Guest post oleh Fina Khairaty [33], tinggal di Geoje Korea Selatan. Ibu dari JED: Jasmine [6], Erina [4] dan Davienne [3]. Fina memiliki hobi bereksplorasi, baik di dunia nyata maupun maya. Sambil menjadi Ibu, Fina menyempatkan diri menulis dan mengembangkan usaha Rendang Warisan.

———-

Tahun lalu kami pindah ke sebuah kota kecil di Korea Selatan karena tuntutan pekerjaan suami. Anak kami, Erina, yang saat itu baru saja berulang tahun ke-4 kami sekolahkan di TK swasta setempat. Disebabkan kendala bahasa, pilihan yang ada di hadapan kami memang tidak banyak. Untunglah TK swasta ini memiliki 1 kelas per kelompok umur yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, meskipun gurunya tetap asli Korea.

Di kota ini ada banyak TK maupun aneka tempat kursus yang juga disebut ‘school’. Namun yang menyediakan porsi bahasa Inggris memadai tidak banyak kecuali tempat kursus bahasa Inggris yang juga biasa disebut ‘English School’. Jam belajar TK sesuai aturan dimulai pukul 9.30 pagi sampai 2 siang untuk kelompok umur 4-5 tahun (kelas bawah) dan 9.30 pagi sampai 4 sore untuk kelompok umur 6-7 tahun (kelas atas). Selain istirahat makan siang, ada istirahat makan kecil di pagi hari. Untuk kelas atas ada tambahan istirahat makan kecil pukul 2 siang.

Sedikit catatan tentang umur, usia yang saya sebut di sini adalah usia berdasarkan perhitungan Korea, dimana usia seseorang +1 dibanding hitungan usia pada umumnya. Di Korea seorang bayi yang baru lahir sudah dihitung 1 tahun, karena selama ia tumbuh di rahim ibu sudah dianggap sebagai individu seutuhnya. Sehingga 12 bulan setelah seorang bayi dilahirkan akan dirayakan sebagai ulangtahunnya yang ke 2. Dengan perhitungan ini, rekomendasi usia anak untuk masuk SD sama dengan di Indonesia yaitu 7 tahun (setelah dilahirkan) atau 8 tahun menurut perhitungan Korea.

Sekolah dilakukan setiap hari namun tidak wajib pakai seragam meskipun dibagikan saat pendaftaran. Selain baju seragam, kami juga menerima tas, nampan makan lengkap dengan tutup dan tasnya, serta buku komunikasi. Orangtua perlu menyediakan gelas, sendok, sikat gigi, tisu dan tisu basah yang disimpan di sekolah untuk anak masing-masing. Selain itu juga dibutuhkan alas kaki dalam ruang yang harus dibawa pulang dan dicuci setiap akhir minggu. Hal ini sesuai tradisi Korea dimana alas kaki di luar rumah tidak boleh dipakai di dalam rumah.

Tahun pelajaran dimulai setiap bulan Maret dan setahun dibagi atas 2 semester. Ada libur seminggu setiap pergantian semester. Setiap semester kami diwajibkan membayar biaya fasilitas dan buku diluar uang iuran bulanan.

Sesungguhnya dalam uang iuran bulanan sudah termasuk makan siang sehat yang dimasak di dapur sekolah (on-site). Orangtua diberi informasi mengenai daftar menu dan nilai gizinya setiap awal bulan. Secara umum menu harian berupa nasi, lauk pauk, sayur, sup rumput laut, buah dan yoghurt. Uang iuran juga termasuk bis antar jemput dalam radius 5 km. Sayangnya rumah kami sekitar 10 km dari sekolah tersebut sehingga fasilitas bis sekolah menjadi mubazir (dan tidak ada potongan uang sekolah karena ini).

