Belakangan ini dunia pendidikan begitu ramai. Selain karena isu Kurikulum 2013, ada isu yang tak kalah heboh dan penting yaitu isu Ujian Nasional (UN). Bagaimana pun, dalam kondisi seperti apapun guru tetap harus mendukung dan mendampingi proses siswa sebaik-baiknya, termasuk mendampingi siswa mempersiapkan diri menghadapi UN.

Saya mengenal beberapa sekolah yang mulai mencari jalan alternatif dalam mendidik siswa-siswinya. Namun, pilihan alternatif tersebut tidak serta merta membuat sekolah-sekolah tersebut menghapus UN sebagai sebagai syarat kelulusannya. Saya cermati dalam perjalanannya yang panjang, SD Kembang terus berusaha mempertahankan idealismenya, tapi di sisi lain juga tidak mengabaikan UN sebagai bagian dari proses yang penting untuk anak. Mencermati hal ini, saya kemudian tertarik untuk mengetahui suka duka dalam mendampingi siswa kelas 6 SD. Mengapa? Menurut saya, mendampingi anak kelas 6 itu spesial, terutama untuk sekolah-sekolah “alternatif” yang masih mengutamakan kesenangan belajar dan mengutamakan proses. Kali ini saya memilih SD Kembang, Jakarta, untuk berbagi ceritanya melalui Ibu Sekar Ayu Adhaningrum (Arum), salah satu guru yang memfasilitasi kelas 6,  dan Ibu Lestia Primayanti (Tia), Wakil Kepala Sekolah SD Kembang. Sekolah yang terletak di daerah Kemang ini berawal dari sebuah kelompok bermain tahun 1974. SD Kembang sendiri berdiri sejak 2003, dan sampai tahun 2013 sudah 5 angkatan yang lulus.

 

Hal menarik apa yang dialami ketika mendampingi siswa kelas 6, terutama yang berkaitan dengan membantu kesiapan anak dalam menghadapi UN?

Arum (A) : “Perjalanan” mendampingi murid-murid kelas 6 SD Kembang memang menarik dan menantang, mengingat mereka tidak pernah dibiasakan mengerjakan model soal-soal seperti UN. Mereka tidak asing dengan ujian, namun mereka perlu diperkenalkan dengan model soal UN yang lebih banyak mengukur hafalan pengetahuan.

Biasanya, pada akhir kelas 5, guru kelasnya sudah sesekali melatih anak untuk mengerjakan soal model UN. Di kelas 6, hal tersebut dilakukan lebih sering lagi. Program yang SD Kembang lakukan dalam rangka menyiapkan siswa-siswa menghadapi UN adalah melakukan pengayaan.  Pengayaan memang khusus untuk UN, jadi siswa akan mengulang kembali materi pelajaran yang diujikan saja. Saya dibantu guru kelas 4 dan 5 untuk menyusun materi sekaligus mengajarkannya kepada siswa.

Mengingat siswa Kembang jarang sekali mengerjakan soal model UN ini, maka buat kami, para guru, susah-susah gampang untuk mengajarkannya pada anak-anak. Tapi hal tersebut bisa dilakukan dan selama ini seiring sejalan dengan kegiatan sehari-hari kami di kelas. Di luar jam pengayaan kami tetap bisa menerapkan metode High Order Thinking (HOT) pada anak-anak, tidak serta merta karena UN jadi semuanya menghafal.

Pengayaan itu sendiri kami atur frekuensinya, dari mulai seminggu sekali sampai seminggu tiga kali. Semakin dekat UN, makin sering. Salah satu cara lain adalah Try Out (TO). Umumnya 1 tahun maksimal 10 kali TO. Tujuan utamanya TO bukan adu tinggi nilai, tapi untuk membiasakan anak terhadap model soal UN. Kelihatan sih hasilnya, sesudah beberapa kali TO, ada peningkatan nilai secara signifikan. Memang mau tidak mau ujung-ujungnya nilai juga, sebab memang tolok ukur kelulusan pake angka, kan? Hehe..

