green_schoolBumi yang Indah Berawal dari Sekolah“. Demikian kalimat yang terncantum dalam sebuah poster yang dilekatkan pada dinding sebuah sekolah di Balikpapan Selatan. Ya, sekolah itu merupakan salah satu dari banyak sekolah yang menjadi sekolah Adiwiyata. Sekolah Adiwiyata merupakan sekolah yang memiliki mimpi untuk menjadikan sekolahnya bersih, hijau-teduh, serta efisien dalam penggunaan sumberdaya (baik listrik, air maupun barang pendukung sekolah). Terdapat empat komponen utama yang melingkupinya, yaitu kebijakan, pelaksanaan kurikulum, kegiatan yang partisipatif dan sarana pendukung, dengan dua hal yang tak boleh dilupakan yaitu partisipasi penuh dan berkelanjutan.

Ketika program ini bermula, hanya sebagian sekolah yang tertarik untuk mencapainya. Pemerintah, terutama Dinas Pendidikan hingga Kementerian Pendidikan, walaupun telah memiliki nota kesepahaman dengan Kementerian Lingkungan Hidup, masih tak terlalu tertarik untuk mendukung program ini. Keluhan ini yang hampir mendominasi keluar dari pimpinan sekolah yang sedang memperbaiki dirinya menuju sekolah berbudaya lingkungan hidup. Hal ini kemudian menjadikan program adiwiyata ini seolah sedang berjalan sendiri dan terpisah dari sistem pendidikan nasional.

Jalan Panjang Pendidikan Lingkungan Hidup

Ada banyak catatan kegelisahan terhadap sistem pendidikan dan kondisi lingkungan hidup yang semakin menurun. Kegelisahan terhadap keduanya inilah yang kemudian menjadikan Pendidikan Lingkungan Hidup, sebagai sebuah kebutuhan jangka panjang bagi negeri ini, agar kemudian generasi negeri ini menjadi generasi luar biasa, yang mampu membawa negara ini pada kesejahteraan dan perbaikan kondisi alamnya.

Lalu dimulailah beragam kegiatan baik formal, informal, maupun non-formal, untuk memasukkan isu lingkungan hidup sebagai bagian dari proses pembelajaran. Namun tak sekedar itu, metodologi pembelajaran pun dicangkokkan sebagai sebuah media pembelajaran kreatif, yang harapannya akan memicu kreativitas dan daya pikir kritis generasi negeri. Dan benar, mereka yang telah disentuh dengan proses belajar lingkungan hidup, dengan beragam metodologi pembelajaran yang diluar kebiasaan, memiliki kelebihan dalam menguasai pengetahuan hingga pada penguasaan keahlian.

Tantangan terbesar yang dihadapi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) adalah budaya pendidikan yang telah terbangun sejak lama. Kenyamaman dengan kurikulum, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah tersajikan lengkap, buku-buku pelajaran yang berada dalam pusaran bisnis, hingga keahlian dan penguasaan metodologi pembelajaran yang masih minim pada pendidik, menjadikan PLH dipandang sebagai sebuah hal yang terlampau sulit untuk diimplementasikan. Padahal, dalam proses pembelajaran, sangat dimungkinkan untuk mengembangkan kreativitas dalam ruang belajar.

Lalu kemudian, Adiwiyata dimulai. Tahun 2005 Kementerian Lingkungan Hidup bersepaham dengan Kementerian Pendidikan Nasional, yang karena tidak berjalan juga, lalu diulangi kembali pada tahun 2010. Namun kembali, tetap saja, Adiwiyata seolah hanya menjadi wilayah Lingkungan Hidup, dan bukan menjadi wilayah Pendidikan. Begitu tidak komprehensifnya cara birokrasi negeri ini memandang sebuah pendidikan.

Tak Bergerak Maju, Hanya Bergerak-gerak

Tak ada sebuah perubahan yang signifikan dari gerakan Pendidikan Lingkungan Hidup, maupun program Adiwiyata. Target untuk menjadikan pemahaman lingkungan hidup yang disertai dengan perbaikan pendidikan secara menyeluruh, masih menjadi mimpi. Pada beberapa sekolah, sangat terlihat peningkatan kualitas, mulai dari kualitas kesehatan, kualitas belajar-mengajar, membaiknya pelayanan dan akuntabilitasi sekolah, hingga semakin berkualitasnya generasi yang dihasilkan. Program yang dijalankan, walaupun tak sempurna, telah membawa sebuah perubahan menuju kebaikan. Dan sekali lagi, itu hanyalah pada titik-titik tertentu.

Sangat mudah untuk menemui ruang kelas yang bermural ataupun penuh dengan beragam pernak-pernik yang mencerahkan, dimana ruang kelas akan sangat menentukan kenyamanan proses belajar yang dilakukan. Pun sangat mudah menemukan senyuman dari guru dan siswa, ketika memasuki sekolah yang ber-Adiwiyata, karena bagi mereka setiap orang adalah kawan yang akan membawa pengetahuan baru. Dan sangat terlihat terjadinya penurunan jumlah siswa yang sakit setiap tahunnya, buah dari kantin yang sehat, lingkungan yang bersih, toilet yang wangi, serta udara yang segar dan menyejukkan. Bila ditinjau dari prestasi, bukan sedikit prestasi yang telah dihasilkan. Dinamika sekolah sangat terlihat pada mereka yang telah memahami Adiwiyata sebagai sebuah gerakan, bukan lagi sekedar agar bisa berjumpa dengan pemimpin negeri.

