Dalam diskusi #twitedu beberapa waktu lalu tentang “Buku-buku Pendidikan yang Mencerahkan”, saya begitu bersemangat berbagi tentang buku-buku pendidikan yang begitu berkesan bagi saya. Setelah diskusi selesai, saya mendapat pertanyaan dari salah seorang peserta diskusi mana buku yang paling bagus di antara semua yang saya sebutkan. Saya jawab bahwa semua buku yang saya sebutkan itu sangat bagus, tapi kalau saya hanya boleh merekomendasikan satu buku saja yang bisa dibaca oleh semua orang yang berbeda-beda dan tertarik dengan isu pendidikan, maka saya akan merekomendasikan buku The Best Schools karya Thomas Armstrong.

Dalam dua bab pertama The Best Schools, Thomas Armstrong menjelaskan tentang dua paradigma atau wacana pendidikan yang kontradiktif, yaitu Wacana Prestasi Akademik dan Wacana Perkembangan Manusia. Sebenarnya, ia menjelaskan tentang apa-apa saja yang salah di paradigma persekolahan saat ini dalam Wacana Prestasi Akademik, lalu ia menawarkan solusinya dengan mengajukan Wacana Perkembangan Manusia. Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa wacana adalah pelembagaan cara berpikir atau batasan sosial yang menentukan apa yang bisa dikatakan tentang topik tertentu. Wacana dipandang bisa mempengaruhi pandangan kita mengenai segala hal. Artinya, memahami wacana yang umum digunakan lalu membentuk wacana yang tepat sangatlah penting dalam menjalankan proses pendidikan.

Dalam artikel ini saya akan menuliskan poin-poin Wacana Prestasi Akademik dan juga Wacana Perkembangan Manusia. Sedangkan keterangan detail beserta contoh-contoh aplikasinya tentu bisa dilihat di bukunya yang sudah tersedia versi Bahasa Indonesia oleh penerbit Kaifa Learning.

 

WACANA PRESTASI AKADEMIK

Wacana prestasi akademik memandang tujuan pendidikan semata-mata untuk mendukung, mendorong dan memfasilitasi kemampuan siswa meraih nilai tinggi dan nilai tes standar dalam pelajaran sekolah, terutama pelajaran-pelajaran yang termasuk bagian inti kurikulum. Sayangnya, wacana ini lah yang umum digunakan dalam dunia persekolahan kita, baik disadari maupun tidak, diakui maupun tidak.

Asumsi-asumsi yang mendasari Wacana Prestasi Akademik adalah:

  1. Muatan akademik dan keterampilan adalah yang paling penting untuk dipelajari.
  2. Penilaian prestasi dilakukan melalui angka dan tes standar.
  3. Cenderung pada kurikulum akademik yang ketat, seragam, dan wajib bagi semua siswa.
  4. Berorientasi pada masa depan.
  5. Bersifat selalu membandingkan.
  6. Mendasarkan klaimnya pada penelitian berbasis ilmiah.
  7. Umumnya terjadi di lingkungan atas-bawah, yakni individu dengan kekuatan politik yang lebih besar menerapkan program, prosedur dan kebijakan pada individu yang lebih lemah.
  8. Intinya adalah peringkat, nilai ujian dan akhirnya, uang.

Sedangkan dampak-dampak negatif yang ditimbulkan oleh Wacana Prestasi Akademik adalah:

  1. Menimbulkan bidang-bidang yang terabaikan di kurikulum yang sebenarnya merupakan bagian dari pendidikan utuh yang diperlukan siswa guna meraih keberhasilan dan pemenuhan dalam hidup.
  2. Mengakibatkan terjadinya pengabaian intervensi instruksional positif yang tidak bisa dinilai oleh data dari penelitian ilmiah.
  3. Mendorong pengajaran hanya demi persiapan menghadapi ujian.
  4. Mendorong siswa mencontek dan menjiplak.
  5. Mendorong manipulasi hasil ujian oleh guru dan pegawai administrasi.
  6. Mendorong siswa menggunakan bahan-bahan ilegal untuk membantu meningkatkan kinerja belajar.
  7. Memindahkan kendali kurikulum dari pendidik di ruang kelas ke organisasi yang membuat standar dan ujian.
  8. Mengakibatkan tingkat stres yang berbahaya di kalangan pendidik dan siswa.
  9. Meningkatkan kemungkinan siswa tinggal kelas dari tahun ke tahun dan keluar dari sekolah sebelum lulus.
  10. Tidak memperhatikan perbedaan latar belakang budaya individu, gaya belajar, kecepatan belajar serta faktor-faktor penting lain yang ada dalam kehidupan anak sesungguhnya.
  11. Memotong habis nilai hakiki belajar demi belajar itu sendiri.
  12. Membuat makin menjamurnya praktik-praktik tak layak di sekolah.

Nah, apabila Anda adalah seorang pendidik, atau mungkin orang tua siswa, coba perhatikan dan analisa dengan jujur, apakah Wacana Prestasi Akademik ini yang diterapkan di lingkungan pendidikan yang kita jalankan atau yang dijalani anak kita? Apakah asumi-asumsi itu yang tanpa sadari telah kita adopsi, serta apakah kita sudah melihat tanda-tanda dari dampak-dampak negatif yang disebutkan di atas namun kita tak mengakuinya? Bila iya, mungkin sudah saatnya kita menelaah dan mengadopsi Wacana Perkembangan Manusia sebagai alternatif yang diusulkan Thomas Armstrong.

