Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah posting tentang Tragedi Nol Buku, sebuah posting yang lagi-lagi menampar wajah pendidikan kita. 

Pak Satria Dharma itu menulis posting mengenai riset yang dilakukan Taufik Ismail mengenai kewajiban anak SMA membaca buku sastra berjudul Tragedi Nol Buku. Kesimpulannya pahit: tidak ada kewajiban membaca buku sastra di SMA Indonesia. Berbeda jauh dengan negara lain, bahkan dengan kewajiban di sekolah pada masa penjajahan Belanda. Hasil lengkap lihat tabel di bawah yang saya ambil dari posting Tragedi Nol Buku.

Tabel Tragedi Nol Buku

 

Mengapa Terjadi Tragedi Nol Buku?

Pemegang kebijakan pendidikan kita mulai dari tingkat menteri, dirjen, kepala dinas, rektor sampai kepala sekolah mengabaikan pentingnya membaca buku, terutama buku sastra. Membaca buku adalah hal biasa, bukan kebijakan yang perlu jadi prioritas. Saya tunjukkan contoh sederhana yang tampak mata, silahkan dikonfirmasi kebenarannya.

Sekolah-kampus kita lebih peduli muridnya memakai alas kaki apa daripada berapa buku yang dibacanya. Sekolah-kampus kita lebih peduli muridnya mengenakan pakaian apa daripada apa buku yang dibacanya. Murid pakai sandal jepit dilarang masuk, tapi murid tidak membaca buku tidak dikenakan hukuman apapun. Murid pakai kaos oblong dilarang ikut ujian, tapi murid tidak membaca buku tetap bisa ikut ujian. Papan informasi di sekolah-kampus lebih besar soal larangan pakai sandal/kaos, daripada seruan baca buku.

Contoh diatas menunjukkan skala prioritas para pengambil kebijakan. Lebih penting penampilan meski otak kosong melompong. Lebih penting bersolek daripada membaca buku. Ini sekolah-kampus atau Fashion Show?

Berdasarkan pengalaman saya ketika dulu menjadi dosen, logika pengambil kebijakan pendidikan kurang lebih seperti ini. Kewajiban membaca buku adalah tanggung jawab dosen secara personal. Kewajiban mengenakan pakaian-sepatu seragam adalah tanggung jawab manajemen. Jadi memang beda prioritas. Pakaian urusan manajemen yang terpusat. Sementara, membaca buku diserahkan ke dosen. Kebijakan pakaian berlaku secara menyeluruh beserta hadiah dan hukumannya. Kebijakan membaca buku hanya berlaku di sebuah mata pelajaran atau sebuah kelas.

Mengapa Tragedi Nol Buku terjadi? Skala prioritas pengambil kebijakan pendidikan kita yang kacau! Dan apakah itu jadi perhatian dalam kurikulum 2013? Tidak!

Mari kita menukik lebih dalam ke praktek pelajaran Bahasa Indonesia. Apa yang menjadi prioritas? Hafalan mengenai awalan, akhiran, sisipan, majas dan tetek bengek lainnya. Apakah anak diajak untuk membaca buku? Hanya tugas di salah satu pertemuan. Kalau dianalogikan dengan pelajaran memasak, pelajaran berbahasa kita ibarat mengajari murid rumitnya memasak tanpa diajak menikmati dan menghayati masakan yang super lezat. Siapa yang bisa gemar membaca kalau dihadapkan dengan kerumitan tanpa merasakan lezatnya membaca?

Tragedi Nol Buku dan Buku Sastra 

Mengapa yang dipermasalahkan kewajiban membaca buku sastra? Mengapa bukan buku teks? Bagi saya, buku sastra adalah karya sastrawan dengan keseluruhan totalitasnya. Seorang sastrawan melakukan riset, penghayatan dan menuliskan buku sastranya sebagai sebuah kesatuan kehidupan. Bagai masakan, buku sastra adalah masakan yang dimasak secara sungguh-sungguh.

Sementara, buku teks adalah mie instan. Buku yang dibuat karena proyek. Buku yang dibuat agar anak bisa memahami berbagai teori secara cepat. Penulis buku teks tidak melakukan proses penciptaan karya. Perannya adalah memadukan berbagai jenis bahan secara cepat. Layaknya mie instan, buku teks mengenyangkan sampai bosan, bukan menyehatkan pikiran. Buku tesk itu setara dengan Wikipedia, tidak layak dikutip dalam laporan penelitian.

Apakah harus buku sastra? Tidak juga, bisa juga buku-buku yang ditulis langsung oleh penyusun suatu teori. Bila ingin belajar piramida kebutuhan, sangat beda antara membacanya di buku teks psikologi dengan membacanya di buku karangan Abraham Maslow. Meski demikian, buku yang ditulis ilmuwan biasanya lebih berat bahasanya.

Implikasi Tragedi Nol Buku 

Dampak pertama, anak tidak gemar membaca buku. Anak hanya diajarkan kerumitan cara membaca dan berbahasa tanpa pernah menikmati lezatnya membaca buku. Ketika tidak gemar, membaca buku hanya berdasarkan kebutuhan sesaat seperti membaca buku karena mau ujian. Asupan pengetahuan pada anak pun kurang secara jumlah dan kualitasnya. Semakin sedikit bacaan, semakin sempit wawasannya, semakin dangkal pengambilan keputusannya.

Dampak kedua,  tanpa kegemaran membaca maka tak ada pembelajaran berkelanjutan. Iya, membaca buku hanya ketika ada kewajiban di sekolah-kampus. Setelah itu membaca jadi aktivitas yang dijauhi dan dilupakan. Bahkan bisa jadi, membaca buku jadi aktivitas yang dibenci.

Dampak ketiga, anak tidak merasakan manfaat dari gemar membaca buku sastra. Apa saja manfaatnya? Banyak!  Saya mencatatnya ada empat manfaat dari gemar membaca buku: memperkaya kosa kata anak, membuat anak belajar tentang keragaman, problem solving, dan wawasan berbagai tempat, memahami pola perilaku orang dan cara berinteraksi, terakhir, melatih imajinasi dan kreativitas anak

Bagaimana Mengatasi Tragedi Nol Buku?

  1. Pilih presiden dan kepala daerah yang memprioritaskan gemar membaca buku dalam kebijakan pendidikannya
  2. Desak pengambil kebijakan pendidikan (menteri, rektor, & kepala sekolah) untuk menjadikan gemar membaca buku sebagai prioritas pertama
  3. Membangun dan mendukung taman baca masyarakat atau gerakan sosial untuk gemar membaca
  4. Menjadi orang tua yang mengajarkan anak untuk GEMAR (bukan mampu) membaca buku. Baca tipsnya di Gemar Membaca Buku Sejak Usia Dini.
  5. Sebarkan informasi mengenai Tragedi Nol Buku dan Kegemaran Membaca Buku