Dan tetap saja masih ada yang melenguh. “Kami ini berjuang sendiri, tak ada perhatian dari Diknas”. Menjadi sebuah pertanyaan ketika kemudian telah begitu banyak yang dihasilkan, namun masih tetap berharap agar ada sebuah perhatian. Padahal dengan berbuat sederhana tersebut, telah begitu banyak manfaat yang dihasilkan, dan tentunya kepuasan batin dalam menjembatani masa depan bagi anak generasi negeri yang lebih baik.

Peniadaan Bumi yang Indah itu pun Nyata

Semakin banyak sekolah-sekolah yang terancam oleh proses penghancuran lingkungan hidup. Sekolah-sekolah harus menerima banjir lumpur, banjir pasir ataupun sekedar banjir air. Pun pada beberapa lokasi, keramaian sekitar (baca: kebisingan) pun harus diterima oleh warga sekolah, mulai dari bisingnya kendaraan bermotor, pesawat maupun industri yang terus bekerja tanpa henti.

Warga sekolah hanya mampu berdiam. Ketika proses penghancuran di sekitar mereka terus berlangsung. Padahal, beberapa dari mereka sedang berupaya mencapai mimpi Adiwiyata. Lalu kemudian, penataan ruang kota tak pernah memperhatikan kebutuhan kenyamanan lingkungan bagi proses belajar-mengajar. Pasrah, dengan tetap berharap.

Ketika alam terus semakin memanas dan mendingin seketika, dan para politisi dunia sibuk berbincang tentang perubahan iklim, terselip banyak mimpi baru bagi pendidikan. Hampir pada setiap pertemuan tentang perbaikan kehidupan bermuara pada minimnya kapasitas sumberdaya manusia dan minimnya kepedulian. Lalu tak pernah ada sebuah gagasan apalagi untuk memastikan, sebuah proses pendidikan yang menjawab kedua permasalahan itu. Hanya berlembar-lembar prosiding pertemuan yang semakin berdebu tak terbaca, yang terkadang berakhir di tempat daur ulang, bila beruntung, atau menjadi tumpukan menyampah.

Bumi Masa Depan ada di Sekolah

Sekolah merupakan mimpi masa depan peradaban. Walau tak semua akan dilahirkan dari sekolah, karena hari ini sekolah masih gagal untuk menjadikan pengetahuannya ke dalam kehidupan. Namun, negeri yang tengah bergerak menggapai mimpi kemerdekaannya, sangat menggantungkan harapannya pada pendidikan formal.

Sekolah-sekolah harus semakin dimurahkan dan dimudahkan bagi setiap generasi. Bukan dengan terus menyuburkan sekolah-sekolah yang mahal dan hanya untuk segelintir warga. Sekolah pun harus mampu meniadakan tambahan jam belajar, termasuk pelajaran tambahan di luar sekolah. Artinya, sekolah harus benar-benar memberikan ruang bermain dan berkreasi bagi warganya, pun sekolah tak perlu lagi menyediakan guru-guru yang sibuk mencari penghasilan tambahan di luar jam sekolah.

Pengintegrasian alam sekitar, dimulai dari lingkungan sekitar sekolah, ke dalam media pembelajaran menjadi sebuah jawaban akan masa depan negeri. Bagaimana kemudian beragam mata pembelajaran menggunakan alam lingkungan sekitar sebagai alat belajar. Hingga kemudian memperoleh pembelajaran tambahan, bahwa menjadi penting untuk sensitif terhadap lingkungan sekitar. Dan tentunya, untuk mempraktekan secara langsung pengetahuan yang telah diperoleh.

Penomorduaan ilmu-ilmu sosial dan budaya pun harus segera dihilangkan. Setiap pengetahuan punya manfaat terhadap kehidupan. Proses kedalaman belajar adalah untuk menguasai secara lebih lengkap dalam pengimplementasian di kehidupan. Pengetahuan negeri ini sangatlah kaya, yang lahir dari proses interaksi warga dengan alam kehidupannya. Hanya saja, pengetahuan itu sangat minim menjadi bagian pembelajaran di sekolah.

Bumi masa depan bermula dari sekolah. Andai saja sekolah-sekolah formal mulai mendekatkan pembelajaran pada alam. Menerapkan bagian-bagian dari gerakan Adiwiyata. Melahirkan pembelajar. Hingga kemudian menjadi bagian aktif dalam proses berkehidupan. Tentunya Bumi ini akan jauh lebih ramah pada makhluk yang berinteraksi di dalamnya. Pada waktunya, bencana itu semakin berkurang dan semakin banyak warga bumi yang merayakan kesejahteraannya. (af)