Saat membaca-baca Microsoft Encarta, saya menemukan artikel tentang kitab Guanzi, sebuah kompilasi tulisan filsafat Cina yang dinamakan berdasarkan nama seorang filsuf Cina, Guan Zhong, yang hidup sekitar abad ke-7 Sebelum Masehi. Salah satu bagiannya berisi pembahasan dan diskusi tentang pendidikan paling awal di Cina. Isinya menarik karena berisi panduan bagi para murid dalam menuntut ilmu yang lumayan berbeda dengan teori dan konsep pendidikan saat ini. Dalam panduan ini murid diberi Standard Operation Procedures yang mendetail dan baku, sampai ke cara menyajikan makanan pada gurunya. Disiplin, kepatuhan dan penghormatan tingkat tinggi adalah kuncinya.

Dengan metode pendidikan seperti ini, Cina toh berhasil membangun peradaban luar biasa untuk waktu yang lama dengan pemikir-pemikir handal (walaupun hobinya perang terus menerus), sampai kemudian peradaban-peradaban lain silih berganti mengambil alih posisi sebagai peradaban super power. Dari sini kita bisa melihat bahwa ruang dan waktu yang berbeda membutuhkan sistem pendidikan yang berbeda-beda pula. Yang dulu berhasil belum tentu cocok diterapkan sekarang. Yang di sana berhasil belum tentu bisa dipakai di sini. Apa yang sekarang telah kita ketahui dan apa tujuan kita saat ini juga mempengaruhi pemilihan metode. Sebagai referensi, silahkan baca cuplikan dari bab 59 Kitab Guanzi ini:

Sang guru menyampaikan ajarannya; para murid mengambilnya sebagai standar untuk mereka.
Dengan menjaga rasa hormat pada guru dan siap untuk menerima pembelajaran, serta memelihara pikiran yang benar-benar terbuka, pembelajaran akan dapat dimaksimalkan.
Ketika melihat kebaikan, mereka mengikutinya; ketika mendengarkan kebajikan, mereka menyerapnya.
Siap untuk diajari, patuh, dan menghormati orang yang lebih tua, mereka tidak pernah memperlihatkan kesombongan dan tidak pula menggunakan kekerasan.
Tidak memiliki tujuan yang salah atau palsu, sikap mereka selalu tepat dan apa adanya.
Selalu mengobservasi standar dan nilai-nilai masyarakat saat berada di rumah atau di daerah asing, mereka selalu mencari orang-orang bijak.
Postur fisik mereka selalu tertata, pikiran batin mereka pantas dijadikan contoh karena kebenarannya.
Walaupun mereka selalu bangun lebih awal dan tidur lebih larut, pakaian mereka selalu rapi.
Pagi hari didedikasikan untuk meningkatkan pembelajaran mereka dan malamnya digunakan untuk melatih apa yang telah mereka pelajari, mereka selalu berhati-hati untuk tidak melakukan hal yang salah.
Menjaga kerajinan dalam berkonsentrasi untuk hal-hal demikian, begitulah standar dalam menuntut ilmu.

Para murid junior yang bertugas piket harus bangun lebih awal dan tidur lebih larut.
Ketika menyapu lantai di depan alas duduk gurunya, ketika mencuci tangan dan membersihkan mulut mereka, mereka melakukannya dengan sikap yang penuh hormat.
Sesudah mereka selesai menyiapkan wadah air bagi gurunya mencuci tangan dan membersihkan wajah, maka sang guru pun bangun.
Setelah sang guru selesai mencuci tangan dan wajah, para murid meminggirkan wadah air, menciprati air pada lantai dan mengepelnya, serta merapikan alas duduk bagi sang guru.
Sang guru lalu duduk, dan para murid saat keluar ataupun masuk harus penuh rasa hormat seperti ketika menyambut tamu.
Mereka duduk dalam sikap yang terjaga, menghadap pada gurunya, postur tubuh mereka tertata dan tidak berubah-ubah.

