Benar, dalam home education kami ujian/ulangan adalah alat ukur, yaitu alat ukur bagi saya sebagai tutor bagi anak saya, tentang sejauh mana penyampaian materi oleh saya dipahami oleh anak, dan sejauh mana anak telah memahami materi tersebut. Dari hasil ujian, saya bisa mengetahui perlu atau tidaknya suatu materi dipelajari ulang, atau apakah bisa kami lanjut ke materi berikutnya.

Dengan prinsip yang seperti ini, Ada dua macam ujian yang bisa (bukan harus) kami tempuh, yaitu ujian per hari berupa soal untuk dikerjakan secara mandiri, dan ujian per subject, yaitu ketika anak menyelesaikan satu subject pelajaran. Ujian jenis pertama berguna untuk melihat pemahaman anak pada materi pelajaran yang diberikan saat itu, ujian jenis kedua berguna untuk melihat apakah pemahaman anak sudah masuk dalam long term memory-nya. Melalui ujian jenis pertama saya bisa mengevaluasi, apakah cara saya menyampaikan materi itu sudah benar atau belum, jika belum maka akan saya tindak lanjuti dengan pengulangan pemberian materi dengan cara yang berbeda yang lebih sesuai dengan anak. Sedangkan dari ujian jenis kedua kita bisa melihat kesiapan anak dalam mengintegrasikan seluruh pengetahuannya untuk memahami dan menyelesaikan permasalahan yang dia hadapi.

Dengan penerapan-penerapan ujian berbasis prinsip-prinsip tersebut, maka nilai yang didapat tidak hanya angka-angka penghias buku raport. Tapi mewakili seluruh evaluasi belajar. Selama ini yang saya rasakan, ketika menilai materi matematika, science, dan bahasa, penilaian mudah saja dilakukan, mengapa? Karena anak juga dengan mudah menunjukkan tingkat pemahaman untuk materi-materi ini. Sedangkan untuk beberapa materi seperti IPS, anak sulit memahaminya tanpa menghafal. Apa yang kami harap dalam proses home education itu bukanlah semata anak menghafal materi pelajaran tanpa memahaminya. Seperti misalnya pelajaran tentang nama-nama menteri, ini sering kami skip pemberian ujiannya.

Kesimpulannya, dalam memberikan ujian atau ulangan, saya tidak akan berpusat pada keberhasilan anak, tapi pada kebermanfaatan ujian/ulangan tersebut bagi proses belajar anak selanjutnya. Dengan begitu, ujian bukanlah menjadi sarana berbuat curang, bukan sarana untuk melakukan apapun demi nilai baik. Hasil ujian atau ulangan itu mengandung evaluasi bagi kedua pihak penyelenggara pendidikan: guru dan murid. ***