Jujur, selama 2 tahun jadi wali kelas 6, mempersiapkan siswa secara akademis bukan jadi prioritas utama saya. Hasil TO dan rapor saya usahakan mencukupi/lebih standar minimal kita, dan alhamdulillah sih selalu cukup. Nah, yang agak menjadi PR sebenarnya masalah mental. Menyiapkan mental para siswa bahwa mereka akan UN, (mengerjakannya) sendirian, dan yang terberat dan membutuhkan trik khusus adalah… UN ini menentukan lulus/tidaknya mereka dari SD!

Saya pikir, sebagai gurunya saya harus bisa tenang, santai, relax, dll. Ya, kalo tidak ‘kan, orang tuanya sudah panik sendiri, menyuruh mereka belajar, jadi siswanya juga stress. Masa gurunya juga (ikutan stres) :p Jadi saya berusaha untuk tenang dan menenangkan mereka.

Saya bilang belajar “mati-matian” buat UN itu justru seharunya dari jauh-jauh hari, kalau sudah beberapa hari menjelang UN sih santai aja, banyak main, istirahat, dan bukan menghafalan isi buku pelajaran. Semakin dekat UN, saya bikin kegiatan yang menenangkan, seperti menggambar situasi saat UN nanti, dimana aku minta hanya boleh menggambar hal-hal yang positif aja, sampai boleh bawa bantal ke sekolah untuk tidur dan relaksasi sebelum UN.

Saya juga memberi pilihan gaya belajar buat mereka. Saya pikir, gaya belajar anak ‘kan beda-beda, ya. Bagaimana kalau ada anak yang justru merasa tenang kalau belajar banget H-1 ujian. Saya bilang, silakan aja. Tidak ada keharusan untuk A atau B. Saya kasih contoh, saya itu justru kalau mau ujian malah belajar mati-matian sehari sebelumnya. Ya, kalau ada anak yang kayak gitu masa aku paksa (supaya tidak melakukannya), nanti malah dia stres. Cuma, saya kasih tahu plus minusnya, mereka pilih sendiri mau belajarnya kayak gimana. Yang pasti, di sekolah juga harus dicek betul apakah kita sudah mengajarkan seluruh standar kompetensi yang dibutuhkan.

H-1 UN saatnya bersantai mengendurkan ketegangan.

Tia (T) : Di tahun-tahun pertama kami memiliki kelas 6, kami sering mengingatkan anak-anak tentang UN. Bahkan kami sampai menghitung mundur hari (menuju UN). Tapi setelah kami evaluasi, hal tersebut justru kontraproduktif. Anak-anak jadi cemas dan performanya tidak sebaik mereka sehari-hari. Belakangan kami malah jarang menyebut-nyebut UN kecuali memang sedang persiapan UN. Yang kami sering tekankan bukan UN menakutkan, tapi lebih membangun rasa percaya diri bahwa mereka pasti bisa. Namanya anak-anak, mereka belum bisa membayangkan UN itu seperti apa. Kadang mereka mencemaskan hal-hal yang bebeda dari yang kita cemaskan, — dan itu benar-benar sangat imajinatif :)) –.

Dalam persiapan teknis, kami membiasakan untuk menceritakan serinci mungkin apa yang akan terjadi. Misalnya nanti mulai masuk ruangan sampai selesai ujian bagaimana, siapa saja yang akan mereka temui, bagaimana mereka harus bersikap, dll. Apalagi (di tahun) awal-awal kami masih menumpang ujian di sekolah lain. Anak juga kami ajak mengunjungi sekolah itu sebelum hari-H.

Yang saya catat, Bu Arum meluangkan banyak waktu untuk mengajari anak-anak bagaimana berpikir positif, melakukan refleksi, menetapkan tujuan dan mengevaluasi, serta mengenal diri sendiri. Menurut saya semua itu besar artinya menopang keberhasilan anak-anak di saat UN, dan yang jelas manfaatnya tidak berhenti di UN.