Saat menerima pengajaran dari guru, berikut adalah instruksinya:
Murid tertua menghadap terlebih dahulu.
Ini berlaku pada saat pertama, sesudahnya tidak lagi.
Ketika para murid menerima suatu pelajaran untuk pertama kalinya, mereka harus berdiri dan mengulanginya, namun sesudahnya tidak perlu lagi.
Bila seorang murid datang terlambat, dua orang rekannya di masing-masing sisi selayaknya berdiri.
Bila datang seorang tamu,
Seorang murid harus langsung berdiri menyambut.
Karena seorang tamu tidak bisa ditolak,
Si murid selayaknya menyambutnya dan segera mengusahakan permohonan si tamu terlaksana.
Menghadap gurunya untuk menerima instruksi terkait si tamu.
Walaupun seseorang yang dicari oleh si tamu sudah tidak ada di tempat itu, si murid harus memberitahu kembali pada si tamu.
Sesudah itu si murid boleh kembali ke tempat duduknya dan meneruskan belajar.
Bila seorang murid memiliki pertanyaan,
Ia akan mengangkat tangannya untuk mengajukan pertanyaannya.
Dalam tiap perkataan dan tindakan, si murid selalu bersikap moderat.
Mereka yang bersinar pada masa lalu selalu memulai dengan sikap seperti ini.

Saat istirahat makan, ketika sang guru hendak makan, seorang murid menyiapkan makanannya.
Setelah menggulung lengan bajunya, mencuci tangannya, dan membersihkan mulutnya, si murid lalu berlutut untuk menyajikan makanan gurunya.
Ketika saus, gandum, dan makanan lainnya disajikan, harus dalam urutan yang benar dan tertata.
Sop sayur disajikan sebelum unggas, daging, ikan, atau kura-kura.
Sop dan daging diletakkan di tengah namun terpisah.
Makanan daging diletakkan di depan saus, dengan seluruh setnya membentuk persegi.
Butiran gandum disajikan terakhir, dengan kecap anggur diletakkan di sebelah kiri dan kecap kedelai di sebelah kanan.
Setelah melaporkan pada gurunya bahwa makanan sudah tersaji, si murid lalu mundur dengan mengatupkan kedua tangannya dalam sikap penuh hormat, dan berdiri di satu sisi.
Satu set sajian makanan biasanya terdiri dari tiga porsi gandu, dan dua celupan minuman anggur.
Si murid memegang baki di tangan kirinya dan sumpit atau sendok sayur di tangan kanannya.
Ia mengisi ulang tempat makanan gurunya segera begitu salah satunya telah habis.
Bila dua jenis makanan telah habis, ia mengisi ulang berdasarkan urutan disajikannya.
Perbuatan mengisi ulang makanan ini dilakukan terus menerus.
Karena peralatan menyajikan makannya didesain berbentuk panjang, maka ia tidak perlu berlutut.
Seperti inilah panduan untuk mengisi ulang makanan.

Ketika sang guru telah selesai makan, si murid membersihkan semuanya,
Dan segera membawa wadah air untuk gurunya membersihkan mulut, membersihkan lantai di depan alas duduk gurunya, serta mengumpulkan peralatan makan.
Setelah gurunya mengijinkan, para murid bisa mulai memakan makanan mereka.
Mereka duduk berurutan berdasarkanusia, dan duduk di bagian depan alas duduk mereka.
Butiran gandum harus diambil dan dimakan dengan tangan, namun sop sayur tidak dimakan dengan tangan.
Diperbolehkan bagi mereka untuk meletakkan tangan di lutut, namun mereka tidak boleh bersandar pada siku.
Setelah makan sampai kenyang, mereka lalu meraba tepi dan sudut mulut mereka untuk memeriksa apakah ada sisa makanan tertinggal di sana.
Mereka lalu membersihkan baju mereka dari rempahan makanan, membersihkan alas duduk mereka, dan setelah selesai makan lalu bangkit dari alas duduk masing-masing.
Setelah merapikan pakaian mereka, mereka lalu turun dari alas duduknya dan berbalik menghadap meja alas makan mereka.
Setiap orang lalu membersihkan sisa-sisa makanannya seakan-akan membersihkan sisa makanan milik seorang tamu.
Setelah membersihkan sisa makanan, mereka menyingkirkan peralatan makan,
Dan mereka kembali ke posisi mereka pada alas duduk.