 

WACANA PERKEMBANGAN MANUSIA

Wacana Perkembangan Manusia adalah mengungkapkan atau melejitkan potensi yang terdapat dalam diri manusia dan juga bermakna mengurai, membuka atau membebaskan manusia dari keterkungkungan, kerumitan atau rintangan. Dari definisi ini saja sudah terlihat bedanya, bukan? Mari kita lihat asumsi-asumsi yang digunakan serta dampak-dampak positif yang dihasilkannya.

Asumsi-asumsi yang mendasari Wacana Perkembangan Manusia adalah:

  1. Menjadi manusia seutuhnya adalah bagian terpenting dari belajar.
  2. Mengevaluasi pertumbuhan seutuhnya adalah sebuah proses penuh makna, berkelanjutan dan kualitatif, yang menyangkut pertumbuhan manusia itu sendiri.
  3. Lebih menyukai kurikulum yang fleksibel, dibuat untuk individu dan yang memberi siswa pilihan bermakna.
  4. Tertarik pada masa lalu, masa kini dan masa depan setiap siswa.
  5. Bersifat ipsatif [membandingkan kinerja siswa masa kini dengan kinerjanya sendiri sebelumnya], bukan normatif [membandingkan kinerja siswa masa kini dengan hasil tes standar sekolompok siswa sebelumnya].
  6. Mendasarkan klaim keabsahannya dari kekayaan pengalaman manusia.
  7. Biasanya muncul sebagai bagian dari upaya kalangan masyarakat/pendidik di hierarki bawah; dalam hal ini oleh praktisi [misalnya guru] yang terinspirasi oleh pemikir kreatif di bidang pendidikan dan psikologi.
  8. Intinya adalah kebahagiaan.

Sedangkan dampak-dampak positif yang dihasilkan Wacana Perkembangan Manusia adalah:

  1. Membuat siswa terlibat dalam kegiatan belajar dan pembelajaran yang akan membuat mereka lebih siap turun ke dunia nyata.
  2. Membuat semua siswa bersinar di bidang kekuatannya masing-masing.
  3. Mengurangi kebutuhan untuk mengelompokkan siswa sebagai anak lambat belajar, punya gangguan hiperaktif, tak mampu memusatkan perhatian, tak berprestasi akademik, atau stigma dan label negatif lainnya.
  4. Membuat siswa dapat mengembangan kompetensi dan kualitas, yang pada akhirnya akan membantu dalam membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.
  5. Membantu memperbaiki banyak masalah sosial yang mencemari remaja dalam budaya masa kini yang terkotak-kotak.
  6. Membantu siswa lebih menjadi dirinya sendiri.
  7. Memberi pendidik dan siswa kendali lebih besar atas lingkungan belajar mereka.
  8. Mengurangi masalah disiplin di sekolah.
  9. Mendorong inovasi dan keragaman program belajar.
  10. Mendorong kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan tahap perkembangan dan tidak mendukung kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan sekolah.

 

Sungguh berbeda 180 derajat antara Wacana Prestasi Akademik dan Wacana Perkembangan Manusia. Sebagai tambahan, berikut ini perbandingan karakteristik kedua wacana itu, ditampilkan dalam tabel:

Konteks Wacana Prestasi Akademik Wacana Perkembangan Manusia
Tradisi Intelektual Positivisme Humanisme
Orientasi Sementara Berorientasi masa depan Berorientasi masa lalu – masa kini – masa depan
Pendekatan Utama pada Penelitian Kuantitatif Kualitatif
Metode Utama dalam Penilaian Siswa Ujian Nasional Pengamatan alami dan dokumentasi
Struktur Kekuasaan Mandat dari atas ke bawah Ide disebar hingga ke tingkat dasar [grassroots level]
Aspek Pembelajaran yang Paling Dihargai Produk akhir Proses sejak awal hingga akhir
Metode Penilaian Kemajuan Siswa Normatif Ipsatif
Hal Terpenting yang Perlu Diajarkan Keterampilan akademik Cara hidup sebagai manusia seutuhnya
Pihak Terpenting dalam Pembelajaran Institusi [sekolah, propinsi, negara] Individu
Peran Terpenting Guru Memenuhi instruksi institusi Menginspirasi siswa untuk belajar
Dasar Keabsahan pada… Penelitian ilmiah Kekayaan pengalaman manusia
Mata Pelajaran Terpenting di Sekolah Membaca, matematika, sains Keterampilan hidup, seni, pendidikan keterampilan, kemanusiaan, sains, dan hubungan di antaranya
Intinya Nilai ujian tinggi, uang Kedewasaan, kebahagiaan

 

Apakah ada dari poin-poin di atas yang masih membuat penasaran tentang definisi dan contohnya? Lalu bagaimana solusi perbaikan yang bisa dilakukan untuk pendidikan kita? Silahkan cari di buku The Best Schools karya Thomas Armstrong. Saya kan tak bisa copy-paste semua isi bukunya. 🙂 Yang jelas, banyak pencerahan dan pembelajaran yang bisa didapat oleh para pendidik dan orang tua dari buku ini. Dan seperti kata Prof. Conny Semiawan dalam kata pengantarnya untuk The Best Schools, “Buku ini seyogyanya disuguhkan kepada para pengambil keputusan dan para pejabat di Kementerian Pendidikan Nasional.” Tapi, tak perlu lah menunggu penguasa. Mari kita mulai dari diri dan keluarga/sekolah/lembaga/gerakan kita sendiri.***