Tak butuh waktu lama untuk saya menyadari bahwa setiap TK dan tempat kursus untuk anak TK-SD menyediakan bus antar jemput. Biasanya bis sekolah ini berwarna kuning dengan hiasan nama sekolah di badan mobil. Umumnya bis sekolah seukuran microbus (mirip kopaja/metromini) namun sudah dimodifikasi bagian dalamnya. Kursi-kursi berukuran kecil dilengkapi seatbelt individual.

Untuk anak usia TK, biasanya selain supir juga ada seorang guru yang menemani untuk ‘serah terima’ dengan orangtua/pengasuh. Sementara untuk anak SD tidak ada guru pendamping. Bahkan banyak juga anak SD yang pergi ke sekolah tanpa diantar orangtuanya. Korea Selatan memang dikenal sebagai negara dengan tingkat keamanan baik. Tapi kota kecil (di pulau pula!) ini bisa dibilang paling aman se-Korea.

Rupanya sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian orangtua Korea untuk menambahkan aktivitas setelah bersekolah. Sebab bis sekolah ini tidak hanya menerima antar jemput ke rumah, namun juga bisa mengantar ke tempat les (‘school’) tambahan tadi. Sesuai perjanjian, bisa juga sebaliknya, yaitu school bus dari tempat les yang menjemput si anak dari sekolahnya. School bus dari tempat les itu juga yang nantinya mengantar anak kembali ke rumah masing-masing. Dengan siklus seperti ini rata-rata anak TK  di sini beraktivitas sekitar pukul 8.30 pagi ketika dijemput bis dari sekolahnya dan tiba di rumah antara pukul 4 hingga 6 sore setelah mengikuti setidaknya 1 les tambahan.

Les tambahan yang tersedia sangat beragam yang awalnya membuat saya tercengang. Bagaimana tidak, mengingat lokasi kami yang bukan di ibukota, menunya bisa beragam sekali mulai dari kursus musik, senirupa (menggambar, melukis, membuat keramik), balet hingga aneka olahraga olahraga : taekwondo, senam, berenang, softball hingga golf dan berkuda! Format lesnya juga berbeda dengan di Indonesia yang berdurasi 30-90 menit dan terdapat 1-2 sesi perminggu. Di sini hampir semua kursus/les berdurasi 1 jam dan dilakukan setiap hari. Bayangkan!

Hal ini yang hingga sekarang membuat saya ragu memasukkan anak-anak ke tempat les. Kebetulan anak saya tertarik untuk belajar Taekwondo namun tidak ada penyedia kursus yang mau menerima ia masuk 2x seminggu saja. Setelah bernegosiasi, mereka membolehkan untuk masuk 3x seminggu. Di satu pihak saya takut anak-anak akan jenuh dan terlampau lelah jika harus bersekolah plus kursus setiap hari. Namun saya pikir mungkin itu pula yang membuat anak-anak menguasai suatu keahlian lebih cepat yaitu dengan pelatihan yang intensif.

Sebenarnya ada aktivitas tertentu yang frekuensi kursus cukup normal yaitu 1-2x perminggu, yaitu berenang, sepakbola hingga olahraga ‘mahal’ seperti golf, softball dan berkuda. Kemungkinan dalam jangka waktu dekat kami akan memilih berenang saja yang memang penting untuk dikuasai dan terjangkau di kantong. Apalagi dalam silabus TK sudah termasuk senam, balet dan musik. Masing-masing 2 sesi per minggu.

Dalam silabus pelajaran TK tingkat akhir saya temui bahwa pada bagian literasi mereka mengajarkan anak dasar-dasar membaca (aksara Korea). Selain menuliskan nama masing-masing, lulusan TK juga diharapkan sudah dapat mengenali kosakata yang umum. Menurut informasi dari kepala sekolah TK, di SD Korea anak-anak diharapkan sudah mengetahui aksara Korea. Namun aktivitas literasi ini disampaikan dengan banyak cara, seperti dengan bermain peran, bernyanyi hingga lewat gerakan senam.