Ketika menyapu lantai di depan alas duduk gurunya, para murid harus menggunakan metode berikut ini:
Mereka harus mengisi wadah air dan melipat lengan bajunya sampai ke siku.
Dalam ruangan yang besar, mereka boleh menyiramkan air ke sekeliling ruangan; dalam ruangan yang kecil, mereka harus mencipratinya dengan mengambil sedikit air dengan tangan mereka.
Ketika memegang pengki, lidah pengki harus menghadap si penyapu; di tengahnya diletakkan sapu.
Si penyapu, saat memasuki ruangan, berdiri diam sejenak untuk memastikan tidak ada yang salah dengan sikapnya.
Ia memegang sapu dengan tangannya, merendahkan pengki, menyandarkannya pada sisi pintu.
Untuk menyapu lantai di depan alas duduk gurunya, berikut panduannya:
Si penyapu harus memulai dari bagian ujung barat daya;
Ia bergerak maju dan mundur dengan punggungnya membungkuk seperti bentuk lonceng bel,
Ia memastikan untuk tidak membentur dan mengenai apapun;
Dari bagian depan ruangan, ia lalu menyapu ke arah belakang,
Mengumpulkan debu dan kotoran di dekat pintu.
Lalu ia berjongkok, mengumpulkan debu dan kotoran dengan memasukkannya ke dalam pengki dengan tangannya.
Ia mengarahkan lidah pengki ke arah dirinya sendiri dan menempatkan sapu di seberangnya.
Apabila sang guru bangkit dari alas duduknya, si penyapu harus berdiri pula dan permisi pada gurunya.
Lalu, setelah berjongkok untuk mengambil pengki dan sapu, ia lalu mengambil posisi berdiri lagi dan menyingkirkan pengki dan sapu.
Setelah selesai menyapu, si penyapu lalu kembali pada posisinya – sesuai dengan proses belajar yang sedang dijalaninya.

Saat makan malam, para murid mengulangi ritual yang dilakukan pada pagi harinya.
Saat senja mereka menyalakan obor, pada setiap sudut.
Metode untuk meletakkan obor adalah pada sisi berlawanan dengan posisi duduk mereka.
Ketika obor telah habis terbakar sampai batas tertentu, si murid menyalakan lagi yang baru dengan cara meletakkannya dengan sudut tertentu, seperti penggaris siku seorang tukang kayu, relatif terhadap obor yang lama.
Pada saat yang sama dia memegang wadah untuk menampung bara yang jatuh.
Lalu dengan tangan kanannya ia memegang obor yang lama,
Ia menyapu ujung yang terbakar dengan tangan kirinya, namun bila ada bara yang akan jatuh, seorang murid yang lain akan menggantikannya memegang obor.
Ketika bertukar tempat duduk, murid tidak boleh memunggungi mereka yang memiliki posisi lebih terhormat.
Lalu, ujung obor yang terbakar diambil dan dibuang.

Ketika sang guru hendak mengakhiri harinya, seluruh murid berdiri.
Mereka memberikan bantal dan alas tidur pada sang guru dengan penuh rasa hormat, dan bertanya padanya di mana ia ingin meletakkan kakinya.
Saat pertama mereka mengatur tempat tidur gurunya, mereka menanyakan hal ini, namun setelah kebiasaan gurunya mereka ketahui, mereka tidak perlu bertanya lagi.
Setelah gurunya beristirahat, setiap murid mencari temannya;
Dengan cara membedah dan memperhalus,
Masing-masing memperkuat argumennya,
Rutinitas hari itu telah terlengkapi, hari berikutnya muncul seperti baru.

Beginilah panduan bagi para murid.***

 

Sumber foto: Life of Guangzhou