Saat para orang tua menjauhkan anak-anaknya dari alat-alat pertukangan, Gever Tulley malah mendirikan Tinkering School, sekolah musim panas di Amerika tempat anak-anak belajar membangun, memecahkan masalah, menggunakan material dan perlatan baru, serta membongkar serta memodifikasi yang lama. Gever Tulley percaya bahwa saat diberikan peralatan, perlengkapan, materi dan bimbingan yang tepat, imajinasi dan kreativitas anak-anak akan berkembang dan mereka akan membangun apapun mulai dari kapal, jembatan, sampai rollercoaster! Berikut ini adalah excerpt dari video presentasi yang disampaikan Gever Tulley pada konferensi TED tahun 2009.

Pada Tinkering School, anak-anak diperbolehkan menggunakan alat-alat berbahaya semacam palu, bor, kayu dan yang lainnya, serta dipercaya untuk tidak melukai diri sendiri atau orang lain. Di sana tidak ada kurikulum standar dan tidak ada tes. Ketika anak-anak datang mereka akan dihadapkan dengan begitu banyak peralatan dan material yang akan mereka gunakan untuk membangun sesuatu. Waktu sekolah Tinkering School hanya selama satu minggu, sehingga anak-anak sekaligus diajarkan mengelola sebuah proyek dalam waktu yang terbatas.

Target Tinkering School adalah membuat para siswanya memiliki naluri dan pemahaman akan cara kerja suatu alat/mesin dan bagaimana cara membuatnya. Hidden curriculumnya adalah anak-anak akan mendapat penyadaran bahwa mereka bisa mengetahui dan memecahkan masalah dengan cara mengutak-atiknya. Anak-anak juga akan belajar bahwa jarang sekali segala sesuatunya bisa dijalankan sesuai rencana awal yang telah dibuat. Selalu akan ditemukan masalah di tengah jalan. Mereka kemudian akan membiasakan diri menerima kenyataan bahwa setiap langkah dalam sebuah proyek adalah langkah yang mendekatkan pada kesuksesan penuh kebanggan, atau pada kegagalan penuh pembelajaran.

Anak-anak akan memulai proyek dari sketsa kasar, atau dari rencana yang sangat mendetail, dan kadang-kadang mereka langsung membangun tanpa rencana. Pembelajaran utama didapat dari proses membangun apa yang mereka mau. Anak-anak akan belajar berfokus sepenuh tenaga dan berkomitmen pada tantangan yang sedang mereka hadapi saat itu. Para pembina bertugas menjaga proyek tetap condong ke arah finalisasi. Kesuksesan tidak diukur dari hasil namun dari prosesnya, sedangkan kegagalan tetap dirayakan dan tentu dianalisa. Dengan paradigma demikian, anak-anak menganggap masalah yang dihadapi tak ubahnya mainan puzzle yang harus diselesaikan. Rintangan pun disambut dengan penuh semangat.

Kadang-kadang ada masalah yang sangat rumit. Pada saat-saat seperti ini, anak-anak itu kemudian melupakan sementara masalahnya dengan cara melakukan kegiatan ringan. Sebenarnya hal tersebut adalah proses inkubasi konseptual yang diperlukan dalam proses berpikir kreatif saat memecahkan sebuah masalah. Hampir di semua buku kreativitas selalu ditemukan langkah “melupakan masalah sejenak” ini. Cara-caranya bisa berupa relaksasi, berolahraga, tidur, atau, dalam kasus anak-anak ini, mereka bersantai dengan mendekorasi bahan-bahan yang akan digunakan untuk membangun alat/bangunan/mesin. Setelah proses ini, anak-anak itu selalu mendapatkan pencerahan dan cara kreatif untuk memecahkan masalah yang sebelumnya membuat mereka frustrasi.

Seluruh material yang ada di Tinkering School dapat digunakan oleh anak-anak secara kreatif. Mulai dari material seperti kayu, sampai plastik belanja. Anak-anak di Tinkering School pernah membuat jembatan yang kuat dari plastik belanja! Bukan hanya pembina yang sering terkagum-kagum dengan apa yang bisa dibuat oleh anak-anak itu. Mereka sendiri yang membuatnya pun sering tidak percaya dengan hasil yang mereka capai. Dan ini, adalah pembelajaran yang tidak ternilai bagi anak-anak kita.

 

Semua foto diambil dari halaman Flickr Gever Tulley:
http://www.flickr.com/photos/gevertulley
http://www.flickr.com/photos/gevertulley/sets/72157618750564868/