Selain TK, saya menemukan juga beberapa daycare di kota ini. Dikarenakan babysitter atau asisten rumah tangga full time bukan sesuatu yang umum di Korea, keberadaan daycare cukup populer. Orangtua yang ingin memasukkan anaknya ke daycare harus rela berada dalam daftar tunggu yang panjang. Untungnya, perusahaan besar biasanya menyediakan daycare sebagai salah satu fasilitas untuk karyawan wanitanya yang memiliki anak balita.

Daycare menerima anak mulai dari usia 6 bulan hingga 6 tahun. Mulai kelompok usia 3 tahun sudah ada aktivitas terstruktur di pagi hari. Setelah jam makan siang biasanya anak-anak beristirahat dilanjutkan dengan bermain hingga jam penitipan berakhir. Karena aneka kursus biasanya menerima anak mulai dari usia 5 tahun, ada juga anak yang berangkat les dari daycare.

Yang sedikit mengganggu buat saya adalah, baik di sekolah, tempat les bahkan daycare, orangtua tidak diberi akses untuk masuk ke ruangan kelas anak. Biasanya orangtua atau pengantar hanya serah terima anak di lobi. Orangtua hanya bisa masuk ke ruangan saat survey sebelum memasukkan anak ke pusat aktivitas. Setelah itu semua kegiatan anak diketahui orangtua hanya lewat buku laporan/komunikasi saja. Pernah, saya mengantar dan menjemput anak hingga ke ruang kelasnya. Senang rasanya bisa ‘mengintip’ gaya anak saya berinteraksi di kelasnya. Meskipun sang guru tidak keberatan tapi justru staf manajemen sekolah yang menegur saya agar tidak mengulanginya kembali. Alasannya agar anak lain tidak menuntut orangtua masing-masing dibolehkan ke ruang kelas mereka.

Tidak terasa sudah satu semester Erina bersekolah di sini. Tampaknya ia dapat beradaptasi dengan baik. Sesekali ia berjalan menuju sekolah dengan berlompat-lompat kecil tanda senang. Di akhir semester, sekolah mengadakan pertunjukan di gedung kesenian setempat. Pertama kalinya Erina ‘manggung’ dan sukses. Hal ini membuat saya cukup terharu mengingat betapa pemalunya ia dulu.

Guru juga menyerahkan berbagai hasil ‘kerja’ anak selama satu semester. Dari ‘harta karun’ ini saya lebih mengerti progress anak saya. Ada aneka prakarya dan hasil eksperimen sains, aneka lembaran penuh stiker plus CD rekaman drama lengkap dengan bukunya. Namun ada juga yang terlihat hasil belajar serius, yaitu satu folder khusus berisi lembaran kerja matematika dan literasi.

Walaupun saya mulai memahami betapa ketatnya iklim kompetisi pada anak-anak sekolah di Korea terutama di tingkat sekolah menengah, namun pengalaman kami dengan TK lokal ini cukup baik dan terasa setiap murid dihargai keunikannya dan diperhatikan kebutuhannya. Di kelas Erina misalnya, perpaduan anaknya sangat bervariasi. Di awal semester ada anak yang super pemalu dan tidak bisa pegang pensil (Erina), 2 anak belum toilet training, 1 anak belum lancar bicara, dan 2 anak berbahasa ibu non-Korea dan non-Inggris. Angkat topi untuk guru dan sekolah yang berhasil ‘mengubah’ mereka.

Menurut tetangga yang menjadi wakepsek Sekolah Menengah setempat, sebenarnya durasi dan kegiatan di sekolah tidak ada masalah yang cukup mendasar. Hanya saja, para orangtua-lah yang berperan dalam menciptakan suasana kompetisi sejak dini terutama lewat jadwal aktivitas yang padat. Biasanya orangtua sudah punya rancangan pendidikan jangka panjang sejak TK, seperti akan kuliah di mana dan melalui sekolah apa saja. Pendidikan tinggi di institusi yang bergengsi masih dianggap jaminan kesuksesan di masa depan. Dari situlah para murid dituntut untuk bekerja keras kalau perlu sejak masih duduk di Taman Kanak-kanak. ***