Hal lain, kami juga mengenalkan teknik-teknik relaksasi, seperti yoga, meditasi. Tentu dgn sepengetahuan ortu dan tetap peka kalau ada keluarga yang menganggap hal-hal ini tidak sesuai dengan praktek agama mereka, misalnya. Minggu terakhir menjelang UN malah (kami) sudah tidak membahas soal lagi.  Di tahun terakhir ini gurunya malah sibuk mengajari anak-anak menyelesaikan konflik, karena ada masalah yang sedang dihadapi anak-anak. Intinya kami ingin anak-anak menempuh UN dengan hati plong dan langkah seringan mungkin.

 

Pendidikan adalah sebuah proses panjang, yang tidak hanya ditentukan oleh kelas penutup. Hal apa yang penting untuk dibangun dari awal masuk SD (kelas 1) sehingga anak siap secara akademis dan mental?

A : Percaya diri, berani mencoba, kebiasaan/rutinitas belajar yang baik, pola istirahat dan makan yang teratur, komunikasi yang lancar, proaktif untuk bertanya, dan kalau bisa sudah mengenal gaya belajar yang cocok untuk diri sendiri.

T : Keterampilan belajar yang baik. Sejak kelas 1 siswa SD Kembang belajar untuk terampil berkomunikasi dengan berbagai cara. Mereka juga kita kenalkan dengan berbagai metode dan gaya belajar. Lalu strategi-strategi seperti membuat mind map, chunking, menemukan kata kunci, dll. Yang lama ya prosesnya.

Dari segi sosial emosional, anak-anak selalu diajak mengenal dirinya sendiri. Apa kelebihan kekurangannya, bagaimana memanfaatkan atau mengatasinya. Lalu mereka juga selalu belajar mementukan tujuan/target dan mengevaluasinya secara berkala. Berpikir positif.

Kami juga memberikan pendidikan seks sejak kelas 5. Ini adalah bagian dari pendidikan mengenal diri sendiri dan hal-hal yang berubah dalam pertumbuhan mereka. Jadi di kelas 6, ketika beberapa anak mulai mengalami perubahan diri karena mulai masuk masa pubertas, mereka pun lebih siap dan sadar apa yang terjadi pada diri mereka. Anak-anak juga jadi bisa berbagi ke gurunya tentang apa yang mereka alami, atau apa yang mereka cemaskan. Menurut saya, secara tidak langsung ini juga ada hubungannya dengan kesiapan mereka untuk lulus.

Dan yang pasti selalu berusaha menyampaikan harapan yang tinggi pada mereka. Strech yourself. Ya, tidak jadi demanding, tapi memberi pesan, kamu bisa kok menantang dirimu sendiri. Termasuk di dalamya menerapkan higher order thinking (HOT) dalam belajar meski kurikulum nasional tidak meminta itu.

 

Apakah ada hal yang spesifik perlu disiapkan oleh guru saat mendapat tanggung jawab mendampingi siswa kelas 6? Adakah kemampuan khusus yang perlu dimiliki atau disiapkan? 

A : Kemampuan khusus sih sepertinya tidak ada. Menurut saya, gurunya harus sigap dan lebih jeli mengamati perkembangan anak di kelas. Sigap, soalnya banyak sekali yang harus disiapkan, mulai dari bekal materi untuk menghadapi soal-soal UN, sampai mengurus printilan administrasi seperti formulir-formulir, bolak-balik ke kantor kecamatan, melayani pertanyaan orang tua, dll. Perkembangan anak juga harus dilihat jangan sampai ada hal-hal yang mengganggu konsentrasi.

T : Dalam memilih guru kelas 6 biasanya yang dipertimbangkan adalah guru yang tangguh. Hehe..

 

Orang tua adalah pendidik yang paling penting dan partner sekolah dalam mendidik anak. Sebagai guru pendamping kelas 6, bagaimana Ibu Tia dan Ibu Arum melihat peran serta orang tua dalam perjalanan proses, baik selama kelas 6, maupun di kelas-kelas sebelumnya? Pendampingan orang tua seperti apa yang diperlukan? 

