik pun belum tentu tersedia. Bagaimana model pembelajaran yang memperhitungkan kendala ini?

Kendala-kendala di atas adalah fakta dunia pendidikan Indonesia, bahkan sampai hari ini. Mencari dan menunjukkan siapa penyebabnya tak guna. Lebih penting segera mereka-cipta solusi kebijakan pendidikan nasional yang membangun kasmaran belajar setiap siswa serta sudah memperhitungkan kendala-kendala tadi sebagai faktor utama dalam solusinya.

Sebaliknya, perlu dihentikan berbagai kebijakan boros serta yang justru tetap dihambat berbagai kendala. Misalnya, penciptaan model pembelajaran atau kurikulum yang mensyaratkan gurunya harus sudah kompeten tentu kecil manfaatnya. Ketersediaan guru kompeten di pelosok-pelosok jelas sulit atau mustahil dipenuhi dalam waktu dekat. Lalu, apakah anak-anak bangsa ini harus menunggu gurunya kompeten dahulu sebelum mereka dapat merasakan pendidikan bermutu?

Ini tantangan bagi Balitbang Kemdikbud ke depan untuk mereka-cipta model pembelajaran yang memang sungguh-sungguh memperhitungkan kendala yang ada. Untungnya, saat ini teknologi informasi tersedia murah dan dapat dimanfaatkan dalam mereka-cipta solusi pendidikan yang utuh menyeluruh.

Kendala harus menjadi sumber kreativitas. ***

Iwan Pranoto, Guru Besar ITB

Read More

Prestasi Belajar

Posted by on 3 Mar 2014 in opini | 0 comments

Dimuat di Kompas Siang, 1 Maret 2014.

—–

SEBELUM kita disibukkan oleh gelombang tahunan Ujian Nasional 2014, membaca laporan The Learning Curve 2013 yang terbaru tentu menyesakkan dada banyak pemerhati pendidikan. Lagi-lagi kita berada di papan paling bawah, dan Finlandia di papan paling atas. Sigi ini mengukur capaian belajar anak-anak lulusan setara SMP.

Tulisan pendek ini mencoba mengupas apa yang dimaksud dengan prestasi belajar anak terutama di jenjang pendidikan dasar sembilan tahun, dan bagaimana peran orangtua dan sekolah dalam membantu anak mencapai prestasi tersebut.

Secara formal, prestasi anak akan diukur berdasarkan hasilan belajar (learning outcomes) yang diharapkan dalam dokumen kurikulum di jenjang formal anak. Jika anak mampu menunjukkan hasilan belajar yang diharapkan di akhir proses belajarnya di jenjang itu, anak tersebut kemudian dikatakan berprestasi.

Pertanyannya kemudian adalah apakah hasilan belajar yang penting untuk jenjang pendidikan dasar?

Apakah The Learning Curve memberi pelajaran penting? Apakah anak-anak belajar sesuatu yang berharga di sekolah? Jangan-jangan mereka hanya diarahkan untuk memuaskan ego guru dan orangtua serta demi statistik birokrat pendidikan, tetapi tidak belajar apa pun yang benar-benar berharga?

Jangan kaku

Saya berkeyakinan, sebenarnya anak-anak normal, apalagi cerdas, tidak membutuhkan kurikulum kaku yang dirancang dengan hati-hati. Saya tidak ingin mengatakan bahwa kurikulum agak menghina kecerdasan banyak anak kita, tetapi manusia memang terlalu cerdas untuk diremehkan oleh kurikulum.

Eksperimen Sugata Mitra di India dan Inggris belum lama ini membuktikan bahwa anak-anak bisa belajar secara efektif dalam sebuah self-organized learning environment yang informal, tanpa kurikulum dan guru sekalipun!

Terlalu sibuk mendefinisikan hasilan belajar beserta semua proses dan evaluasinya dalam sebuah kurikulum seringkali justru mempersempit hasilan belajar yang bisa dicapai oleh seorang anak.

Inilah yang terjadi dengan semua hiruk-pikuk Kurikulum 2013. Bahkan di abad internet ini sekolah semakin tidak dibutuhkan, apalagi kurikulum!

Jika prestasi dikaitkan dengan hasilan belajar, maka prestasi setidaknya dirumuskan sendiri oleh anak, bukan oleh guru, apalagi oleh birokrat! Ini jika kita serius dengan student centered learning. Paling tidak, rumusannya didialogkan dengan anak.

Betapa sekolah melalui kurikulumnya bisa memiskinkan makna belajar dapat dilihat dari bagaimana pengertian prestasi saat ini seringkali dipersempit secara tidak perlu, terutama di jenjang pendidikan dasar, sehingga justru berpotensi tidak mendidik anak.

Memperoleh nilai rapor yang tinggi dan mengumpulkan berbagai trofi lomba seringkali dipakai sebagai ukuran prestasi. Semakin tinggi nilai Matematika dan sains dinilai sebagai prestasi hebat.

Prestasi di bidang seni dan olahraga kurang diapresiasi. Semakin banyak trofi dan sertifikat, dinilai lebih berprestasi. Anak dijadikan alat perpanjangan ego guru dan orangtua. Kelas-kelas akselerasi dijadikan pertanda keunggulan.

Ukuran prestasi

Ukuran-ukuran prestasi itu seringkali juga bersifat individual. Karya kelompok kurang dihargai. Apa yang dilakukan anak bagi tetangganya di sekitar rumah tidak dinilai penting dalam portofolio anak.

Pramuka dan kegiatan di luar sekolah mati sepi peminat. Yang ramai justru lembaga bimbingan ”belajar”, padahal sesungguhnya cuma tempat menghafal siasat-siasat jitu untuk menghadapi tes-tes pilihan berganda.

Seorang kawan seniman mengusulkan bahwa lulusan pendidikan dasar paling tidak telah memiliki konsep diri yang jelas (learning how to be), serta mencapai kemandirian belajar. Tahu bagaimana caranya belajar (learning how to learn). Saya sependapat. Belajar menjadi kebiasaan hidup sehari-hari yang menyenangkan. Belajar tidak dikaitkan dengan ujian apa pun, tetapi sebuah sikap sehari-hari. Membaca, menulis, praktik, dan berbicara menjadi keterampilan yang sudah dikuasai.

Sekolah-sekolah di Indonesia saat ini disibukkan dengan banyak hal kecuali belajar. Anak-anak pulang hingga sore, disibukkan dengan try-outs bertubi-tubi, tetapi tidak membaca koran dan buku-buku. Apalagi menulis! Tidak ada waktu untuk itu.

Budaya membaca dan menulis tidak berkembang. Budaya bicara pun tidak. Sementara itu praktik dan pengalaman sehari-hari di luar sekolah tidak dihargai. Padahal pengalaman itu bagian penting dari belajar.

Peran orangtua di rumah akan semakin penting di abad ke-21. Sekolah hanya warung dekat rumah yang menyediakan makan siang. Sarapan dan makan malam tetap di rumah.

Peran orangtua adalah mengembangkan konsep diri anak yang unik, serta menyediakan lingkungan yang mendorong kegemaran membaca, menulis, dan berbicara bebas, serta menghargai pengalaman yang diperoleh di luar sekolah. Itulah prestasi yang patut dipikirkan oleh kita. ***

Read More