CMW wordle of 21st century educationDi salah satu sesi mata kuliah teori perubahan atau theory of change, Profesor saya menanyakan apa “teori favorit” kami. Sederhananya, pernyataan “jika… maka… ” atau “untuk mencapai Y harus melakukan X” bisa dianggap sebagai teori. Ya, ini adalah sebuah definisi jalanan atau definisi sehari-hari, yang terbangun tidak melulu sebagai hasil riset yang baku (mohon ketepikan dulu definisi teori yang jauh lebih akademik). Dengan demikian kita berteori setiap hari. Sebagai guru, sebagai kepala sekolah, orang tua, mahasiswa, kita berteori:

“Jika anak diajarkan bahasa kedua sejak dini maka ia akan menguasai bahasa tersebut.”

“Untuk meningkatkan kualitas lulusan, maka jam belajar harus ditambah.”

“Jika mau mendapat nilai A, tulis jawabannya yang panjang. Dua halaman masih B+.” (Sekedar catatan, saya nyengir ketika menulis ini).

Dan seterusnya.

Setelah semua mahasiswa, termasuk saya, selesai menjawab teori favorit kamu, Profesor pun berkata: “Ketika menjawab, tidakkah kamu memilih dari sekian banyak teori yang sudah kamu pelajari dan ketahui?” dan ia mengulang dua kali pada kata “memilih” untuk menekankan maksudnya.

Banyak teori yang menjelaskan bagaimana cara meningkatkan prestasi pendidikan suatu bangsa, sekelompok masyarakat, dan bahkan seorang siswa. Dan dari yang banyak itu, kita, para pendidik memilih. Teori yang kita pilih tersebut akan mempengaruhi perilaku kita sekaligus menjadi alasan di balik keputusan-keputusan yang kita ambil. “Your theories become your identity,” demikian ujar Profesor saya. Teori menjadi identitas kita sebagai pendidik.

Sebagai ilustrasi, ketika guru mengajar di kelas dan ada siswa yang berperilaku kurang pantas, ia akan memperlakukan siswa tersebut sesuai teori yang dianutnya. Dikeluarkan, dipukul, dibentak, didiamkan, diberi tugas tambahan, dan sebagainya. Ketika seorang ayah mengetahui anaknya membolos sekolah, ia mencari tahu bagaimana agar kejadian tersebut tidak terulang kembali. Ia mencari teori yang dapat menyelesaikan masalahnya. Dan ketika prestasi siswa Indonesia di tingkat dunia menurun, kurikulum pun diubah.

In a sense, all policy is theory,” ujar Profesor saya. Ya, pada kenyataannya, kebijakan pendidikan adalah cerminan teori yang dianut oleh pembuatnya – dan juga yang mengesahkannya.

Ada dua alasan mengapa saya mengangkat topik tentang teori ini. Pertama, sebagai pendidik kita perlu kritis dalam menerima dan membangun teori. Pendidikan adalah suatu dunia yang sangat kompleks dan dinamis. Banyak sekali teori tentang prestasi belajar (learning outcomes) dan tidak jarang satu teori bertentangan dengan yang lain. Misalnya kasus PR (pekerjaan rumah). Ada yang pro, ada yang kontra (saya akan berbagi tentang PR ini dalam kesempatan yang lain). Inilah (salah satu) sebabnya mengapa sebagai guru kita perlu terus belajar.

Ada satu hal yang sering disampaikan ke saya, namun saya sering abaikan juga.  Kira-kira seperti ini sarannya: “Nis, kalau kasih pelatihan ke guru, langsung prakteknya saja tidak usah pakai teori-teorinya. Kebutuhan mereka adalah how-nya bukan why-nya.” Dan saat ini saya bersyukur karena saya banyak mengabaikan saran tersebut. Ketika menjadi fasilitator pelatihan, saya tetap mendiskusikan teori bersama rekan-rekan guru. Saya yakin bahwa guru bukan sekedar pelaksana dan guru harus mengerti mengapa pembelajaran harus menyenangkan (ada alasan mengapa mereka perlu senang, dan itu bukan supaya tidak mengantuk), mengapa umpan balik kepada pekerjaan siswa yang baik adalah lebih dari sekedar angka, atau mengapa ada kegiatan yang perlu dilakukan berkelompok dan ada yang sebaiknya individual. Guru bukan sekedar pelaksana kurikulum, guru perlu membangun teori agar dapat membuat perubahan.

Perlunya membangun teori ini membawa saya pada alasan kedua mengapa saya mengangkat isu ini di awal kontribusi saya untuk Bincang Edukasi. Teori perubahan – yaitu teori yang dibangun oleh praktisi untuk menyelesaikan masalah atau membuat perubahan – terbangun dan terasah dalam komunitas, tidak dibangun sendirian. Sebagai komunitas, orang-orang yang mempunyai kepedulian yang sama, semangat dan cita-cita yang sama berkumpul dan mendiskusikan, menguji, mendebat, serta menyempurnakan teori tersebut. Maka ruang yang disediakan Bincang Edukasi ini, menurut saya bukanlah sekedar sumber informasi atau wadah untuk bagi-bagi sumber. Menurut saya, Bined memberikan kesempatan pada kita untuk membangun teori yang dapat membawa perubahan bagi pendidikan bangsa.

Tabik!