A : Benar sekali, salah satu kunci sukses UN adalah pendampingan orang tua. Dari awal kelas 6 kami sudah sering menyampaikan kepada orang tua tentang hal ini. Beberapa minggu sebelum rangkaian ujian akhir dilaksanakan, kami bikin pertemuan lagi sama ortu untuk menerangkan detail ujian dan terus mengingatkan orang tua untuk  mendampingi anak. Selain itu kami juga minta supaya orang tua tetap tenang, hehe.. Untungnya sih, orang tua siswa cukup aktif bertanya pada kami, dan mereka mau mendengarkan pendapat kita. Misalnya, “Perlu ngga sih anaknya ikut bimbingan belajar? Kalo perlu, bimbel seperti apa yang diperlukan? Bimbingan individual atau bagaimana?” Pendampingan yang diperlukan sebenarnya standar sih, seperti banyak istirahat, makan yang benar, jangan sering tidak masuk, dll.

T : Orang tua pasti berharap anaknya lulis dengan nilai baik. Syukurnya, selama ini mereka juga cukup mengerti bahwa kesejahteraan (well-being) anaknya juga perlu diperhatikan. Kami berusaha berkomunikasi dengan baik supaya keduanya tercapai. Orang tua juga biasanya mulai sadar anaknya mesti dilepas belajar lebih mandiri di sekitar kelas 4. Yang penting kami saling berkomunikasi. Mereka cerita sama kami, dan kami kasih tahu juga harapan kami seperti apa.

 

Ada kisah yang menarik untuk dibagi?

A : Hal menarik dari mendampingi anak-anak menghadapi UN adalah menenangkan para orang tua. Biasanya mereka mengeluh, “Bu, kok anak saya ngga pernah kelihatan belajar di rumah, main melulu..” ; “Bu, kok nilai Try Out-nya turun?” ; “Bu, kok nilainya nggak naik-naik?”, dll. Hahaha, saya maklumi saja, namanya juga orang tua. Kalau saya, tinggal ditenangkan aja, kasih saja jawaban yang logis. Sambil kita juga observasi, ada nggak anak yang sepertinya butuh perhatian khusus, bukan berarti harus ikut bimbel ini itu, ada juga yang krn kurang ditemenin sama ortunya, atau ada masalah lain.

Memang banyak tantangan yang harus dihadapi selama mendampingi siswa kelas 6. Untuk ini, saya harus mengucapkan terima kasih banyak sama teman-teman Sekolah Kembang atas dukungannya. Banyak yang membantu saya, mulai dari admin, kepala sekolah, guru-guru kelas lain, orang tua, sampe pasukan cleaning service. Ya, kita baik-baik saja lah sama orang lain, sebab kita PASTI akan butuh bantuan mereka. Clash atau konflik saya akui pasti ada, apalagi saya ini panikan dan kadang agak sensi, jadi sempat beberapa kali bete-betean sama temen :p

Apakah kunci keberhasilan dari kerjasama guru/sekolah – murid – orang tua dalam proses persiapan menghadapi UN?

A : Menurut saya yang penting adalah komunikasi yang baik antar staf sekolah-murid-ortu murid. Berikutnya adalah teliti dan cek-ricek lagi SEMUANYA. Baik materi, dokumen pelengkap administrasi. Pokoknya semuanya. Yang penting, jalani semuanya dengan senang hati. Kalo mau dibilang capek, iya banget. Tapi nikmati saja..

T : Tambahan dari saya, dalam menghadapi UN kita tidak boleh berperan jadi korban. Cari strategi, sistem pendukung yang tepat. Kita pasti bisa kok, menghadapi UN tanpa mengorbankan anak-anak, dan tentunya tidak perlu mengurangi proses belajar.

 

Seberapa signifikan pencapaian hasil /nilai UN untuk Sekolah Kembang? Apa saja parameter keberhasilan anak yang paling penting untuk Sekolah Kembang? Dan bagaimana mengukurnya?

A :  Sebelum UN dan seluruh rangkaian ujian dilaksanakan, sekolah-sekolah diminta menetapkan standar kelulusan minimal. Kami juga punya nilai minimal yang harus dicapai oleh siswa setiap kuartalnya. Kami berusaha agar seluruh siswa memenuhi standar minimal yang kami tetapkan. Parameter keberhasilan kalau dari sisi nilai ya jangan sampe ada yang di bawah standar/tidak lulus, siswa diterima di SMP yang baik, dan tetap menjalani proses persiapan ujian-ujian-tes SMP- lulus dengan tenang dan menyenangkan.

