Oleh: Asep Sapa’at
Praktisi Pendidikan, Pengkaji Karakter Guru di Character Building Indonesia

Dimuat di Radar Bogor, 20 Maret 2014

Asep Sapa’at

Di Indonesia, ada 3 misteri bagi kita semua: jodoh, kematian, serta tes baca tulis hitung (calistung) sebagai syarat masuk sekolah dasar (SD). Misteri terakhir menarik diungkap. Meski tak dibolehkan, praktik ini tetap saja terjadi pada saat tes saringan masuk SD. Yang menggelikan, orangtua pamer kehebatan anaknya yang sudah terampil calistung meski masih duduk di bangku TK. Bagaimana memahami fenomena tes calistung? Mengapa tes calistung tak boleh jadi prasyarat masuk SD?

Merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 27/1990 tentang pendidikan prasekolah, TK merupakan salah satu bentuk pendidikan prasekolah. Pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar yang diselenggarakan di jalur pendidikan prasekolah atau di jalur pendidikan luar sekolah. Jadi, pengalaman belajar anak-anak di TK berfungsi sebagai ‘jembatan’ antara rumah dan sekolah.

Tahukah Anda apa tujuan pendidikan prasekolah? Seksamai dengan baik. Tak ada maksud tersurat maupun tersirat bahwa tujuan pendidikan TK untuk membuat siswa terampil calistung. Pendidikan TK justru bertujuan menyiapkan anak sebelum memasuki SD. Itulah tujuan instrumental pendidikan TK. Sedangkan tujuan intrinsik pendidikan TK, membantu perkembangan anak didik sejak dini agar tumbuh dan berkembang secara wajar dalam aspek-aspek fisik, keterampilan, pengetahuan, sikap, dan perilaku sosialnya.

Yang jadi titik persoalan, praktik pendidikan TK di lapangan kerap melenceng karena pandangan yang terlalu fokus ke arah pencapaian tujuan instrumental. Eksesnya, proses pendidikan di TK tak ubahnya dengan di SD atau malah menjadi miniatur SD. Inilah ingkar proses yang sesungguhnya telah terjadi. Situasi makin ruwet karena orangtua kerap merasa puas dan senang kalau anaknya yang masih TK sudah terampil calistung. Meruyaknya praktik pemberian materi calistung bahkan bahasa Inggris, sesungguhnya akibat tekanan dari orangtua dan terjadinya malpraktik pendidikan di TK. Anak-anak TK kita tak berdaya. Mereka dipaksa jadi ‘orang dewasa berbadan kecil’. Tubuhnya boleh kecil, tapi beban belajarnya bisa membuat mereka stres. Ironis.

Kita boleh merasa khawatir, prinsip pendidikan di TK sudah dilanggar, tanpa disadari atau justru dengan kesadaran penuh. Tak ada lagi prinsip ‘Bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain’. Bermain diganti dengan tugas membaca. Belajar berhitung tak sanggup merangsang keinginan belajar anak karena hanya sekadar menghapal angka-angka dan prosedur perhitungan. Kreativitas terkebiri karena anak-anak dipaksa harus bisa menulis. Ukuran keberhasilan belajar mengancik pada kurikulum dan hasil penilaian guru. Anak tak merasakah kasmaran belajar, masalah kritis yang malahan tak dijadikan bahan perhatian serius.

Fase pengenalan calistung bergeser menjadi penguasaan keterampilan calistung. Tragedi pendidikan di TK tengah terjadi. Padahal sejatinya, pengenalan calistung dilakukan melalui pendekatan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Itu sebabnya, pendidikan di TK tidak diperkenankan mengajarkan materi calistung secara langsung sebagai pembelajaran sendiri-sendiri (fragmented) kepada anak-anak. Konteks pembelajaran calistung di TK hendaknya dilakukan dalam kerangka pengembangan seluruh aspek tumbuh kembang anak, dilakukan melalui pendekatan bermain dan disesuaikan dengan tugas perkembangan anak. Pahamkah penyelenggara pendidikan TK soal yang satu ini?

Kathy Hirsh-Pasek dalam bukunya Einstein Never Used Flash Cards memaparkan sebuah hasil kajian penelitian, mengajarkan permainan kreativitas pada usia dini ternyata jauh lebih penting. Mengapa? Karena otak anak di usia dini tumbuh sangat pesat. Jika kita kembangkan kemampuan kreatif mereka, saraf-saraf kreatifnya akan berkembang sempurna. Hal ini bisa ditandai oleh rasa ingin tahu anak yang tinggi terhadap hal-hal baru. Proses pengenalan calistung melalui strategi pembelajaran yang kreatif, itu yang mesti jadi perhatian penyelenggara pendidikan TK. Bukan memaksa anak belajar calistung, apalagi dengan metode yang relatif monoton dan membosankan. Alamak apa kata anak-anak kita.

Tolong pahami satu hal penting, bisa membaca dan gemar membaca teramat beda maknanya. Anak yang bisa membaca belum tentu gemar membaca. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hasil penelitian mengungkap tiga hal penting. Pertama, mengajari anak membaca di usia dini justru tak membuat anak menjadi gemar membaca. Kedua, anak-anak yang diajari membaca di usia dini, mereka justru membaca dan menulis buku jauh lebih sedikit daripada mereka yang baru diajari membaca di usia 7 atau 8 tahun ke atas. Ketiga, kemampuan membaca anak yang sudah diajari sejak dini dengan anak yang baru belajar di usia 7 – 8 tahun akan sama baiknya ketika mereka sama-sama berumur 10 – 12 tahun. Namun, minat membaca anak yang diajari sejak usia dini lebih rendah ketimbang anak yang baru belajar baca di usia 7 – 8 tahun (Ayah Edy, 2012).

Idealnya, pendidikan di TK membantu tumbuh kembang anak sesuai tahap psikologi perkembangan lewat permainan kreativitas. Membantu anak usia dini untuk mengenal huruf dan angka dengan cara kreatif jauh lebih bijak daripada mengajarkan baca tulis hitung. Kini, jelaslah sudah bahwa mengajari anak membaca di usia dini justru kontraproduktif terhadap pertumbuhan saraf-saraf kreatifnya. Jangan sampai, ketika si anak sudah bisa calistung, mereka tak paham untuk apa kemampuan calistung itu, karena mereka tak memiliki rasa ingin tahu yang besar dan mendalam. Kasmaran belajar telah pergi jauh dari sikap hidup anak-anak kita. Mari waspadai situasi berbahaya ini. Karena hakikatnya, rasa ingin tahu adalah pintu awal terjadinya proses pembelajaran dan pendidikan.

Tes calistung, fenomena unik nan menarik. Syarat utama agar pendidikan berhasil, yaitu anak harus siap belajar (Katz: 1991). Siapa berani jamin, anak yang lulus tes calistung sudah siap belajar di SD? Tugas pendidikan di TK mengantarkan anak siap belajar di SD, bukan agar anak terampil calistung. Kalau anak sudah terampil calistung jelang masuk SD, untuk apa tujuan pendidikan di SD? Zill et.al (1995) menyatakan, sekolah harus siap mendidik anak. Lantas, tanya nurani kita sebagai orangtua dan pendidik, untuk apa dan untuk siapa tes calistung dihelat? ***