Pertengahan Agustus lalu muncul berita yang menjadi perbincangan dunia pendidikan global: Menteri Pendidikan Israel, Shai Piron, mengumumkan penghentian National Standardized Test [NST] atau yang biasa dikenal dengan external Meitzav. Disebut eksternal karena dilakukan oleh pemerintah pusat, sedangkan internal Meitzav dilakukan oleh sekolah. Singkatnya, external Meitzav adalah serupa Ujian Nasional, sedangkan internal Metizav adalah serupa Ujian Sekolah.

Alasan paling utama untuk penghentian seperti yang dikemukan oleh Menteri Pendidikan Israel adalah NST telah menyuburkan budaya pengukuran dan mematikan budaya belajar [yang dimaksud adalah learning, bukan sekadar studying]. Menurutnya, persiapan yang dilakukan sekolah dan siswa untuk NST telah memakan waktu kelas reguler dan bahkan waktu liburan. Siswa dan orangtua menghabiskan biaya untuk membeli materi persiapan NST. Selain itu, NST juga menimbulkan budaya “klasemen” yang membuat sekolah begitu khawatir tentang posisi mereka, yang dinilai dari hasil ujian NST siswanya, dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain. Budaya “klasemen” ini diakui merugikan sekolah, terutama sekolah yang telah berusaha mengintegrasikan siswa dari status sosio-ekonomi rendah. Pada akhirnya Shai Piron mengatakan, “Intinya, NST sudah membuat kita jadi “gila” dan kebingungan. Pendidikan kita berbelok dari pembelajaran ke pengukuran.”

Menteri Keuangan Israel, Yair Lapid, ikut berkomentar mendukung penghentian NST. Menurutnya pendidikan bukanlah tentang pengukuran, tapi tentang pembelajaran. Pengetahuan dan kecerdasan tak seharusnya diberi nilai angka. Ia juga mengatakan kita tidak bisa membanding-bandingkan siswa saat kita belum memastikan mereka menikmati kondisi setara. Masih menurutnya, dalam dunia yang berbasis kerjasama dan pemikiran kreatif seperti saat ini, kita justru memperbudak anak-anak kita dengan hapalan-hapalan tak terhingga dan di ujung persekolahan memaksa mereka duduk sendiri berhadapan dengan kertas ujian sambil berharap mereka mendapat nilai lebih baik daripada anak yang duduk di sebelahnya [alih-alih berkolaborasi].

Keputusan ini disambut baik oleh para pendidik yang mengatakan bahwa NST telah berubah menjadi sapi emas [dari kisah Nabi Musa]. Maksud analoginya adalah NST telah memakan sumber daya waktu dan tenaga begitu banyak dari guru dan siswa, kemudian malah membawa dampak buruk bagi budaya belajar. Amnon Rabinovich, seorang guru sekolah menengah di Yerusalem, mengatakan bahwa dengan dihapuskannya NST maka guru akan memiliki lebih banyak waktu untuk menciptakan pembelajaran yang mendalam serta bereksperimen di kelas. Selama ini hal itu tidak dimungkinkan karena mereka harus lebih fokus pada persiapan NST.

Tidak semua orang setuju dengan keputusan Shai Piron. Mantan Menteri Pendidikan Israel, Gideon Sa’ar, mengecam keputusan penerusnya ini. Menurutnya tidaklah mungkin mengelola sebuah sistem, apalagi sistem besar seperti sistem pendidikan, tanpa pengukuran. Ia juga menganggap tidak mungkin ada pencapaian tanpa pengukuran data menurut standar. Ia juga mengecam keputusan menghentikan NST tanpa menciptakan alternatif lain terlebih dulu.

Keberanian Menteri Pendidikan Israel menghentikan NST mendapat pujian dari berbagai pakar pendidikan dunia seperti Pasi Sahlberg dan Diane Ravitch. Lebih hebat lagi bila kita lihat ia menghentikan NST karena nyata keburukannya, tanpa menunggu harus ada alternatifnya. Sesudah menghentikan NST, baru kemudian ia membentuk tim untuk memikirkan ulang bagaimana sebuah pemetaan pendidikan seharusnya dilakukan tanpa mengorbankan budaya belajar dan bernalar. Sebaliknya di Indonesia, dengan mudah kita temukan komentar dari para pejabat Kementerian Pendidikan yang menyatakan: “Kalau UN dihapus, apa penggantinya? Jangan dihapuskan lalu belum ada penggantinya.”

Sebenarnya, apakah NST ini juga memiliki intensitas yang sama dengan Ujian Nasional di sini? Ternyata tidak. NST hanya dilakukan dua tahun sekali, dan di masing-masing periode, NST akan mengujikan dua dari empat subjek: Matematika, Sains dan Teknologi, Bahasa Inggris dan Bahasa Ibrani. Jadi masing-masing subjek diujikan setiap empat tahun sekali. Nah, yang seperti ini saja sudah dianggap membelokkan budaya belajar menjadi budaya pengukuran dalam pendidikan Israel, sampai-sampai NST harus dihentikan. Bagaimana dengan Ujian Nasional di sini? Apakah berbagai dampak buruk NST yang disebutkan Shai Piron dan Yair Lapid tadi tidak terlihat di Indonesia dengan UN-nya, atau justru lebih parah? Kita semua bisa menilai sendiri.

Berita terakhir menyatakan bahwa penghentian NST hanyalah langkah awal Israel dalam mereformasi pendidikannya. Yair Lapid menyatakan, “Kita tidak akan berhenti di sini. Penghentian NST adalah awalan dari gerakan yang lebih besar untuk mengurangi secara drastis berbagai ujian matrikulasi.” Bagaimana dengan di Indonesia? Pada Konvensi Nasional Pendidikan yang direncanakan akan diadakan bulan September ini oleh Kemdikbud, salah satu isu utama yang akan dibahas adalah tentang Ujian Nasional. Mari kita lihat, apakah pesertanya akan benar-benar memanfaatkan konvensi sebagai momen menghentikan segala kebijakan perusak pendidikan, atau konvensi hanya akan dijadikan ajang tawar menawar komposisi nilai Ujian Nasional dan Ujian Sekolah. ***

Sumber berita:

Ingin ikut menyuarakan kepada pemerintah untuk mereposisi Ujian Nasional? Silahkan baca dan dukung petisi yang sudah didukung lebih dari 8.000 orang ini >> http://bit.ly/petisiUN

Tren pengurangan beban akademik dan ketergantungan terhadap ujian tidak hanya di Israel. Cina, yang pendidikannya dikenal sangat ketat, juga melakukan perombakan besar-besaran. Lebih lengkapnya bisa dibaca di sini >> http://www.bincangedukasi.com/reformasi-pendidikan-cina.html

Bila ingin membaca opini dan tulisan pro-kontran seputar Ujian Nasional di situs Bincang Edukasi ini, silahkan klik >> http://www.bincangedukasi.com/tag/ujian-nasional