T : Mau dibilang penting, kami nggak ngoyo dan mengejar peringkat 10 besar DKI misalnya. Pentingnya sebatas siswa bisa lulus dengan nilai baik, minimal sesuai dengan prestasi sehari-hari mereka. Kami mencoba pertahankan nilai rerata 8,0. Hitungan baik yang menurut kami masih wajar. Alhamdulillah selama 5 tahun ini selalu tercapai.

Yang buat kami penting adalah mereka bisa lulus jadi anak yang mandiri. Jadi anak yang bisa menampilkan hal-hal positif yang selalu kami tanamkan sehari hari seperti santun, gembira, pandai berkomunikasi, PD-nya tinggi. Kalau saya refleksikan, yang paling membuat guru-guru galau adalah anak yang belum mandiri. Misalnya self help­-nya masih rendah, mengelola tugas sendiri masih belum bisa, belum punya rasa btanggung jawab terhadap tugas-tugasnya, dan tidak ada keinginan berprestasi.

Tentang alat ukur, ini dia… Mungkin masih PR buat kami mengukur yang “tepat”. Selama ini kami mengandalkan pengamatan dan penilaian guru, penilaian anak pada diri sendiri, serta umpan balik dari orangtua.

 

Apa yang paling berbeda dilihat dari cara/gaya belajar kelas 6 dibandingkan kelas-kelas sebelumnya?

A : Ya mungkin kalo kelas 6 sudah lebih sering melakukan drilling untuk persiapan menghadapi bentuk-bentuk soal UN. Memang bukan gaya sekolah kami, oleh karena itu kami juga tetap melakukan proses belajar yang lain, yang lebih dinamis seperti presentasi, bermain peran, bentuk lembar kerja, bacaan yang beragam, dll.

T : Ada persiapan untuk UN. Itu saja.

 

Seberapa banyak anak kelas 6 yang merasa ada sebagian “kesenangan berkegiatan” (baca : kesenangan belajarnya) hilang di jenjang ini? Kalau ada, bagaimana merespon kondisi ini?

A : Saya rasa, pasti ada beberapa yang merasa agak ‘dipaksa’. Sejauh ini, siswa menjalaninya dengan lancar (pastinya ada sih perasaan BT, bosen, dsb). Makanya diperlukan kerja sama yang baik antar guru kelas-siswa-orang tua bagaimana caranya menciptakan situasi yang less stress buat siswa, seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya.

T : Kalau dari pengamatanku, tidak terlalu banyak. Kalau ada siswa mulai jenuh dengan TO atau un, biasanya guru akan mencoba mengatur ulang jadwal dan kegiatan kelas. Sejauh ini kelas 6 tetap saja penuh proyek dan kegiatan, sama seperti kelas-kelas lain.

Mendampingi kelas penutup pada satu jenjang SD, SMP, atau SMA punya satu tantangan tersendiri. Selain memberikan pengajaran seperti pada kelas-kelas sebelumnya, di kelas penutup ini guru sebagai fasilitator tentu perlu memberikan pendampingan agar anak siap menghadapi Ujian Nasional secara akademis dan psikologis. Tanggung jawab tersebut membutuhkan kecerdikan dan kecermatan tertentu, supaya siswa tidak takut berlebihan dalam menghadapi ujian ‘besar’ namun juga siap menghadapi momen penting dalam proses belajarnya. Sebuah tantangan istimewa lainnya diberikan pada guru kelas 6. Selain karena SD adalah jenjang terpanjang dalam pendidikan, siswa SD akan menghadapi Ujian Nasional pertamanya. 

Semoga cerita ini dapat menginspirasi banyak teman-teman guru dan menyadarkan bahwa kita masih bisa memperjuangkan hak anak untuk dapat pendidikan yang layak di tengah sistem yang “tidak jelas” ini.